<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>arti hidup Archives - Mengenal Katolik</title>
	<atom:link href="https://mengenalkatolik.my.id/tag/arti-hidup/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mengenalkatolik.my.id/tag/arti-hidup/</link>
	<description>Berbagi pengetahuan mengenai Keimanan Katolik</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Jul 2025 03:32:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:32/h:32/q:mauto/ig:avif/dpr:2/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/07/cropped-image.png</url>
	<title>arti hidup Archives - Mengenal Katolik</title>
	<link>https://mengenalkatolik.my.id/tag/arti-hidup/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Refleksi Syukur</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/refleksi-syukur-2/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/refleksi-syukur-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yuswanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jul 2013 06:47:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[pendukung]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan Pendukung Iman Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[arti hidup]]></category>
		<category><![CDATA[suara hati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://jzzberbagi.wordpress.com/?p=468</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2013/07/life75931.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" />Perkembangan zaman yang kita hadapi saat ini sering membuat hidup kita kurang bermakna. Terkadang kita juga merasa bahwa hidup ini &#8230; </p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/refleksi-syukur-2/">Refleksi Syukur</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2013/07/life75931.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="" decoding="async" /><p style="text-align:justify;"><a href="http://jzzberbagi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/life75931.jpg"><img decoding="async" class="alignleft size-thumbnail wp-image-469" alt="life75931" src="http://jzzberbagi.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/life75931.jpg?w=150" width="150" height="129" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:580/h:500/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2013/07/life75931.jpg 580w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:259/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2013/07/life75931.jpg 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /></a>Perkembangan zaman yang kita hadapi saat ini sering membuat hidup kita kurang bermakna. Terkadang kita juga merasa bahwa hidup ini tidak ada artinya. Apa yang kita perjuangkan tak jarang dikatakan sebagai perbuatan yang sia-sia belaka. Sebuah pertanyaan yang sering kita lontarkan adalah: “apalah arti hidup ini, bila perjuanganku ternyata sia-sia belaka?”</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-468"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><b>I.  </b><b>Makna Hidup</b></p>
<p style="text-align:justify;">Pemaknaan hidup memang sering diperdebatkan orang. Tidak jarang pula, ada orang yang membandingkan hidup manusia tak ubahnya dengan binatang: “sebagaimana yang satu mati, begitu juga yang lain (Pkh 3:19).” Jelas bahwa hidup manusia berbeda dengan binatang. Manusia memiliki sejarah hidup, kehendak untuk mengasihi sesama dan tujuan kemana arah hidupnya di masa yang akan datang. Pertanyaan demi pertanyaan kerapkali banyak terlontar demi mendapatkan sebuah jawaban pasti akan kesejatian hidup manusia. Hal ini pada dasarnya membawa manusia mencapai sebuah pemaknaan baru mengenai kehidupan, dan sebuah ekspresi akan penghargaan kehidupan yang lebih mendalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Mendalamnya pemaknaan hidup tidak dapat ditemukan dalam berbagai rumusan yang diberikan kebanyakan orang. Makna hidup tidak tergantung pada keuntungan dan keberhasilan manusia. Hidup dikatakan bermakna bila manusia bisa menghayati kehidupannya sendiri. Makna hidup muncul ketika seseorang mau mengolah pengalaman hidup di dalam hatinya. Manusia memerlukan ruang dan waktu untuk menemukan pemaknaan akan hidup yang dialaminya. Semua digapai dengan cara mendengarkan dan mencermati jeritan-jeritan suara hati yang tidak tredengar oleh indera pendengaran kita semata. Manusia perlu mendengarkan suara hati yang membawanya pada penemuan makna hidup yang sesuai dengan apa yang dia impikan selama ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>II.   </b><b>Peranan Hati dalam Sudut Pandang Kisah Penciptaan</b></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kisah penciptaan, disposisi hati seseorang telah dilukiskan begitu indah. Hati manusia penuh kedamaian. Manusia menjadi rekan kerja Allah, menjadi subyek yang bebas, otonom, berdikari, dan mampu menjawab panggilan kasih Allah. Manusia masuk  ke dalam kesatuan cinta dengan PenciptaNya. Atas dasar itulah, disadari bahwa Tuhan menciptakan manusia demi sebuah kata, yakni “relasi”. Manusia dberi anugerah untuk dicintai dan mencintai tanpa mengenal keterbatasan ruang dan waktu. Disposisi hati yang seperti ini harus senantiasa  dibawa dalam hidup manusia karena hidup manusia tidak jauh dari peranan kasih yang telah diberikan Tuhan pada manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Disposisi hati yang murni kadang menjadi sebuah wacana belaka, karena manusia dewasa ini cenderung memikirkan diri sendiri daripada orang lain. Fenomena perkembangan zaman memaksa manusia memnuhii kebutuhannya sendiri dengan segala kemampuan dari dalam diri mereka. Kadang manusia lebih terkesan sebagai pemangsa manusia lain (<i>homo homini lupus) </i>daripada manusia sebagai bagian dari manusia yang lain (<i>homo homini socius)</i>. Fenomena seperti inilah yang bertentangan dengan apa yang dikehendaki Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya, manusia tidak lain adalah sosok ciptaan yang tidak sempurna. Manusia memiliki keterbatasan yang bisa disebut dengan sebuah kekurangan. Akan tetapi satu hal yang menjadi kelebihan atas ciptaan lain adalah sebuah hati yang dimiliki oleh manusia. Hati mengarahkan manusia pada penemuan kesejatian hidupnya. Manusia mempunyai sejarah hidup yang membuat manusia merasakan betapa berharganya hidup yang diberikan Tuhan selama ini.  Bukan hanya dalam zaman ini saja manusia berusaha menemukan sebuah arti kehidupan yang dijalani, tetapi sejak zaman dahulu kala manusia berusaha mencari arti kesejatian hidup. Sebut saja plato, aristoteles, dan para pemikir terkenal lainnya. Mereka berusaha menemukan arti kesejatian diri dari apa yang mereka alami. Tak jarang pengalaman pahit mereka dapatkan demi sebuah pencarian akan kesejatian hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang telah disinggung diawal tadi, manusia zaman ini terkadang pesimis dengan kehidupan yang ia jalani. Titik ini adalah titik awal menuju sebuah pemurnian hati. Manusia merasa jenuh atas kehidupan yang ia rasakan, dan ini terjadi karena ia mulai menyadari bahwa ada yang salah dalam kehidupan yang telah dijalani. Proses penyadaran ini merupakan sebuah cerminan yang diberikan Tuhan pada manusia. Manusia hendaknya mau melihat perkembangan diri yang telah ia alami dan temui selama ini. Proses penyadaran diri memang bukan proses yang mudah. Ada luka yang sangat dalam harus dialami dalam peristiwa ini. Terkadang dalam proses ini membawa manusia pada keterpurkan yang dalam yang membawa manusia lari dari kehidupan. Hal inilah yang perlu dihindari. Manusia pada dasarnya tidak hidup sendiri. Manusia diciptakan untuk hidup bersama dengan manusia yang lain. Disinilah letak peranan hati manusia yang membimbing manusia pada sebuah pemaknaan akan hidup ini. Tak lupa, Tuhan tidak berdiam diri melihat apa yang dialami oleh manusia. Tuhan selalu ada dalam perjalanan hidup manusia, malah Tuhan selalu setia mendampingi manusia untuk membantu penemuan jati diri manusia yang sesungguhnya. Tuhan hadir secara tidak langsung melalui peranan keluarga, sahabat, dan teman-teman yang ada di sekitar kita. Kesadaran akan peran serta Tuhan inilah yang menyadarkan hati manusia pada keterbukaan akan kehendak Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"> <b>III. </b><b>Syukur</b></p>
<p style="text-align:justify;">Syukur merupakan sebuah kesadaran dan kemampuan seseorang memaknai setiap peristiwa hidupnya dan melahirkan sebuah mentalitas rasa terima kasih atas apa yang sudah diterima, dialami dalam peristiwa kehidupan. Pada tahap awal, rasa syukur ini lahir karena seseorang sudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Misalnya ketika orang berdoa dan permohonannya dikabulkan, maka ia akan berterima kasih. Tahap berikutnya orang sudah bergerak dari tahap berterima kasih karena mendapatkan sesuatu berlanjut ke tahap “habit”. Tahap ini adalah tahap berterima kasih karena semua yang dialami, dimiliki, dan apapun di dalam hidup seseorang sudah  patut disyukuri. Hal ini akan membuat hidup seseorang lebih bebas dan mampu berbahagia, karena apa yang telah didapatkan sudah menjadi cukup baginya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasa syukur inilah yang mendasari hidup para santo dan santa. Mereka menjadi kudus, salahsatunya karena mereka mampu bersyukur atas peristiwa hidup mereka. Rasa syukur ini menjadi sebuah “habit”, misalnya hidup Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus. Santa ini masuk menjadi biarawati saat usia masih sangat muda. Teresia mampu memaknai hidupnya dengan sangat baik. Setiap hari ia merefleksikan hidupnya, sehingga ia sampai pada pengertian bahwa Tuhan amat mencintai hidupnya. Cinta Tuhan inilah menjadi dasar kekuatan bagi Teresia mengasihi rekan suster sekomunitasnya dengan apa adanya, kendati ia sering pula diremehkan karena umurnya yang muda. Kesadaran untuk mencintai membuatnya mampu bersyukur atas apapun yang diberikan Tuhan kepadaNya. Ia berusaha melakukan semua pekerjaan-pekerjaan yang dianggap hina dengan cinta yang besar. Ia berusaha setia atas tugas yang dipercayakan padanya. Hingga akhirnya Santa Teresia Kanak-kanak Yesus diangkat menjadi santa, karena cinta sehabis-habisnya kepada Tuhan dan mampu bersyukur atas apa yang dialaminya. Tuhanlah yang membuat ia kaya, maka tidak ada lagi yang akan merisaukan hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">       Sebuah pertanyaan akhir yang perlu dilihat secaral lebih dalam diri kita adalah: apakah aku sudah bersyukur atas hidup pengalaman hidup yang telah kujalani? Jika aku belum bersyukur, tidak ada kata terlambat untuk mengatakan: “Tuhan, aku bersyukur atas segala pengalaman yang kau berikan padaku, serta peran serta diri-Mu dalam hidupku.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;">-dari seorang sahabat-</p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/refleksi-syukur-2/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Frefleksi-syukur-2%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=Refleksi%20Syukur&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Frefleksi-syukur-2%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Refleksi%20Syukur https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Frefleksi-syukur-2%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Frefleksi-syukur-2%2F&t=Refleksi%20Syukur" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/refleksi-syukur-2/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/refleksi-syukur-2/', 'Refleksi%20Syukur', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/refleksi-syukur-2/">Refleksi Syukur</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/refleksi-syukur-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
