<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>vatikan Archives - Mengenal Katolik</title>
	<atom:link href="https://mengenalkatolik.my.id/tag/vatikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mengenalkatolik.my.id/tag/vatikan/</link>
	<description>Berbagi pengetahuan mengenai Keimanan Katolik</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Oct 2025 04:28:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:32/h:32/q:mauto/ig:avif/dpr:2/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/07/cropped-image.png</url>
	<title>vatikan Archives - Mengenal Katolik</title>
	<link>https://mengenalkatolik.my.id/tag/vatikan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tahta Suci: Diplomasi Vatikan adalah untuk kebaikan bersama, bukan kepentingan tertentu</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/holy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/holy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rakam]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2025 15:29:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[dari blog tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[maria]]></category>
		<category><![CDATA[romo]]></category>
		<category><![CDATA[Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/holy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests/</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-XHMmYX.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Holy See: Vatican diplomacy is for common good, not particular interests" decoding="async" /><!-- wp:html --></p>
<p>Archbishop Paul Richard Gallagher gives a talk on how the Holy See’s diplomacy focuses on translating hope into a “diplomatic act” and on the importance of “becoming a neighbour” to serve the common good.</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2025-10/archbishop-gallaher-vatican-diplomacy-common-good-conference.html">Read all</a></p>
<p> </p>
<p><!-- /wp:html --></p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/holy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests/">Tahta Suci: Diplomasi Vatikan adalah untuk kebaikan bersama, bukan kepentingan tertentu</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-XHMmYX.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Holy See: Vatican diplomacy is for common good, not particular interests" decoding="async" />
<p class="wp-block-paragraph">Uskup Agung Paul Richard Gallagher memberikan ceramah tentang bagaimana diplomasi Takhta Suci berfokus pada penerjemahan harapan menjadi “tindakan diplomatik” dan tentang pentingnya “menjadi tetangga” untuk melayani kebaikan bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh Edoardo Giribaldi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Menjadi tetangga” merupakan makna mendalam dari diplomasi yang melayani kepentingan umum, bukan kepentingan tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Uskup Agung Paul Richard Gallagher, Sekretaris Hubungan dengan Negara dan Organisasi Internasional, menekankan bagaimana perspektif inilah yang memandu tindakan Takhta Suci dalam hubungannya dengan negara-negara dalam pidato yang disampaikan pada hari Senin, 13 Oktober, sebagai bagian dari konferensi “Menjadi tetangga dalam harapan: kesaksian agama dan diplomasi amal politik”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diselenggarakan oleh Asosiasi Kepausan, &#8220;Carità Politica&#8221; (&#8220;Amal Politik&#8221;), acara tersebut berlangsung di Istana San Callisto, dekat Vatikan. &#8220;Agama dan Diplomasi&#8221; adalah sebuah badan yang dibentuk tiga puluh tahun lalu untuk mempromosikan, mengoordinasikan, dan memperkuat dialog antaragama, khususnya melalui kerja sama dengan berbagai duta besar untuk Takhta Suci.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan dalam situasi yang paling “terkristalisasi” sekalipun, diplomasi kepausan menolak untuk menyerah dan mengadopsi pendekatan ganda—menangani krisis yang mendesak sekaligus membangun visi jangka panjang yang melampaui “siklus elektoral”, jelas Uskup Agung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini bukan kemewahan, melainkan kebutuhan strategis, yang juga mengandung risiko. Mempertahankan hubungan dengan sebagian besar negara di dunia, pada kenyataannya, dapat menimbulkan persepsi bahwa Takhta Suci &#8220;terlalu akomodatif terhadap rezim otoriter,&#8221; tetapi kehadiran diplomatik tetap menjadi &#8220;satu-satunya cara untuk memengaruhi sistem yang sulit dijangkau,&#8221; lanjutnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Menerjemahkan harapan menjadi &#8220;tindakan diplomatik&#8221;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Uskup Agung Gallagher, kedekatan merupakan inti dari diplomasi. &#8220;Ketika Paus menerima surat kepercayaan seorang duta besar,&#8221; ujarnya, &#8220;kita mewujudkan prinsip yang melampaui sekadar protokol.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diplomasi Takhta Suci didasarkan pada &#8220;netralitas aktif,&#8221; jelas Sekretaris Hubungan dengan Negara-Negara, yang tidak berarti ketidakpedulian tetapi komitmen terhadap stabilitas manusia dan &#8220;kebaikan bersama,&#8221; melampaui &#8220;kepentingan tertentu&#8221;, blok geopolitik, dan kerangka ideologis—&#8221;yang semakin sulit diidentifikasi saat ini.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perumpamaan Injil tentang Orang Samaria yang Baik Hati dengan demikian menjadi teladan untuk bertindak, karena berarti &#8220;mengambil tanggung jawab yang konkret dan berkelanjutan bagi orang yang terluka&#8221;, tegas Uskup Agung Gallagher. Beliau menyebutkan beberapa contoh bagaimana hal ini telah tercermin dalam diplomasi kepausan, seperti peran Takhta Suci dalam pemulihan hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba, proses perdamaian di Kolombia, atau pembangunan hubungan yang sabar dengan Vietnam dan Tiongkok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap intervensi Takhta Suci bertujuan untuk memajukan kebaikan bersama dan menerjemahkan harapan menjadi &#8220;tindakan diplomatik yang konkret&#8221;, tegas Uskup Agung. Bukan sekadar &#8220;optimisme naif&#8221;, melainkan tindakan yang didasarkan &#8220;pada penilaian risiko&#8221;, yang menolak &#8220;kepasrahan&#8221; dan asumsi bahwa tidak ada ruang untuk dialog atau perubahan, bahkan dalam situasi yang paling &#8220;terkristalisasi&#8221;.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Urgensi dan visi jangka panjang</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Diplomasi Vatikan beroperasi pada dua tingkat temporal: di satu sisi, ia merespons keadaan darurat langsung—krisis, konflik, situasi kemanusiaan—dan di sisi lain, ia mempertahankan visi jangka panjang, yang tidak terikat oleh siklus elektoral. &#8220;Ini bukan kemewahan, melainkan kebutuhan strategis&#8221;, karena tanpa harapan yang lebih luas, solusi tetap rapuh, tegas Sekretaris tersebut. Merujuk pada konflik dan ketegangan yang sedang berlangsung dalam lanskap geopolitik, beliau mengakui kesulitan mediasi dan kompleksitas &#8220;stabilisasi global&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Uskup Agung Gallagher juga menggarisbawahi tantangan perkembangan teknologi yang pesat dan krisis ekologi, yang membutuhkan &#8220;kerangka kerja sama baru&#8221; yang tidak dapat diciptakan oleh satu negara saja, tetapi seringkali sulit diimplementasikan. Isu-isu ini, ujarnya, dapat menjadi &#8220;katalisator&#8221; bagi multilateralisme, tetapi tidak selalu demikian.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dialog, mendengarkan, dan biaya moral</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menjalin hubungan dengan sebagian besar negara di dunia terkadang berisiko dianggap &#8220;terlalu akomodatif terhadap rezim otoriter&#8221;, ujar Menteri Hubungan Luar Negeri. Namun, kehadiran diplomatik adalah &#8220;satu-satunya cara&#8221; untuk memengaruhi sistem yang jika tidak demikian akan &#8220;sulit dijangkau&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Otoritas moral Takhta Suci—yang berasal dari ketiadaan kepentingan material—memungkinkannya untuk mengingat pentingnya prinsip-prinsip etika &#8220;bahkan ketika terasa tidak nyaman&#8221;, tegas Uskup Agung Gallagher. Namun, mendengarkan &#8220;tidak selalu terjamin&#8221;, karena permohonan bisa saja tidak didengar, terutama ketika berbenturan dengan &#8220;kepentingan geopolitik langsung&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan diplomatik juga dapat menimbulkan &#8220;biaya moral yang tinggi&#8221;, lanjutnya, seraya menambahkan bahwa hal ini jarang sekali merupakan masalah memilih antara &#8220;kebaikan mutlak dan kejahatan mutlak&#8221;. Dalam hal ini, netralitas dapat dipandang sebagai hambatan ketika keadaan mungkin menuntut &#8220;sikap yang lebih kuat&#8221;, tetapi keyakinan bahwa menjaga saluran tetap terbuka pada akhirnya dapat mengarah pada &#8220;intervensi yang lebih efektif daripada kecaman publik&#8221; tetap menjadi inti, ujar Uskup Agung Gallagher.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Migrasi, perdamaian, dan multilateralisme</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara topik yang dibahas, Menteri Hubungan Luar Negeri juga berbicara tentang migrasi, dan mengatakan bahwa isu ini harus didekati dengan “perspektif integral” yang mampu menganalisis akar permasalahan dan mengubah keadaan darurat menjadi peluang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait konflik bersenjata dan “perang dunia ketiga yang diperjuangkan secara parsial”, yang sering disebutkan oleh Paus Fransiskus, Uskup Agung menyerukan pengembangan “teologi perdamaian” yang melampaui sekadar ketiadaan perang dan berfokus pada pembangunan hubungan yang adil di antara masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menteri Hubungan Luar Negeri menekankan bagaimana dialog antaragama tetap menjadi area kunci bagi diplomasi kepausan, seperti halnya promosi multilateralisme—bukan sebagai ideologi, melainkan sebagai sebuah keyakinan: “Tantangan global, mulai dari pandemi hingga krisis iklim, tidak dapat dihadapi sendirian.”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ini adalah terjemahan kerja dari artikel asli berbahasa Italia.</em></p>



<p>Artikel Asli:</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2025-10/archbishop-gallaher-vatican-diplomacy-common-good-conference.html">vaticannews.va</a></p>
<p> </p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/holy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fholy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=Tahta%20Suci%3A%20Diplomasi%20Vatikan%20adalah%20untuk%20kebaikan%20bersama%2C%20bukan%20kepentingan%20tertentu&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fholy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Tahta%20Suci%3A%20Diplomasi%20Vatikan%20adalah%20untuk%20kebaikan%20bersama%2C%20bukan%20kepentingan%20tertentu https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fholy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fholy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests%2F&t=Tahta%20Suci%3A%20Diplomasi%20Vatikan%20adalah%20untuk%20kebaikan%20bersama%2C%20bukan%20kepentingan%20tertentu" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/holy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/holy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests/', 'Tahta%20Suci%3A%20Diplomasi%20Vatikan%20adalah%20untuk%20kebaikan%20bersama%2C%20bukan%20kepentingan%20tertentu', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/holy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests/">Tahta Suci: Diplomasi Vatikan adalah untuk kebaikan bersama, bukan kepentingan tertentu</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/holy-see-vatican-diplomacy-is-for-common-good-not-particular-interests/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan hadir di mana pun orang-orang menderita</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/aid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/aid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rakam]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2025 10:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[dari blog tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[bapa suci]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[kristus]]></category>
		<category><![CDATA[romo]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/aid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer/</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-U20xpx.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Aid to the Church in Need present wherever people suffer" decoding="async" /><!-- wp:html --></p>
<p>The Pontifical Foundation Aid to the Church in Need (ACN) is launching new initiatives to support persecuted Christians and victims of war. </p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/church/news/2025-10/aid-church-need-initiatives-support-persecuted-christians-war.html">Read all</a></p>
<p> </p>
<p><!-- /wp:html --></p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/aid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer/">Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan hadir di mana pun orang-orang menderita</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-U20xpx.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Aid to the Church in Need present wherever people suffer" decoding="async" loading="lazy" />
<p class="wp-block-paragraph">Yayasan Kepausan Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan (ACN) meluncurkan inisiatif baru untuk mendukung umat Kristen yang teraniaya dan korban perang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh Pdt. Paweł Rytel-Andrianik dan Karol Darmoros&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Cabang Polandia dari Yayasan Kepausan&nbsp; <em>Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan</em> &nbsp;saat ini sedang mengembangkan proyek kemanusiaan di Suriah, Lebanon, Nigeria, Republik Demokratik Kongo, Tanah Suci, dan Ukraina.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbicara kepada <em>Vatican News</em> , direkturnya, Romo Prof. Jan Witold Żelazny, menguraikan rincian upaya dan komitmen berkelanjutan Yayasan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Harapan menjadi nyata</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Aid to the Church in Need</em> melanjutkan misinya untuk memberikan bantuan di mana pun orang-orang menderita akibat perang dan penganiayaan. &#8220;Kami ingin hadir di tempat-tempat di mana<br><em>Aid to the Church in Need</em> telah berkarya. Kami tidak bisa meninggalkan orang-orang ini tanpa dukungan sekarang,&#8221; kata Romo Żelazny</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa minggu mendatang, perwakilan Yayasan berencana mengunjungi Suriah dan Lebanon, tempat ACN telah membangun kembali komunitas Kristen selama bertahun-tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tanggal 10 Oktober, perwakilan <em>Aid to the Church in Need</em> &nbsp;bertemu di Vatikan dengan Paus Leo XIV, yang menerima laporannya tentang kebebasan beragama dan menyampaikan rasa terima kasihnya atas komitmen organisasi tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bapa Suci meyakinkan bahwa Gereja berdiri di sisi umat beriman yang teraniaya. Beliau juga menekankan bahwa &#8220;kebebasan beragama bukan sekadar hak atau privilese; kebebasan beragama adalah fondasi yang memungkinkan rekonsiliasi sejati.&#8221;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Proyek di pinggiran</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara inisiatif-inisiatif <em>Aid to the Church in Need</em> saat ini terdapat proyek-proyek di Republik Demokratik Kongo dan Nigeria. &#8220;Di sanalah orang-orang menderita akibat kekerasan dan perebutan sumber daya alam, sebuah kutukan sekaligus berkat bagi negeri itu. Hal ini juga berkaitan dengan proyek-proyek bantuan kami untuk Nigeria. Hari Solidaritas kami di Polandia akan didedikasikan khusus untuk Nigeria,&#8221; umum Romo Żelazny.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara mereka yang diharapkan datang ke Polandia adalah Uskup John Bakeni, salah satu pendeta yang menghadapi ancaman kematian karena imannya kepada Kristus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Organisasi ini juga hadir di Betlehem, tempat para relawannya membantu Suster St. Elizabeth dalam merawat anak-anak yang trauma akibat perang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Tanpa bantuan ini, agama Kristen di Timur Tengah akan hancur,” aku direktur bagian Polandia dari <em>Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan</em> .</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bantuan juga mencapai Ukraina — terutama Odessa dan daerah sekitarnya — meskipun masih ada bahaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dalam kegiatan-kegiatan kami, kami mengamalkan ajaran Gereja, termasuk seruan <em>Dilexi te</em> yang baru-baru ini diterbitkan , tentang kasih kepada kaum miskin,” kata Romo Żelazny.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Siapa yang harus didukung?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Yayasan ini juga menjalankan proyek di Polandia, membantu biara-biara terpencil yang kehilangan propertinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami terus mengirimkan sumbangan per kapita dan mendukung biara-biara yang tidak memiliki sumber penghidupan (…) Para suster mengatakan kepada kami bahwa ini adalah bantuan yang sangat penting dan nyata,” kata Romo Żelazny.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepala bagian Polandia dari <em>Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan</em> memastikan bahwa setiap sumbangan dibelanjakan dengan sungguh-sungguh dan transparan. Yayasan Kepausan di Polandia juga mendukung pembinaan para klerus dari Afrika dan Asia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Kamerun, seorang uskup berkata kepada saya: &#8216;Romo, kalau Bapak memberi saya 600 euro lagi, saya bisa menerima satu seminaris lagi.&#8217; Kita mengeluh tentang kurangnya panggilan, sementara ia mengatakan kepada saya bahwa jumlah calon yang bisa ia terima di seminari bergantung pada dukungan yang kita berikan. Ini menunjukkan betapa pentingnya pembinaan imamat, baik di tingkat lokal maupun di sini,&#8221; tegas Romo Żelazny.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pesan yang menyerukan tindakan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pertemuan Vatikan, Paus mengingatkan bahwa karya <em>Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan</em> lahir dari pengalaman Perang Dunia Kedua. Karya ini menawarkan bantuan untuk &#8220;menyembuhkan luka dan mengulurkan tangan dalam damai. Justru dari sikap inilah misi kami lahir — Yayasan Pengampunan — sebuah kasih yang tidak hanya membantu di masa kemiskinan, tetapi juga mengajarkan pengampunan,&#8221; pungkas Romo Żelazny.</p>



<p>Artikel Asli:</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/church/news/2025-10/aid-church-need-initiatives-support-persecuted-christians-war.html">vaticannews.va</a></p>
<p> </p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/aid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Faid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=Bantuan%20untuk%20Gereja%20yang%20Membutuhkan%20hadir%20di%20mana%20pun%20orang-orang%20menderita&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Faid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Bantuan%20untuk%20Gereja%20yang%20Membutuhkan%20hadir%20di%20mana%20pun%20orang-orang%20menderita https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Faid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Faid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer%2F&t=Bantuan%20untuk%20Gereja%20yang%20Membutuhkan%20hadir%20di%20mana%20pun%20orang-orang%20menderita" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/aid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/aid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer/', 'Bantuan%20untuk%20Gereja%20yang%20Membutuhkan%20hadir%20di%20mana%20pun%20orang-orang%20menderita', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/aid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer/">Bantuan untuk Gereja yang Membutuhkan hadir di mana pun orang-orang menderita</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/aid-to-the-church-in-need-present-wherever-people-suffer/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Paus Leo bertemu dengan Presiden Brasil Lula da Silva</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/pope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/pope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rakam]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2025 13:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[dari blog tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[misa]]></category>
		<category><![CDATA[roma]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/pope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva/</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-h1mxGE.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Pope Leo meets with Brazilian President Lula da Silva" decoding="async" loading="lazy" /><!-- wp:html --></p>
<p>Pope Leo XIV meets Brazilian President Luiz Inácio Lula da Silva and his wife in a private audience in the Vatican.</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2025-10/pope-leo-xiv-meets-brazilian-president-lula-in-private-audience.html">Read all</a></p>
<p> </p>
<p><!-- /wp:html --></p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/pope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva/">Paus Leo bertemu dengan Presiden Brasil Lula da Silva</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-h1mxGE.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Pope Leo meets with Brazilian President Lula da Silva" decoding="async" loading="lazy" />
<p class="wp-block-paragraph">Paus Leo XIV bertemu dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan istrinya dalam audiensi pribadi di Vatikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh Vatican News&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Paus Leo XIV bertemu dengan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Vatikan pada hari Senin, 13 Oktober. Dalam kunjungan pribadi tersebut, sang kepala negara didampingi oleh istrinya, Ibu Negara, Janja Lula da Silva.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sebuah unggahan di X, Presiden Lula da Silva menjelaskan bahwa percakapan tersebut berfokus pada agama, iman, Brasil, dan tantangan yang dihadapi dunia saat ini. Ia juga mengucapkan selamat kepada Paus atas Anjuran Apostoliknya, <em><a href="https://translate.google.com/website?sl=auto&amp;tl=en&amp;hl=en&amp;client=webapp&amp;u=https://www.vatican.va/content/leo-xiv/en/apost_exhortations/documents/20251004-dilexi-te.html">Dilexi Te</a></em> , dan pesannya bahwa &#8220;kita tidak dapat memisahkan iman dari kasih kepada mereka yang termiskin&#8221;.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Undangan untuk mengunjungi Brasil</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden juga menulis bahwa dalam pertemuan tersebut, ia mengundang Paus Leo untuk menghadiri COP30, Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim, yang akan berlangsung pada bulan November di Belém, di Amazon Brasil. Paus Leo XIV tidak akan dapat hadir, tetapi, Presiden Lula da Silva menegaskan, Vatikan akan tetap diwakili. Presiden menambahkan bahwa ia tetap mengundang Paus Leo untuk mengunjungi Brasil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden Lula da Silva berada di Roma untuk berpartisipasi dalam Forum Pangan Dunia di Roma, yang diselenggarakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).</p>



<p>Artikel Asli:</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2025-10/pope-leo-xiv-meets-brazilian-president-lula-in-private-audience.html">vaticannews.va</a></p>
<p> </p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/pope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=Paus%20Leo%20bertemu%20dengan%20Presiden%20Brasil%20Lula%20da%20Silva&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Paus%20Leo%20bertemu%20dengan%20Presiden%20Brasil%20Lula%20da%20Silva https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva%2F&t=Paus%20Leo%20bertemu%20dengan%20Presiden%20Brasil%20Lula%20da%20Silva" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/pope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/pope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva/', 'Paus%20Leo%20bertemu%20dengan%20Presiden%20Brasil%20Lula%20da%20Silva', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/pope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva/">Paus Leo bertemu dengan Presiden Brasil Lula da Silva</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/pope-leo-meets-with-brazilian-president-lula-da-silva/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lima hakim ditunjuk untuk Pengadilan DDF dalam kasus Rupnik</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/five-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/five-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rakam]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2025 13:36:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[dari blog tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[roma]]></category>
		<category><![CDATA[romo]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/five-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case/</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-pOPgMA.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Five judges appointed to DDF Tribunal for Rupnik case" decoding="async" loading="lazy" /><!-- wp:html --></p>
<p>A statement released by the Dictastery for the Doctrine of the Faith announces that women and clerics from outside the former Holy Office and Roman Curia will serve on the panel judging the former Jesuit Fr. Marko Rupnik, accused of abuse by several religious sisters.</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2025-10/doctrine-of-faith-five-judges-appointed-tribunal-for-rupnik-case.html">Read all</a></p>
<p> </p>
<p><!-- /wp:html --></p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/five-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case/">Lima hakim ditunjuk untuk Pengadilan DDF dalam kasus Rupnik</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-pOPgMA.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Five judges appointed to DDF Tribunal for Rupnik case" decoding="async" loading="lazy" />
<p class="wp-block-paragraph">Sebuah pernyataan yang dirilis oleh Diktator Doktrin Iman mengumumkan bahwa perempuan dan ulama dari luar bekas Kantor Suci dan Kuria Romawi akan bertugas di panel yang mengadili mantan Romo Jesuit Marko Rupnik, yang dituduh melakukan pelecehan oleh beberapa suster religius.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh Vatican News</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Vatikan telah mengumumkan penunjukan lima hakim untuk mengawasi persidangan kanonik mantan pendeta Jesuit dan seniman terkenal, Romo Marko Ivan Rupnik, yang telah dituduh oleh beberapa wanita dewasa yang telah ditahbiskan melakukan pelecehan psikologis dan seksual.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Senin, Departemen Ajaran Iman menyatakan bahwa para hakim ditunjuk pada 9 Oktober 2025. Pengadilan ini akan bertanggung jawab untuk memeriksa tuduhan serius terhadap Romo Rupnik, yang dipecat dari Serikat Yesus pada Juni 2023 setelah menerima berbagai tuduhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut pernyataan tersebut, panel peradilan tersebut terdiri atas perempuan dan ulama yang <em>bukan</em> anggota Dikasteri untuk Doktrin Iman, dan mereka juga tidak memegang jabatan apa pun dalam Kuria Roma.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Keputusan ini,” tegas pernyataan tersebut, “dimaksudkan untuk lebih menjamin otonomi dan independensi pengadilan, sebagaimana diperlukan dalam proses peradilan apa pun.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Almarhum Paus Fransiskus telah mempercayakan kasus tersebut kepada Doktrin Iman pada tanggal 27 Oktober 2023, memilih untuk mencabut undang-undang pembatasan untuk memungkinkan persidangan penuh dilanjutkan.</p>



<p>Artikel Asli:</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2025-10/doctrine-of-faith-five-judges-appointed-tribunal-for-rupnik-case.html">vaticannews.va</a></p>
<p> </p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/five-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Ffive-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=Lima%20hakim%20ditunjuk%20untuk%20Pengadilan%20DDF%20dalam%20kasus%20Rupnik&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Ffive-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Lima%20hakim%20ditunjuk%20untuk%20Pengadilan%20DDF%20dalam%20kasus%20Rupnik https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Ffive-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Ffive-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case%2F&t=Lima%20hakim%20ditunjuk%20untuk%20Pengadilan%20DDF%20dalam%20kasus%20Rupnik" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/five-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/five-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case/', 'Lima%20hakim%20ditunjuk%20untuk%20Pengadilan%20DDF%20dalam%20kasus%20Rupnik', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/five-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case/">Lima hakim ditunjuk untuk Pengadilan DDF dalam kasus Rupnik</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/five-judges-appointed-to-ddf-tribunal-for-rupnik-case/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Paus: Diplomasi Vatikan adalah cara untuk membiarkan Kristus bersinar dalam kerendahan hati</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/pope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/pope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rakam]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2025 11:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[dari blog tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[gembala]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[maria]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/pope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility/</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-0kNEbZ.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Pope: Vatican diplomacy a way to let Christ shine forth in humility" decoding="async" loading="lazy" /><!-- wp:html --></p>
<p>Pope Leo XIV reflects on the legacy of Cardinal Rafael Merry del Val, and says the Vatican diplomat served the Popes of the early 20th century in delicate matters with humility.</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2025-10/pope-leo-xiv-holy-see-diplomats-cardinal-merry-del-val.html">Read all</a></p>
<p> </p>
<p><!-- /wp:html --></p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/pope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility/">Paus: Diplomasi Vatikan adalah cara untuk membiarkan Kristus bersinar dalam kerendahan hati</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-0kNEbZ.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Pope: Vatican diplomacy a way to let Christ shine forth in humility" decoding="async" loading="lazy" />
<p class="wp-block-paragraph">Paus Leo XIV merenungkan warisan Kardinal Rafael Merry del Val, dan mengatakan diplomat Vatikan itu melayani para Paus di awal abad ke-20 dalam hal-hal yang rumit dengan kerendahan hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh Devin Watkins</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada peringatan 160 tahun kelahiran Hamba Tuhan Rafael Merry del Val, Paus Leo XIV bertemu dengan sekelompok orang yang terkait dengan mendiang Kardinal, yang lahir pada tahun 1865 di London.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paus merenungkan panjang lebar misi dan warisan Kardinal Merry del Val, menyebutnya sebagai “instrumen yang patuh dalam pelayanan diplomatik Takhta Suci selama masa yang ditandai dengan tantangan besar.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Calon Kardinal itu lahir dari ayah seorang diplomat Spanyol dan ibu seorang Inggris, tumbuh dalam suasana universalitas, yang kemudian ia kenali sebagai panggilan Gereja sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paus Leo XIII mengirimnya ke Kanada sebagai Delegasi Apostolik untuk memajukan pendidikan Katolik, dan ia belajar di Akademi Gerejawi Kepausan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dia kemudian memimpin Akademi, yang saat ini merayakan hari jadinya yang ke-325.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Di sana, beliau memahami—dan menyampaikan melalui teladannya—bahwa diplomasi Gereja akan berkembang pesat jika dijalankan dengan kesetiaan imamat, dengan hati yang mempersembahkan bakatnya kepada Kristus dan kepada misi yang dipercayakan kepada Penerus Petrus,” ujar Paus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada usia muda 38 tahun, Paus St. Pius X mengangkatnya sebagai Kardinal dan mengangkatnya sebagai Sekretaris Negara Vatikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apa yang terjadi selanjutnya,” kata Paus, “adalah perjalanan kesetiaan, kebijaksanaan, dan dedikasi yang menjadikannya salah satu tokoh paling penting dalam diplomasi kepausan abad ke-20.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan sebagai Menteri Luar Negeri, Kardinal Merry del Val bekerja dengan anak-anak dan kaum muda di distrik Trastevere, Roma, dan dikenal sebagai seorang ayah dan sahabat bagi mereka yang ia katekisasi dan dampingi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paus Leo XIV kemudian merenungkan <em>Litani Kerendahan Hati</em> Kardinal Merry del Val , yang seruannya katanya menguraikan model bagi para diplomat Tahta Suci.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Dari keinginan untuk dipuji… bebaskanlah aku, Yesus! Dari keinginan untuk dimintai pendapat… bebaskanlah aku, Yesus! Dari rasa takut untuk dihina… bebaskanlah aku, Yesus! Dari keinginan untuk diterima… bebaskanlah aku, Yesus!</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Paus memuji ungkapan keinginan untuk mengutamakan pelayanan kepada Gereja di atas kemajuan pribadi, dan mengatakan bahwa Kardinal tahu bagaimana untuk mundur setelah mandatnya sebagai Menteri Negara, untuk mengutamakan pelayanan kepada Petrus, di atas semua kepentingan pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Seseorang yang melayani Gereja tidak mencari kemenangan dalam suaranya sendiri, melainkan kebenaran Kristus yang berbicara,&#8221; katanya. &#8220;Dan dalam penyangkalan itu, ia menemukan kebebasan sebagai hamba sejati.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paus Leo melanjutkan dengan mengingat dua frasa pendek yang menjadi ciri kehidupan Kardinal Merry del Val.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia hanya memiliki semboyan episkopalnya—“Berikan padaku jiwa-jiwa; ambillah istirahat”—yang tertulis di makamnya, yang terletak di ruang bawah tanah Basilika Santo Petrus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Di balik kubah yang menaungi kenangan akan Rasul, ia berharap namanya diringkas menjadi permohonan sederhana itu,&#8221; kata Paus. &#8220;Tak ada penghargaan, tak ada gelar, tak ada biografi—hanya jeritan hati seorang gembala.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Litani</em> Kardinal diakhiri dengan frasa, “Agar orang lain menjadi lebih suci daripada aku, asalkan aku menjadi sesuci yang seharusnya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kardinal Merry del Val tahu, simpul Paus Leo XIV, bahwa kesucian tidak diukur melalui perbandingan tetapi melalui persekutuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga Perawan Maria, yang dicintai Rafael Merry del Val dengan bakti bakti yang lembut, mengajar keluarga kita, para diplomat Takhta Suci, dan semua yang melayani Gereja, untuk menyatukan kebenaran dan kasih, kehati-hatian dan keberanian, pelayanan dan kerendahan hati, sehingga dalam segala hal hanya Kristus yang dapat bersinar.</p>



<p>Artikel Asli:</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2025-10/pope-leo-xiv-holy-see-diplomats-cardinal-merry-del-val.html">vaticannews.va</a></p>
<p> </p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/pope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=Paus%3A%20Diplomasi%20Vatikan%20adalah%20cara%20untuk%20membiarkan%20Kristus%20bersinar%20dalam%20kerendahan%20hati&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Paus%3A%20Diplomasi%20Vatikan%20adalah%20cara%20untuk%20membiarkan%20Kristus%20bersinar%20dalam%20kerendahan%20hati https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility%2F&t=Paus%3A%20Diplomasi%20Vatikan%20adalah%20cara%20untuk%20membiarkan%20Kristus%20bersinar%20dalam%20kerendahan%20hati" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/pope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/pope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility/', 'Paus%3A%20Diplomasi%20Vatikan%20adalah%20cara%20untuk%20membiarkan%20Kristus%20bersinar%20dalam%20kerendahan%20hati', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/pope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility/">Paus: Diplomasi Vatikan adalah cara untuk membiarkan Kristus bersinar dalam kerendahan hati</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/pope-vatican-diplomacy-a-way-to-let-christ-shine-forth-in-humility/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengangkatan Maria ke Surga: Rahasia Ilahi yang Menginspirasi Iman Kita</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/pengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/pengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yuswanto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2025 13:42:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Evangelisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Katekese]]></category>
		<category><![CDATA[Pengajaran Iman Katolik]]></category>
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[bertanya]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[gembala]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[gereja katolik]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[iman katolik]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[kitab suci]]></category>
		<category><![CDATA[kristen]]></category>
		<category><![CDATA[maria]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa]]></category>
		<category><![CDATA[misa]]></category>
		<category><![CDATA[nubuat]]></category>
		<category><![CDATA[roma]]></category>
		<category><![CDATA[setan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/?p=4231</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:1024/h:1024/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg 1024w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:300/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg 300w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg 150w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:768/h:768/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 150px) 100vw, 150px" />Dogma tentang Pengangkatan Maria ke Surga adalah salah satu ajaran indah dalam Gereja Katolik yang sering membuat orang bertanya-tanya. Dalam &#8230; </p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/pengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita/">Pengangkatan Maria ke Surga: Rahasia Ilahi yang Menginspirasi Iman Kita</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:1024/h:1024/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg 1024w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:300/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg 300w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg 150w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:768/h:768/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/10/Gemini_Generated_Image_3mp3v63mp3v63mp3.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 150px) 100vw, 150px" />
<p class="wp-block-paragraph">Dogma tentang Pengangkatan Maria ke Surga adalah salah satu ajaran indah dalam Gereja Katolik yang sering membuat orang bertanya-tanya. Dalam uraian ini, saya akan jelaskan secara sederhana, langkah demi langkah, apa itu dogma ini, dasar-dasarnya dari Alkitab, dan dokumen resmi Gereja Katolik. Saya usahakan bahasanya mudah dipahami, seperti kita sedang ngobrol di kelas. Total uraian ini sekitar 3000 kata, jadi saya bagi menjadi bagian-bagian agar tidak membosankan. Mari kita mulai!</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pendahuluan: Apa Itu Dogma Pengangkatan Maria?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangkan Anda punya seorang ibu yang sangat spesial, yang selalu setia dan penuh kasih. Dalam iman Katolik, Maria adalah Ibu Yesus, dan Gereja mengajarkan bahwa setelah hidupnya di dunia selesai, Maria diangkat tubuh dan jiwanya ke surga. Ini disebut &#8220;Pengangkatan Maria&#8221; atau dalam bahasa Inggris &#8220;Assumption of Mary&#8221;. Bukan berarti Maria naik sendiri ke surga seperti Yesus yang naik dengan kuasa-Nya sendiri (Itu disebut Kenaikan Yesus). Pengangkatan Maria berarti Tuhan yang mengangkatnya, sebagai hadiah khusus karena perannya sebagai Ibu Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dogma ini resmi dideklarasikan oleh Paus Pius XII pada 1 November 1950. Sebelum itu, sudah diyakini selama berabad-abad oleh umat Kristen, baik di Timur maupun Barat. Kenapa baru dideklarasikan tahun 1950? Karena Gereja ingin menegaskan ajaran ini di tengah dunia modern yang penuh keraguan. Dogma berarti ajaran yang wajib diimani oleh umat Katolik, karena itu adalah kebenaran yang diwahyukan Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa ini penting? Pengangkatan Maria mengingatkan kita bahwa tubuh manusia itu suci, dan surga adalah tujuan akhir kita. Maria adalah teladan bagaimana hidup suci bisa membawa kita lebih dekat ke Tuhan. Sekarang, mari kita lihat dasar-dasarnya dari Alkitab, karena banyak orang bertanya, &#8220;Di mana ini disebutkan dalam Kitab Suci?&#8221;</p>



<h3 class="wp-block-heading">Dasar Biblis untuk Pengangkatan Maria</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Alkitab tidak menceritakan secara langsung tentang Pengangkatan Maria, seperti tidak ada ayat yang bilang, &#8220;Maria diangkat ke surga pada tanggal sekian.&#8221; Tapi, Gereja Katolik membaca Alkitab secara holistik, artinya melihat keseluruhan cerita Tuhan, bukan hanya satu ayat. Dasar biblisnya berupa &#8220;tipologi&#8221; atau bayangan dari Perjanjian Lama yang terpenuhi di Perjanjian Baru, serta ayat-ayat yang menunjukkan peran unik Maria.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, mari kita lihat dari Perjanjian Lama. Ada cerita tentang orang-orang saleh yang diangkat ke surga tanpa mengalami kematian biasa. Misalnya, Henokh di Kejadian 5:24: &#8220;Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diambil oleh Allah.&#8221; Begitu juga Elia di 2 Raja-raja 2:11: &#8220;Sedang mereka berjalan terus sambil bercakap-cakap, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.&#8221; Ini menunjukkan bahwa Tuhan bisa mengangkat orang suci ke surga dengan tubuhnya. Jika Tuhan bisa lakukan itu untuk Henokh dan Elia, mengapa tidak untuk Maria, yang lebih suci sebagai Ibu Yesus?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya, Kejadian 3:15 sering disebut &#8220;Protoevangelium&#8221; atau Kabar Baik Pertama. Di sini, Tuhan berkata kepada ular (simbol setan): &#8220;Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.&#8221; Gereja melihat &#8220;perempuan&#8221; ini sebagai Maria, yang bersama Yesus mengalahkan dosa. Karena Maria bebas dari dosa asal (Immaculate Conception), dia tidak terikat oleh hukum kematian dan pembusukan tubuh seperti manusia biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Perjanjian Baru, Lukas 1:28 adalah salam Malaikat Gabriel: &#8220;Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.&#8221; Kata &#8220;dikaruniai&#8221; (kecharitomene dalam Yunani) berarti Maria penuh rahmat, bebas dari dosa sejak awal. Ini menunjukkan Maria punya tempat khusus, sehingga tubuhnya tidak layak membusuk di kubur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ayat paling kuat adalah Wahyu 12:1-6: &#8220;Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: seorang perempuan yang berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan… Perempuan itu melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan segala bangsa dengan gada besi… Perempuan itu melarikan diri ke padang gurun, ke tempat yang telah disediakan baginya oleh Allah.&#8221; Gereja melihat perempuan ini sebagai Maria, yang diangkat ke tempat aman di surga setelah melahirkan Yesus. Matahari, bulan, dan bintang melambangkan kemuliaan ilahi. Paus Pius XII dalam dokumennya merujuk ini sebagai dasar biblis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, ada tipologi Bahtera Perjanjian. Dalam Keluaran 25, Bahtera adalah tempat suci yang menyimpan Firman Tuhan (loha-loha batu). Maria adalah &#8220;Bahtera Baru&#8221; karena dia menyimpan Yesus, Firman yang menjadi daging (Yohanes 1:14). Bahtera Lama tidak pernah rusak atau hilang; begitu juga Maria diangkat utuh ke surga. Mazmur 132:8 bilang, &#8220;Bangunlah, ya TUHAN, pergi ke tempat perhentian-Mu, Engkau dengan tabut kekuatan-Mu!&#8221; Ini dilihat sebagai nubuat tentang Maria naik ke surga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa kritikus bilang Alkitab diam tentang kematian Maria, tapi justru itu bukti. Tidak ada catatan kubur Maria seperti para rasul lain, dan tradisi kuno bilang tubuhnya hilang dari kubur. Ini sesuai Yohanes 3:13 yang bilang &#8220;Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.&#8221; Tapi ini bicara tentang Yesus; bukan menolak pengangkatan orang lain oleh Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara keseluruhan, dasar biblis bukan bukti langsung, tapi inferensi theologis: Maria, sebagai Ibu Allah, bebas dosa, dan united dengan Yesus, layak diangkat ke surga. Ini seperti puzzle; ayat-ayat saling melengkapi.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Tradisi Gereja dan Pendapat Para Bapa Gereja</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Gereja Katolik tidak hanya bergantung pada Alkitab saja, tapi juga Tradisi Suci (apa yang diajarkan rasul secara lisan) dan Magisterium (pengajaran resmi Gereja). Pengangkatan Maria sudah diyakini sejak abad ke-5 atau lebih awal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Gereja Timur, ada pesta &#8220;Dormitio Mariae&#8221; atau &#8220;Tidur Maria&#8221; sejak abad ke-6, yang merayakan Maria &#8220;tidur&#8221; (meninggal) lalu diangkat ke surga. Di Barat, pesta Assumption mulai abad ke-7. Tidak ada kota yang klaim punya relik tubuh Maria, berbeda dengan para santo lain. Ini bukti historis bahwa tubuhnya tidak ada di bumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para Bapa Gereja seperti St. Yohanes Damaskus (abad ke-8) bilang: &#8220;Sudah selayaknya dia yang menjaga keperawanannya saat melahirkan, menjaga tubuhnya bebas dari kerusakan setelah kematian.&#8221; St. Germanus dari Konstantinopel bilang Maria diangkat karena dia adalah Ibu Allah. St. Thomas Aquinas di abad ke-13 setuju, bilang itu sesuai akal sehat theologis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsili Efesus tahun 431 mendeklarasikan Maria sebagai &#8220;Theotokos&#8221; atau Pembawa Allah, yang memperkuat peran uniknya. Ini jadi dasar mengapa Maria layak dapat hak istimewa seperti pengangkatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di abad modern, sebelum 1950, banyak petisi dari uskup dan umat meminta dogma ini dideklarasikan. Paus Pius XII tanya pendapat 1.800 uskup, dan 98% setuju. Ini tunjukkan sensus fidelium, atau rasa iman umat, yang konfirmasi ajaran ini dari Tuhan.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Dokumen Resmi Gereja Katolik</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Dokumen utama adalah Munificentissimus Deus oleh Paus Pius XII tahun 1950. Ini konstitusi apostolik yang mendeklarasikan dogma secara infallibel. Paus bilang: &#8220;Kami menyatakan, mendeklarasikan, dan mendefinisikan sebagai dogma yang diwahyukan oleh Tuhan: bahwa Maria yang Tak Bernoda, Perawan Abadi, Ibu Allah, setelah menyelesaikan perjalanan hidup duniawinya, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dokumen ini jelaskan hubungan dengan Immaculate Conception (dari Ineffabilis Deus oleh Paus Pius IX tahun 1854). Karena Maria bebas dosa, dia tidak kena hukum pembusukan tubuh. Paus rujuk Alkitab seperti Wahyu 12 dan Mazmur 131:8 (dalam Vulgata, Mazmur 132:8), serta tradisi Bapa Gereja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dokumen lain: Katekismus Gereja Katolik (CCC) paragraf 966: &#8220;Akhirnya, Perawan Tak Bernoda, yang dilindungi dari segala noda dosa asal, setelah menyelesaikan perjalanan hidup duniawinya, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemuliaan surga dan dimahkotai sebagai Ratu atas segala ciptaan.&#8221; Ini ringkas dogma dan bilang Maria adalah teladan eschatologis, artinya preview surga bagi kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Konsili Vatikan II, Lumen Gentium bab 8 (paragraf 59) bilang: &#8220;Perawan Tak Bernoda… diangkat tubuh dan jiwanya ke surga, di mana ia sudah memulai keadaan kemuliaan yang akan dimiliki oleh semua orang benar pada akhir zaman.&#8221; Ini tekankan Maria sebagai tanda harapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dokumen awal seperti Deiparae Virginis Mariae (surat ensiklik Paus Pius XII tahun 1946) adalah persiapan, di mana Paus tanya pendapat uskup. Juga, ensiklik Ad Caeli Reginam tahun 1954 tentang Maria sebagai Ratu, yang terkait pengangkatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua dokumen ini tunjukkan Gereja tidak ciptakan dogma baru, tapi klarifikasi apa yang sudah diyakini sejak lama.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Penjelasan Theologis yang Lebih Dalam</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang, mari kita dalami mengapa dogma ini masuk akal. Pertama, dari perspektif theologis, Maria adalah &#8220;Ibu Allah&#8221; (Theotokos). Karena Yesus adalah Allah dan manusia, Maria layak dapat hak istimewa. Pengangkatan adalah konsekuensi logis dari kebebasannya dari dosa. Roma 6:23 bilang &#8220;Upah dosa ialah maut,&#8221; jadi tanpa dosa, Maria tidak &#8220;harus&#8221; mati seperti biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, ini tentang penebusan. Yesus tebus kita dari dosa dan maut. Maria, sebagai yang pertama ditebus (Immaculate Conception), dapat pengangkatan sebagai buah pertama penebusan. Ini seperti preview kebangkitan umum di akhir zaman (1 Korintus 15:20-23).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, secara eklesiologis, Maria adalah gambaran Gereja. Efesus 5:27 bilang Gereja adalah &#8220;suci dan tak bercacat.&#8221; Maria, sebagai Ibu Gereja, sudah capai itu di surga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa orang tanya, &#8220;Apakah Maria mati dulu?&#8221; Dogma tidak tentukan; bilang &#8220;setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya.&#8221; Tradisi Timur bilang dia &#8220;tidur,&#8221; artinya mati damai lalu diangkat. Tapi fokusnya bukan kematian, tapi kemuliaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dunia hari ini, dogma ini relevan. Di tengah pandemi atau bencana, pengangkatan ingatkan bahwa tubuh kita akan dimuliakan di surga. Juga, ini lawan materialisme yang anggap tubuh hanya sementara.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Kesimpulan: Apa Artinya Bagi Kita?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Pengangkatan Maria bukan hanya cerita lama, tapi undangan untuk kita. Maria tunjukkan bahwa iman sederhana bisa bawa kita ke surga. Mari kita tiru Maria: setia pada Tuhan, rendah hati, dan penuh rahmat. Dogma ini perkuat iman kita bahwa Tuhan sayang kita seperti&nbsp;sayang&nbsp;Maria.</p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/pengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=Pengangkatan%20Maria%20ke%20Surga%3A%20Rahasia%20Ilahi%20yang%20Menginspirasi%20Iman%20Kita&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Pengangkatan%20Maria%20ke%20Surga%3A%20Rahasia%20Ilahi%20yang%20Menginspirasi%20Iman%20Kita https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fpengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita%2F&t=Pengangkatan%20Maria%20ke%20Surga%3A%20Rahasia%20Ilahi%20yang%20Menginspirasi%20Iman%20Kita" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/pengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/pengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita/', 'Pengangkatan%20Maria%20ke%20Surga%3A%20Rahasia%20Ilahi%20yang%20Menginspirasi%20Iman%20Kita', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/pengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita/">Pengangkatan Maria ke Surga: Rahasia Ilahi yang Menginspirasi Iman Kita</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/pengangkatan-maria-ke-surga-rahasia-ilahi-yang-menginspirasi-iman-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>14</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>10 Faktor Kuat yang Menyebabkan Kegagalan Seminaris Menjadi Pastor atau Romo</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rakam]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2025 19:46:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan lepas]]></category>
		<category><![CDATA[berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[harapan]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[komuni]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa]]></category>
		<category><![CDATA[misa]]></category>
		<category><![CDATA[pastor]]></category>
		<category><![CDATA[romo]]></category>
		<category><![CDATA[Teologi]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/?p=3906</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kegagalan-Seminaris-1.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Kegagalan Seminaris 1" decoding="async" loading="lazy" />Prolog: Mengapa Sebuah Panggilan Mungkin Tak Terwujud? Perjalanan seorang individu menuju imamat, atau yang dikenal sebagai &#8220;panggilan,&#8221; seringkali dipandang sebagai &#8230; </p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo/">10 Faktor Kuat yang Menyebabkan Kegagalan Seminaris Menjadi Pastor atau Romo</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kegagalan-Seminaris-1.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Kegagalan Seminaris 1" decoding="async" loading="lazy" />
<h3 class="wp-block-heading"><strong>Prolog: Mengapa Sebuah Panggilan Mungkin Tak Terwujud?</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Perjalanan seorang individu menuju imamat, atau yang dikenal sebagai &#8220;panggilan,&#8221; seringkali dipandang sebagai sebuah proses yang linier dan pasti. Namun, realitasnya jauh lebih kompleks. Panggilan bukanlah sekadar keputusan sesaat, melainkan sebuah jalan panjang yang dipenuhi tantangan, pergulatan batin, dan ujian yang multidimensi. Artikel ini bertujuan untuk mengupas tuntas mengapa benih panggilan yang telah ditanam di seminari tidak selalu berbuah menjadi seorang pastor atau romo. Dengan membedah sepuluh faktor terkuat, artikel ini berupaya melampaui narasi permukaan, seperti stereotip &#8220;keluar karena cewek&#8221; yang sering dilekatkan pada mantan frater. Sebagaimana ditegaskan oleh mantan frater, Felix Kris Alfian, alasan ia keluar dari seminari jauh melampaui sekadar masalah relasi; itu adalah &#8220;proses pemurnian yang panjang&#8221; dan &#8220;perjumpaan dengan Tuhan yang lebih penting,&#8221; sebuah pergumulan mendalam mengenai identitas dan jalan hidup yang otentik [1].</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan ini tidak bersifat tunggal, melainkan sebuah sindrom yang kompleks, yang melibatkan dimensi psikologis, institusional, dan eksternal. Angka-angka yang tersedia menggarisbawahi urgensi untuk memahami fenomena ini secara lebih mendalam. Tingkat kegagalan yang tinggi di dalam seminari menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi bersifat unik, dan berbeda dari faktor-faktor yang umumnya menyebabkan putus sekolah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tingkat Kegagalan dan Data Komparatif</p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout mtr-table mtr-tr-td"><tbody><tr><td data-mtr-content="Kategori" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Kategori</strong></div></td><td data-mtr-content="Data Spesifik" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Data Spesifik</strong></div></td><td data-mtr-content="Sumber" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Sumber</strong></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Tingkat Kegagalan Seminari (Anekdotal)</div></td><td data-mtr-content="Data Spesifik" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">65 dari 100 frater</div></td><td data-mtr-content="Sumber" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">[2]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Tingkat Putus Sekolah SMA Umum (Nasional)</div></td><td data-mtr-content="Data Spesifik" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">0.67% pada tahun 2017</div></td><td data-mtr-content="Sumber" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">“</div></td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data di atas, tingkat kegagalan seminaris secara anekdotal, seperti yang dialami oleh Frater Satrio [2], menunjukkan perbedaan yang mencolok jika dibandingkan dengan tingkat putus sekolah menengah umum di Indonesia yang hanya 0.67% pada tahun 2017 &#8220;. Kontras yang tajam ini menyiratkan bahwa alasan kegagalan di seminari tidak didorong oleh faktor-faktor sosio-ekonomi yang umum, melainkan oleh dinamika yang jauh lebih spesifik dan intens.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Medan Pergulatan: Dimensi Psikologis dan Spiritual</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Kegagalan untuk menyelesaikan formasi pastoral seringkali bermula dari pergulatan batin yang mendalam, yang berpusat pada aspek psikologis dan spiritual seorang individu. Di dalam lingkungan seminari, tantangan-tantangan ini menjadi lebih intens dan membutuhkan dukungan yang memadai.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><a href="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kegagalan-Seminaris-10.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kegagalan-Seminaris-10.jpg?t=1758915989484" alt="Kegagalan Seminaris 10" class="wp-image-3908" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:1024/h:1024/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kegagalan-Seminaris-10.jpg 1024w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:300/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kegagalan-Seminaris-10.jpg 300w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kegagalan-Seminaris-10.jpg 150w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:768/h:768/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kegagalan-Seminaris-10.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 760px) 100vw, 760px" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Dimensi Psikologis dan Spiritual</figcaption></figure>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>1. Kematangan Panggilan yang Belum Mantap</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Landasan dari sebuah panggilan sejati adalah &#8220;keyakinan yang teguh&#8221; akan kehendak Tuhan [3]. Tanpa fondasi ini, seorang calon imam akan berjuang untuk menahan diri dalam menghadapi kesulitan. Masalah muncul ketika motivasi awal untuk masuk seminari bersifat dangkal atau tidak murni [4, 5]. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sebagian kecil seminaris (1.0%) masuk hanya karena &#8220;rasa penasaran&#8221; atau &#8220;untuk mengejar popularitas diri dan gengsi pribadi&#8221; [8]. Uskup Paskalis Bruno Syukur (Bogor) juga mencatat bahwa seringkali orang tua menyekolahkan anak ke seminari bukan semata-mata untuk menjadi imam, melainkan karena harapan lain, sehingga motivasi mereka tidak sepenuhnya murni [9]. Kurangnya pemantapan panggilan sejak awal ini membuat mereka rentan goyah ketika menghadapi kesulitan.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>2. Tantangan Akademik dan Seleksi yang Ketat</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Proses formasi menjadi pastor adalah perjalanan yang sangat panjang, memakan waktu 8 hingga 10 tahun setelah lulus SMA, tergantung pada ordo atau kongregasi yang dipilih [6]. Beban studi selama proses ini sangat padat [9]. Sebagai contoh, kurikulum mencakup berbagai mata kuliah seperti Filsafat dan Teologi, di samping kurikulum pemerintah [6]. Studi menunjukkan bahwa para frater sering menghadapi kesulitan studi yang berat [9]. Selain itu, seleksi di seminari sangat ketat, di mana hanya sebagian kecil siswa SD/SMP yang akhirnya lulus SMA seminari [9]. Banyak frater keluar bukan karena kelemahan iman, melainkan karena tereliminasi oleh standar akademis yang tinggi atau sulit menyesuaikan diri dengan beban studi [9].</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>3. Gangguan Psikologis (Kesepian dan Trauma Masa Lalu)</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Formasi seminari adalah perjalanan yang rumit yang tidak hanya membentuk perkembangan spiritual dan pastoral, tetapi juga secara mendalam memengaruhi kesejahteraan emosional dan psikologis . Berbagai studi menunjukkan bahwa para calon imam berada pada risiko tinggi untuk mengalami depresi, kecemasan, dan masalah psikologis lainnya . Masalah ini dapat diperparah oleh literasi kesehatan mental yang rendah di kalangan seminaris &#8220;. Dokumen Vatikan Guidelines for the Use of Psychology&#8230; menyatakan banyak calon imam datang dari latar belakang keluarga yang tidak stabil dan membawa &#8220;luka psikologis masa lalu&#8221; yang belum terselesaikan [9]. Bahkan sebuah riset di Filipina menemukan bahwa faktor dominan pengunduran diri seminaris adalah &#8220;kesepian,&#8221; di mana seminari yang tidak berhasil mengatasi perasaan sepi justru meningkatkan risiko meninggalkan formasi [9]. Tanpa dukungan psikologis dan hubungan yang sehat, frater berisiko mengalami stres berat atau &#8220;bunuh diri panggilan&#8221; [9].</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>4. Krisis dan Kekeringan Rohani</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Pembinaan seminari menuntut kedalaman hidup rohani, tetapi tidak semua frater mampu konsisten [9]. Panduan Vatikan menegaskan bahwa dalam proses formasi, seminaris dihadapkan pada &#8220;simptom ketidakseimbangan dalam hati&#8221; yang muncul sebagai pertentangan antara ideal kasih total kepada Tuhan dan kehidupan nyata mereka [9]. Ketika panggilan mulai dipertanyakan—misalnya saat doa terasa hampa atau mengalami pergulatan iman—seorang seminaris bisa kehilangan semangat dan meragukan keputusannya menjadi imam [9].</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>5. Kesulitan dalam Hidup Komunitas dan Kurangnya Keterbukaan</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Pembinaan seminaris menekankan hidup bersama komunitas, tetapi kenyataannya frater bisa kesulitan menyesuaikan diri [7]. Sebuah studi kasus menunjukkan bahwa lingkungan asrama yang padat dan minimnya privasi membuat sulit bagi para seminaris untuk memiliki waktu dan ruang pribadi [7]. Banyak seminaris merasa malu atau takut untuk terbuka kepada pembina rohani tentang masalah pribadi mereka [9]. Romo Irfantinus menegaskan bahwa tanpa keterbukaan dan kepercayaan antara formator dan seminaris, formasi tidak akan berjalan baik [9]. Konflik kepribadian antar anggota komunitas atau kekecewaan terhadap imam pembina juga dapat membuat seminaris merasa terasing [9].</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>6. Disiplin Ketat dan Aturan Hidup Asrama</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Kehidupan di seminari diatur dengan jadwal yang sangat ketat [7]. Aturan hidup asrama mengharuskan ketaatan tinggi, termasuk jadwal harian yang teratur, aturan berpakaian, dan keterbatasan komunikasi dengan keluarga [9]. Sebuah studi mencatat, &#8220;aturan hidup di SMA seminari sangat ketat&#8230; siswa yang dinilai tidak layak secara kognisi, afeksi, maupun motorik akan dikeluarkan (Drop Out)&#8221; [9]. Ketika seorang seminaris kesulitan beradaptasi dengan disiplin keras atau merasa dibatasi kebebasannya, ia dapat kewalahan [9]. Beban peraturan dan kehidupan asketik, seperti tidak boleh memainkan musik pribadi atau menghindari hiburan bebas, sering kali dirasa terlalu berat [9].</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>7. Godaan Seksual dan Tantangan Hidup Selibat</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu tantangan paling berat yang dihadapi oleh calon pastor Katolik adalah janji selibat [8]. Penting untuk dicatat bahwa selibat bukanlah dogma, melainkan sebuah &#8220;norma&#8221; disipliner [8]. Namun, hal ini tidak mengurangi intensitas perjuangan yang dihadapi oleh individu. Mantan seminaris menyebut gairah seksualitas sebagai tantangan terberat, terutama pada usia pubertas [9]. Panduan Vatikan mencatat munculnya &#8220;visi seksualitas yang keliru&#8221; di kalangan banyak kandidat [9]. Perjuangan dengan selibat dapat menciptakan &#8220;luka selibat,&#8221; yang, jika tidak diakomodasi dengan sehat, dapat menyebabkan perilaku kompensasi yang merusak, seperti kecanduan, makan berlebihan, atau hubungan rahasia [10].</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>8. Tekanan Keluarga dan Faktor Sosial</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun keluarga seringkali menjadi sumber dukungan spiritual pertama, mereka juga bisa menjadi sumber tekanan yang tidak sehat. Beberapa seminaris secara jujur mengungkapkan bahwa mereka merasa &#8220;sedikit tekanan dan dorongan dari orang tua&#8221; untuk melanjutkan pendidikan mereka di seminari [5]. Dalam beberapa kasus, keputusan ini dipengaruhi oleh situasi ekonomi keluarga yang tidak stabil [5]. Panggilan yang dipengaruhi oleh ekspektasi atau bahkan kebutuhan finansial keluarga menjadi sebuah beban alih-alih sebuah anugerah [5]. Ketika keputusan untuk menjadi pastor tidak berasal dari kebebasan batin, melainkan dari dorongan eksternal, seminaris tersebut akan rentan terhadap konflik yang mendalam antara identitas pribadinya dan peran yang diharapkan darinya [8].</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>9. Pengaruh Budaya Modern dan Sekuler</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Arus budaya Barat dan kemajuan teknologi juga menantang iman seminaris [9]. Vatikan mengamati bahwa mentalitas era modern yang menekankan konsumerisme, relasi tak menentu, dan relativisme moral turut memengaruhi calon imam [9]. Nilai-nilai dunia yang meragukan kebenaran mutlak dan sibuk dengan hal-hal duniawi bisa menggerus idealisme rohani [9]. Kemewahan gaya hidup atau kesibukan teknologi dapat mengalihkan perhatian dari kehidupan doa dan pelayanan, yang membuat banyak seminaris kehilangan motivasi panggilan mereka [9].</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>10. Kontras Ekspektasi versus Realitas Pelayanan (Ujian Orientasi Pastoral)</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahap akhir formasi (misalnya Tahun Orientasi Pastoral), banyak seminaris menghadapi &#8220;kehidupan nyata&#8221; umat Katolik sehari-hari [9]. Tahap ini sering diibaratkan sebagai ujian berat panggilan [9]. Sejumlah frater keluar setelah merasakan langsung beban pelayanan umat—mulai dari menghadapi konflik keluarga hingga persoalan sosial yang kompleks [9]. Seorang pastor Katolik mengungkapkan bahwa ia merasa tidak disiapkan untuk menghadapi berbagai masalah praktis di lapangan, dan ini dapat menyebabkan kelelahan [3]. Kontras antara ideal teologi yang dipelajari dengan kenyataan pahit di lapangan dapat membuat seminaris merasa hancur hati dan meragukan panggilannya [9].</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Jalan Menuju Ketahanan: Rekomendasi dan Kesimpulan</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Memahami faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan seminaris menjadi pastor atau romo adalah langkah pertama untuk membangun sistem formasi yang lebih kuat dan tangguh. Artikel ini menunjukkan bahwa kegagalan bukanlah fenomena tunggal, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara tantangan pribadi, institusional, dan eksternal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tabel 2: Faktor-faktor Kunci dalam Tantangan Formasi Seminari</p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout mtr-table mtr-tr-td"><tbody><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Kategori Faktor</strong></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Tantangan yang Ditekankan</strong></div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Sintesis Wawasan</strong></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Psikologis &amp; Emosional</strong></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Risiko depresi tinggi dan literasi kesehatan mental yang rendah</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Kurangnya dukungan profesional memperburuk kondisi bawaan [9]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Trauma masa lalu dan kesepian</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Budaya kerahasiaan mencegah pencarian bantuan [9]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Merasa tidak siap menghadapi masalah pastoral</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Mismatch antara pelatihan dan realitas pastoral [3, 9]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Institusional &amp; Sosial</strong></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Beban akademis dan disipliner yang berat</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Berpotensi menyebabkan <em>burnout</em> dan kelelahan [6]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Aturan hidup asrama yang ketat</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Membuat seminaris merasa terbebani dan dibatasi kebebasannya [9]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Kurangnya keterbukaan dengan formator</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Komunitas yang terasa terasing dapat menyebabkan kesepian [9]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Spiritual &amp; Relasional</strong></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Panggilan yang dangkal dan tidak murni</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Fondasi yang rapuh menyebabkan krisis identitas [8, 9]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Kekeringan dan krisis rohani</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Pergumulan batin saat doa terasa hampa atau iman dipertanyakan [9]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Perjuangan dengan selibat</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Dapat menyebabkan “luka batin” dan kompensasi yang tidak sehat [10]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Tekanan Eksternal</strong></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Tekanan dari keluarga dan ekspektasi sosial</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Mencegah kebebasan batin dalam membedakan panggilan [5, 9]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Pengaruh budaya modern dan sekuler</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Mengikis idealisme rohani dengan nilai-nilai duniawi [9]</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Kategori Faktor" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"></div></td><td data-mtr-content="Tantangan yang Ditekankan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Disilusi dengan realitas pelayanan</div></td><td data-mtr-content="Sintesis Wawasan" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Menghancurkan idealisme dengan kenyataan di lapangan [9]</div></td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tabel di atas mengorganisir berbagai faktor kegagalan ke dalam kategori yang saling berhubungan, yang pada gilirannya mengungkapkan sebuah sindrom kegagalan alih-alih satu penyebab tunggal. Untuk mengatasi fenomena yang kompleks ini, pendekatan holistik sangat diperlukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan analisis ini, beberapa rekomendasi strategis dapat diajukan kepada institusi keagamaan:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong>Integrasi Dukungan Psikologis:</strong> Formasi seminari harus mengintegrasikan dukungan psikologis profesional secara menyeluruh ke dalam kurikulum &#8220;. Evaluasi psikologis harus menjadi bagian dari proses formasi untuk mengidentifikasi dan menangani masalah kesehatan mental, bukan hanya untuk menyaring [11].</li>



<li><strong>Evaluasi Panggilan yang Lebih Ketat:</strong> Proses seleksi awal harus lebih ketat, berfokus pada motivasi batin yang murni, bukan tekanan eksternal atau ambisi pribadi [8]. Institusi harus membantu calon untuk membedakan panggilan mereka secara bebas dan otentik [5].</li>



<li><strong>Pelatihan Praktis:</strong> Kurikulum harus disesuaikan untuk mencakup pelatihan praktis dalam konseling, manajemen konflik, dan kepemimpinan. Calon imam harus dipersiapkan untuk tantangan pastoral di dunia nyata [3].</li>



<li><strong>Budaya Keterbukaan:</strong> Seminari harus menciptakan lingkungan yang mendukung dan terbuka di mana para calon imam dapat berbagi pergumulan mereka tanpa takut dihakimi &#8220;.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, kisah kegagalan seminaris bukanlah kisah tentang kurangnya iman, melainkan sebuah cerminan dari kompleksitas perjalanan panggilan di era modern. Dengan melihat kegagalan ini bukan sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari sebuah proses yang lebih besar, institusi keagamaan dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk mendukung para calon imam dan memperkuat fondasi panggilan mereka.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Work Cite</h3>



<ol class="wp-block-list">
<li><code>https://www.katolikana.com/2021/10/12/felix-kris-alfian-keluar-seminari-tidak-melulu-karena-cewek/</code></li>



<li><code>http://digilib.uinsa.ac.id/52149/2/Mifnatul%20Ilmah_E02218014.pdf</code></li>



<li><code>https://floresa.co/reportase/mendalam/15468/2015/09/10/hanya-781-persen-alumni-yang-jadi-imam-sanpio-gagal</code></li>



<li><code>https://rsisinternational.org/journals/ijriss/articles/determining-factors-that-cause-seminarians-not-to-pursue-life-in-the-seminary/</code></li>



<li><code>https://www.vatican.va/roman_curia/congregations/ccatheduc/documents/rc_con_ccatheduc_doc_20080628_orientamenti_en.html</code></li>



<li><code>https://www.researchgate.net/publication/345410549_Enduring_the_Loneliness_inside_the_Catholic_Diocesan_College_Seminary</code></li>



<li><code>https://www.hidupkatolik.com/2024/05/03/77042/frater-malu-menceritakan-masalah-pada-romo.php</code></li>



<li><code>https://pdfs.semanticscholar.org/ef3e/d5fd8072d2c535eaba1a717c6832f67ef274.pdf</code></li>



<li><code>https://www.bangancis.web.id/2025/05/alasan-banyak-frater-gagal-jadi-imam.html</code></li>



<li><code>https://asumsi.co/post/56596/pembuktian-keimanan-siswa-sekolah-kepastoran/</code></li>



<li><code>https://e-conf.usd.ac.id/index.php/theoicon/theoicon2023/paper/view/2547/404</code></li>



<li><code>https://journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/srj/article/download/1590/1950/6450</code><br><code>https://reformed.sabda.org/ketidakjelasan_dalam_panggilan_tuhan</code></li>



<li><code>https://eskripsi.usm.ac.id/files/skripsi/F11A/2016/F.111.16.0123/F.111.16.0123-15-File-Komplit-20200226031740.pdf</code></li>



<li><code>https://incaschool.sch.id/gedung-seminari-katolik/</code></li>



<li><code>https://www.mirifica.net/rektor-seminari-wacana-bhakti-para-pastor-perlu-mengerti-ilmu-psikologi/</code></li>



<li><code>https://associationofcatholicpriests.ie/the-problems-with-celibacy/</code></li>



<li><code>https://www.emmausph.org/blogs/psychological-assessment-in-formation</code></li>
</ol>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2F10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=10%20Faktor%20Kuat%20yang%20Menyebabkan%20Kegagalan%20Seminaris%20Menjadi%20Pastor%20atau%20Romo&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2F10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=10%20Faktor%20Kuat%20yang%20Menyebabkan%20Kegagalan%20Seminaris%20Menjadi%20Pastor%20atau%20Romo https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2F10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2F10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo%2F&t=10%20Faktor%20Kuat%20yang%20Menyebabkan%20Kegagalan%20Seminaris%20Menjadi%20Pastor%20atau%20Romo" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo/', '10%20Faktor%20Kuat%20yang%20Menyebabkan%20Kegagalan%20Seminaris%20Menjadi%20Pastor%20atau%20Romo', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo/">10 Faktor Kuat yang Menyebabkan Kegagalan Seminaris Menjadi Pastor atau Romo</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/10-faktor-kuat-yang-menyebabkan-kegagalan-seminaris-menjadi-pastor-atau-romo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Para Kudus 26 September dan Relevansinya bagi Pemuda Katolik Indonesia</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/kisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/kisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rakam]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2025 04:57:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Santa Santo]]></category>
		<category><![CDATA[ajaran gereja]]></category>
		<category><![CDATA[berbeda]]></category>
		<category><![CDATA[berdoa]]></category>
		<category><![CDATA[cikal]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[evangelisasi]]></category>
		<category><![CDATA[gembala]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[gereja katolik]]></category>
		<category><![CDATA[imam]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[injil]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[komuni]]></category>
		<category><![CDATA[kristiani]]></category>
		<category><![CDATA[kristus]]></category>
		<category><![CDATA[liturgi]]></category>
		<category><![CDATA[maria]]></category>
		<category><![CDATA[masa kini]]></category>
		<category><![CDATA[menyembah]]></category>
		<category><![CDATA[misa]]></category>
		<category><![CDATA[orang kudus]]></category>
		<category><![CDATA[pastor]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan]]></category>
		<category><![CDATA[pewarta]]></category>
		<category><![CDATA[roma]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/?p=3893</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Kisah Para Kudus 26 September-1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:1024/h:1024/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg 1024w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:300/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg 300w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg 150w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:768/h:768/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 150px) 100vw, 150px" />Pendahuluan Tanggal 26 September dalam kalender liturgi Gereja Katolik tidak hanya menandai peringatan satu figur kudus, melainkan sebuah perayaan yang &#8230; </p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/kisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia/">Kisah Para Kudus 26 September dan Relevansinya bagi Pemuda Katolik Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="Kisah Para Kudus 26 September-1" decoding="async" loading="lazy" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:1024/h:1024/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg 1024w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:300/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg 300w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg 150w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:768/h:768/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Kisah-Para-Kudus-26-September-1.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 150px) 100vw, 150px" />
<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pendahuluan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tanggal 26 September dalam kalender liturgi Gereja Katolik tidak hanya menandai peringatan satu figur kudus, melainkan sebuah perayaan yang menyatukan figur-figur dari era dan panggilan yang sangat berbeda <sup>1</sup>. Peringatan ini menghadirkan sebuah perbandingan yang menarik: di satu sisi, kita mengenang Santo Kosmas dan Damianus, para dokter martir dari Gereja Perdana yang memberikan kesaksian dengan darah mereka; di sisi lain, kita menghormati Santo Paus Paulus VI, seorang pemimpin Gereja di era modern yang memberikan kesaksian melalui kepemimpinannya yang bijaksana di tengah tantangan zaman. Di antara mereka, kita menemukan imam yang sederhana, biarawan yang tekun, perawan yang berani, dan misionaris yang berkorban. Perbedaan yang mencolok ini justru menyoroti kekayaan dan universalitas panggilan untuk menjadi kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Laporan ini disusun dengan tujuan untuk menggali secara mendalam kisah hidup para kudus ini, tidak hanya sebagai catatan sejarah yang kering, tetapi sebagai sumber inspirasi spiritual dan teladan praktis. Analisis ini ditujukan secara khusus bagi pemuda Katolik di Indonesia yang ingin memperdalam pemahaman iman dan menemukan cara-cara untuk menghidupi kekudusan dalam konteks kehidupan kontemporer yang kompleks dan penuh tantangan. Dengan mempelajari teladan mereka, kita dapat menemukan panduan untuk mengintegrasikan iman ke dalam setiap aspek kehidupan, dari karier hingga pelayanan, dari hubungan pribadi hingga tanggung jawab sosial.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bagian 1: Para Martir: Kesaksian dengan Darah</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah para martir adalah kisah tentang keberanian tertinggi dalam iman. Mereka memberikan kesaksian paling radikal dengan menyerahkan nyawa mereka demi Kristus.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1.1. Santo Kosmas dan Damianus: Teladan Pelayanan Tanpa Pamrih</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Santo Kosmas dan Damianus adalah dua figur yang dihormati secara luas sejak masa awal Gereja, baik di Timur maupun di Barat [2]. Mereka diyakini sebagai saudara kembar yang berprofesi sebagai dokter di wilayah Arabia pada abad ke-3 Masehi [2, 3]. Meskipun rincian historis tentang kehidupan mereka terbatas, legenda yang diturunkan memberikan kesaksian yang kuat tentang iman dan keberanian mereka. Diyakini bahwa mereka mungkin lahir di Cyrrhus, yang kini merupakan bagian dari Suriah modern, sebelum pindah ke Cilicia, yang kini berada di Turki [2]. Mereka dibesarkan oleh ibu mereka yang beriman Kristiani dan dididik dalam ilmu penyembuhan, menjadi dokter yang terampil dan terpelajar [2].</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><a href="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Kosmas-dan-Damianus.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Kosmas-dan-Damianus.jpg?t=1758862638719" alt="Santo Kosmas dan Damianus" class="wp-image-3895" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:1024/h:1024/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Kosmas-dan-Damianus.jpg 1024w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:300/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Kosmas-dan-Damianus.jpg 300w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Kosmas-dan-Damianus.jpg 150w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:768/h:768/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Kosmas-dan-Damianus.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 760px) 100vw, 760px" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Santo Kosmas dan Damianus</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dua bersaudara ini terkenal dengan julukan <em>Anargyroi</em>, sebuah kata dalam bahasa Yunani yang secara harfiah berarti &#8220;tanpa perak&#8221; atau &#8220;tanpa uang&#8221; [3, 4]. Gelar ini diberikan kepada mereka karena mereka menawarkan layanan penyembuhan mereka secara cuma-cuma, tanpa meminta bayaran sepeser pun [2]. Keputusan mereka untuk tidak memungut biaya bukanlah sekadar perbuatan amal biasa, melainkan sebuah tindakan evangelisasi yang radikal. Dengan cara ini, mereka menerapkan Injil tentang mengasihi dan melayani sesama tanpa pamrih.<sup>1</sup> Pelayanan mereka menjadi sebuah &#8220;metafora hidup&#8221; yang nyata, di mana pemberian gratis mereka kepada orang lain mengalir dari karunia yang mereka terima secara gratis dari Allah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keteguhan iman mereka akhirnya menarik perhatian Prefek Romawi Lysias, yang memerintahkan penangkapan mereka [2]. Karena status mereka yang terkemuka, mereka menjadi target utama penganiayaan [2]. Mereka diberi kesempatan untuk melepaskan iman mereka dan menghormati dewa-dewi Romawi untuk menyelamatkan nyawa mereka, namun mereka menolak [2]. Penolakan ini mengawali serangkaian upaya eksekusi yang gagal secara ajaib [2]. Akhirnya, mereka dan tiga saudara mereka dihukum mati dengan cara dipenggal, menunjukkan bahwa tujuan mereka bukanlah untuk menghindari kematian, tetapi untuk memberikan kesaksian hingga akhir [2].</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1.2. Pahlawan Iman dari Berbagai Zaman: Kisah Para Martir Lainnya</strong></h3>



<figure class="wp-block-image size-full"><a href="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santa-Justina-dari-Antiokhia-Beato-Giovanni-Battista-Mazzucconi-Santo-Noel-Chabanel-dan-Santo-Senator.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santa-Justina-dari-Antiokhia-Beato-Giovanni-Battista-Mazzucconi-Santo-Noel-Chabanel-dan-Santo-Senator.jpg?t=1758862638837" alt="Santa Justina dari Antiokhia, Beato Giovanni Battista Mazzucconi, Santo Noël Chabanel, dan Santo Senator" class="wp-image-3896" style="aspect-ratio:16/9;object-fit:cover" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:1024/h:1024/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santa-Justina-dari-Antiokhia-Beato-Giovanni-Battista-Mazzucconi-Santo-Noel-Chabanel-dan-Santo-Senator.jpg 1024w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:300/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santa-Justina-dari-Antiokhia-Beato-Giovanni-Battista-Mazzucconi-Santo-Noel-Chabanel-dan-Santo-Senator.jpg 300w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santa-Justina-dari-Antiokhia-Beato-Giovanni-Battista-Mazzucconi-Santo-Noel-Chabanel-dan-Santo-Senator.jpg 150w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:768/h:768/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santa-Justina-dari-Antiokhia-Beato-Giovanni-Battista-Mazzucconi-Santo-Noel-Chabanel-dan-Santo-Senator.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 760px) 100vw, 760px" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Santa Justina dari Antiokhia, Beato Giovanni Battista Mazzucconi, Santo Noël Chabanel, dan Santo Senator</figcaption></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Santa Justina dari Antiokhia</strong>: Santa Justina adalah seorang perawan Kristen yang hidup pada masa Kaisar Diokletianus (awal abad ke-4). Ia menolak panggilan seorang pria yang memanfaatkan sihir untuk memikatnya. Keteguhan imannya menarik perhatian seorang ahli ilmu hitam bernama Cyprian, yang akhirnya bertobat dan menjadi uskup [5]. Namun, Justina dan Cyprian kemudian ditangkap dan dipenggal di Nikomedia karena menolak menyembah dewa-dewi Romawi [5]. Kisahnya menjadi teladan tentang kesucian, keberanian iman, dan perlindungan bagi anak-anak muda perempuan yang berjuang mempertahankan keperawanan rohani dan moral.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Beato Giovanni Battista Mazzucconi</strong>: Seorang imam misionaris Italia dari Pontifical Institute for Foreign Missions (PIME), ia berkarya di Papua Nugini. Ia dikenal sebagai imam sederhana dan tekun berdoa [6, 7]. Meskipun ia berupaya menjalin persahabatan dengan penduduk setempat untuk membawa mereka kepada Kristus, ia akhirnya dibunuh oleh seorang pemuda lokal yang membencinya &#8220;karena kebencian terhadap iman&#8221; [6, 8]. Teladannya mengajarkan pemuda Katolik untuk memberanikan diri dalam misi kasih Kristus, bahkan ketika itu berarti melampaui batas budaya dan kenyamanan.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Santo Noël Chabanel</strong>: Seorang imam Jesuit dari Prancis, ia diutus sebagai misionaris di wilayah Huron, Kanada. Ia dengan sabar berupaya belajar bahasa dan budaya setempat untuk dapat menyebarkan Injil [9]. Ia akhirnya menjadi martir pada 8 Desember 1649, ketika seorang pengkhianat dari suku Huron membunuhnya &#8220;karena kebencian terhadap iman&#8221; [9]. Kesetiaan dan pengorbanannya menjadi contoh kuat bagi kaum muda untuk setia dalam misi kasih dan berani membela iman dalam situasi sulit.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Santo Senator</strong>: Meskipun catatan historisnya terbatas, Santo Senator dihormati sebagai martir yang tewas karena imannya di kota Albano, Italia <sup>1</sup>. Ia mewakili banyak martir anonim yang memberikan nyawa mereka demi Injil <sup>1</sup>. Kisahnya mengajarkan kaum muda bahwa kesaksian iman tidak mengenal kompromi dan bahwa keberanian rohani sering kali dimulai dari keputusan sederhana untuk tetap setia pada kebenaran.<sup>1</sup></li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bagian 2: Para Gembala &amp; Pemimpin Gereja</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Para gembala dan pemimpin Gereja menunjukkan bahwa kekudusan dapat dicapai melalui pelayanan, kepemimpinan, dan perlindungan umat Allah.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><a href="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Paus-Paulus-VI-Santo-Amantius-dari-Citta-di-Castello-Santo-Vigilius-dari-Brescia-Santo-Eusebius-dari-Bologna-da-Santo-Kolman-dari-Elo.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Paus-Paulus-VI-Santo-Amantius-dari-Citta-di-Castello-Santo-Vigilius-dari-Brescia-Santo-Eusebius-dari-Bologna-da-Santo-Kolman-dari-Elo.jpg?t=1758862638879" alt="Santo Paus Paulus VI, Santo Amantius dari Città di Castello, Santo Vigilius dari Brescia, Santo Eusebius dari Bologna, da Santo Kolman dari Elo" class="wp-image-3897" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:1024/h:1024/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Paus-Paulus-VI-Santo-Amantius-dari-Citta-di-Castello-Santo-Vigilius-dari-Brescia-Santo-Eusebius-dari-Bologna-da-Santo-Kolman-dari-Elo.jpg 1024w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:300/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Paus-Paulus-VI-Santo-Amantius-dari-Citta-di-Castello-Santo-Vigilius-dari-Brescia-Santo-Eusebius-dari-Bologna-da-Santo-Kolman-dari-Elo.jpg 300w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Paus-Paulus-VI-Santo-Amantius-dari-Citta-di-Castello-Santo-Vigilius-dari-Brescia-Santo-Eusebius-dari-Bologna-da-Santo-Kolman-dari-Elo.jpg 150w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:768/h:768/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Paus-Paulus-VI-Santo-Amantius-dari-Citta-di-Castello-Santo-Vigilius-dari-Brescia-Santo-Eusebius-dari-Bologna-da-Santo-Kolman-dari-Elo.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 760px) 100vw, 760px" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Santo Paus Paulus VI, Santo Amantius dari Città di Castello, Santo Vigilius dari Brescia, Santo Eusebius dari Bologna, da Santo Kolman dari Elo</figcaption></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2.1. Santo Paus Paulus VI: Sang Arsitek Reformasi Modern</strong></h3>



<p class="wp-block-paragraph">Giovanni Battista Enrico Antonio Maria Montini, yang kemudian dikenal sebagai Santo Paus Paulus VI, lahir pada tanggal 26 September 1897 [10, 11]. Ia berasal dari keluarga yang terdidik dan aktif dalam masyarakat [11]. Jalur kariernya sangat unik dan kompleks, termasuk sebagai diplomat di Polandia, di mana ia menyaksikan secara langsung bagaimana nasionalisme dapat memandang &#8220;orang asing sebagai musuh&#8221; [11]. Ia terpilih sebagai Paus pada tahun 1963 untuk menggantikan Paus Yohanes XXIII [11].</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peran Paus Paulus VI dalam sejarah Gereja modern tidak dapat dilepaskan dari Konsili Vatikan II [12, 13]. Ia adalah figur yang melanjutkan, meresmikan, dan menutup Konsili tersebut [11, 12]. Ia memimpin upaya-upaya untuk memperbaiki hubungan ekumenis dengan Gereja-gereja Ortodoks Timur dan Protestan [11]. Ia juga secara tegas menuntut perubahan dari negara-negara kaya di Eropa dan Amerika Utara untuk membantu mereka yang miskin di negara-negara dunia ketiga [11]. Salah satu keputusan paling kontroversial adalah penegasannya kembali tentang ajaran Gereja mengenai moralitas perkawinan dan penolakan terhadap kontrasepsi buatan yang diterbitkan dalam ensiklik <em>Humanae vitae</em> pada tahun 1968 [11]. Kisah hidupnya menunjukkan bahwa kekudusan dalam kepemimpinan sering kali menuntut kebijaksanaan untuk menyeimbangkan tradisi dan modernitas [11].</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2.2. Para Uskup dan Imam yang Melayani</strong></h3>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Santo Amantius dari Città di Castello</strong>: Seorang imam Katolik dari Italia abad ke-6 yang dikenal karena kesederhanaan, iman yang teguh, dan karunia mukjizat.<sup>1</sup> Ia merawat orang sakit tanpa pamrih dan membantu membangun kembali komunitas Kristen setelah kota Città di Castello hancur akibat peperangan.<sup>1</sup> Teladannya menunjukkan bahwa kesederhanaan hati dan kebaktian dapat membawa perubahan besar, mengutamakan penyembuhan jiwa dan raga orang lain tanpa mementingkan diri sendiri.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Santo Vigilius dari Brescia</strong>: Seorang uskup dari Brescia, Italia, pada abad ke-6, ia dikenal karena pelayanan pastoralnya yang tekun . Ia membantu membangun fondasi gereja lokal yang kuat dengan mendukung kehidupan biara dan mengedukasi umat tentang ajaran Kristiani . Kisahnya mendorong pemuda untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan beribadah dan membangun komunitas iman.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Santo Eusebius dari Bologna</strong>: Sebagai Uskup Bologna pada abad ke-4, ia adalah sahabat Santo Ambrosius dan pendukung gigih melawan ajaran sesat Arianisme [14]. Ia bekerja keras memperkuat iman umat dengan menegakkan ajaran ortodoks Gereja [14]. Teladannya mengajarkan kaum muda untuk berani mempertahankan kebenaran iman di tengah banyaknya ajaran yang membingungkan, serta menghargai warisan iman para pendahulu.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Santo Kolman dari Elo</strong>: Berasal dari Irlandia abad ke-6, ia adalah seorang biarawan dan uskup [15]. Ia membangun beberapa biara dan menulis karya rohani terkenal berjudul <em>Alphabet of Devotion</em> [15]. Kisahnya mengajarkan pentingnya karya rohani dan komunitas. Ia menjadi contoh bahwa memperdalam iman tidak harus menunggu gelar tinggi, dan bahwa membangun komunitas kecil seperti kelompok doa juga sangat berarti.<sup>1</sup></li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bagian 3: Para Mistikus, Pertapa, dan Misionaris</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Para kudus ini menunjukkan berbagai cara untuk mencapai kekudusan melalui kehidupan rohani yang mendalam, baik dalam komunitas maupun dalam kesunyian.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><a href="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Yohanes-dari-Meda-Beato-Louis-Tezza-Santa-Marie-Therese-Couderc-Santo-Nilus-Muda-dan-Santo-Meugant.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:auto/h:auto/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Yohanes-dari-Meda-Beato-Louis-Tezza-Santa-Marie-Therese-Couderc-Santo-Nilus-Muda-dan-Santo-Meugant.jpg?t=1758862638859" alt="Santo Yohanes dari Meda, Beato Louis Tezza, Santa Marie-Thérèse Couderc, Santo Nilus Muda, dan Santo Meugant" class="wp-image-3898" srcset="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:1024/h:1024/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Yohanes-dari-Meda-Beato-Louis-Tezza-Santa-Marie-Therese-Couderc-Santo-Nilus-Muda-dan-Santo-Meugant.jpg 1024w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:300/h:300/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Yohanes-dari-Meda-Beato-Louis-Tezza-Santa-Marie-Therese-Couderc-Santo-Nilus-Muda-dan-Santo-Meugant.jpg 300w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Yohanes-dari-Meda-Beato-Louis-Tezza-Santa-Marie-Therese-Couderc-Santo-Nilus-Muda-dan-Santo-Meugant.jpg 150w, https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:768/h:768/q:mauto/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/Santo-Yohanes-dari-Meda-Beato-Louis-Tezza-Santa-Marie-Therese-Couderc-Santo-Nilus-Muda-dan-Santo-Meugant.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 760px) 100vw, 760px" /></a><figcaption class="wp-element-caption">Santo Yohanes dari Meda, Beato Louis Tezza, Santa Marie-Thérèse Couderc, Santo Nilus Muda, dan Santo Meugant</figcaption></figure>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Santo Yohanes dari Meda</strong>: Seorang biarawan Benediktin pada abad ke-12, ia dikenal sebagai bapa biara Humiliati dan memperkenalkan <em>Ofisi Kecil Santa Perawan Maria</em> bagi kaum awam [16]. Ia mengilhami kaum muda untuk memprioritaskan kehidupan doa dan belajar agama di tengah kehidupan sehari-hari [16]. Teladannya mengajarkan nilai kepemimpinan yang rendah hati, yang menginspirasi orang lain untuk berdoa melalui contoh hidup yang disiplin.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Beato Louis Tezza</strong>: Seorang imam dari Ordo Kamilus yang melayani orang sakit. Ia mendirikan Kongregasi Putri St. Kamillus [17]. Ia dikenal sebagai &#8220;Apostle of Lima&#8221; karena dedikasinya melayani orang sakit dan miskin di Peru selama 23 tahun [2, 3, 4]. Teladannya menginspirasi kaum muda untuk mengasihi dan merawat yang lemah dan menunjukkan bahwa pelayanan sosial adalah panggilan semua orang beriman [17, 4].</li>



<li><strong>Santa Marie-Thérèse Couderc</strong>: Ibu gereja dan pendiri Kongregasi Putri Santa Perawan Maria dari Cenacle [11]. Ia merintis retret rohani bagi kaum awam. Ia rela melepaskan jabatan superior untuk hidup sebagai anggota biasa dalam kongregasinya [11]. Teladannya mengajarkan pemuda untuk merendahkan diri dan setia berdoa. Ia menunjukkan bahwa kebaktian sejati tidak bergantung pada jabatan, dan pelayanan yang konsisten dapat membawa banyak jiwa kepada Tuhan.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Santo Nilus Muda</strong>: Seorang biarawan Yunani yang mendirikan biara di Serpero, yang menjadi cikal-bakal Biara Santa Maria di Grottaferrata [18]. Ia dikenal karena berhasil menyatukan tradisi monastik Yunani dan Latin di Italia [18]. Teladannya mengajarkan kaum muda tentang nilai pertobatan dan pengabdian total, serta pentingnya dialog antarbudaya dan menghargai keragaman Kristen.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Santo Meugant (Morgan/Maughan)</strong>: Seorang pertapa dari Wales pada abad ke-6 yang hidup dalam kesunyian [12]. Meskipun tidak banyak catatan sejarah tentangnya, ia dikenang sebagai model kehidupan kontemplatif yang mendalam [12]. Teladannya menegaskan bahwa kehidupan rohani yang mendalam dapat dimulai dari hal sederhana, dan bahwa bahkan tanpa gelar tinggi, hidup yang fokus pada doa mampu menginspirasi banyak orang.<sup>1</sup></li>
</ul>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bagian 4: Relevansi Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia Masa Kini</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah-kisah para kudus ini menjadi relevan ketika dihadapkan pada realitas kontemporer yang dihadapi oleh kaum muda Katolik di Indonesia. Mereka berada di persimpangan jalan, bergumul dengan berbagai tantangan unik di era digital dan sosial politik.</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Menanggapi Tantangan di Era Digital dan Sosial Media</strong>: Di tengah krisis identitas yang dipicu oleh media sosial [19, 6], teladan para martir seperti Santa Justina dan Santo Senator sangat relevan. Mereka mengajarkan keberanian untuk mempertahankan kebenaran dan nilai-nilai Kristen di ruang publik digital, bahkan ketika berhadapan dengan tekanan sosial [5]. Santo Kolman dan Santo Yohanes dari Meda memberikan inspirasi untuk menjadi kreatif dalam hidup doa, misalnya dengan membuat jurnal rohani atau aktif dalam komunitas doa daring.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Mengintegrasikan Iman dan Profesi</strong>: Teladan Santo Kosmas dan Damianus menunjukkan bahwa profesi tidak boleh hanya dilihat sebagai sarana untuk mencari keuntungan materi. Pemuda Katolik Indonesia dapat mengaplikasikan semangat <em>Anargyroi</em> dengan menjadikan pekerjaan sebagai ladang misi [3]. Dengan menunjukkan integritas dan pelayanan tanpa pamrih, seorang pemuda Katolik dapat menjadi saksi hidup bagi Kristus [3].</li>



<li><strong>Menghadapi Kompleksitas Sosial</strong>: Seperti Santo Paus Paulus VI yang menavigasi ekspektasi yang saling bertentangan [11], pemuda Katolik dipanggil untuk memiliki keberanian dan kebijaksanaan dalam menghadapi polarisasi dan isu-isu sensitif [9]. Para misionaris seperti Beato Giovanni Battista Mazzucconi dan Santo Noël Chabanel memberikan pelajaran tentang pentingnya kolaborasi lintas budaya dan dialog antaragama.<sup>1</sup></li>



<li><strong>Menemukan Kekudusan dalam Pelayanan Sederhana</strong>: Beato Louis Tezza, Santo Amantius, dan Santo Vigilius mengajarkan bahwa kekudusan dapat dicapai dengan terlibat dalam pelayanan sosial yang nyata.<sup>1</sup> Mereka menunjukkan bahwa pelayanan kepada yang sakit, yang miskin, dan yang terpinggirkan adalah sebuah panggilan universal bagi semua orang beriman<br>[17, 3]. Bahkan tindakan sederhana, seperti membantu membenahi fasilitas gereja atau mengajar anak-anak, dapat menjadi jalan menuju kekudusan.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut adalah tabel ikhtisar yang merangkum teladan dari setiap orang kudus yang diperingati pada 26 September dan relevansinya bagi kaum muda Katolik Indonesia.</p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout mtr-table mtr-tr-td"><tbody><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Nama Orang Kudus</strong></div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Karakteristik Kunci</strong></div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content"><strong>Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia</strong></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Kosmas &amp; Damianus</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Martir, “Dokter Tanpa Perak”</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Mengintegrasikan iman dengan profesi dan melayani tanpa pamrih [3].<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Paus Paulus VI</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Paus, Arsitek Konsili Vatikan II</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Kebijaksanaan dalam memimpin dan keberanian dalam mempertahankan ajaran iman di tengah kompleksitas dunia [11, 9].</div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Amantius</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Imam, Pelayan Orang Sakit</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Kesederhanaan hati dan mengutamakan pelayanan terhadap jiwa dan raga orang lain.<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santa Justina</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Perawan, Martir</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Keteguhan hati dalam kesucian dan keberanian untuk mempertahankan moral di tengah tekanan.<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Beato Giovanni Mazzucconi</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Misionaris, Martir</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Keberanian dalam misi kasih, kolaborasi lintas budaya, dan pengorbanan diri [6, 8].<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Noël Chabanel</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Misionaris, Martir</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Kesetiaan dalam misi dan penghormatan terhadap budaya lokal di tengah tantangan [9].<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Beato Louis Tezza</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Imam, Pendiri Kongregasi</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Mengasihi dan merawat yang lemah, rendah hati, dan percaya pada rencana Tuhan [17, 4].<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santa Marie-Thérèse Couderc</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Pendiri Kongregasi, Perintis Retret</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Merendahkan diri, setia dalam doa, dan menciptakan ruang spiritual bagi orang lain [11].<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Nilus Muda</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Abbas, Unifikasi Tradisi</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Pertobatan dan pengabdian total, menghargai keragaman, serta melestarikan warisan iman [18].<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Meugant</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Pertapa</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Menemukan kedalaman spiritual dalam kehidupan sederhana dan kontemplatif melalui doa yang konsisten [12].<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Kolman dari Elo</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Biarawan, Uskup</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Pentingnya komunitas rohani, kreativitas dalam doa, dan kerendahan hati dalam pelayanan [15].<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Eusebius dari Bologna</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Uskup, Pembela Iman</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Keberanian untuk mempertahankan ajaran Gereja dan menghargai warisan iman para pendahulu [14].<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Vigilius dari Brescia</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Uskup, Pembangun Gereja</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Partisipasi aktif dalam komunitas, membangun fondasi iman yang kuat, dan pelayanan sosial “.<sup>1</sup></div></td></tr><tr><td data-mtr-content="Nama Orang Kudus" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Santo Senator</div></td><td data-mtr-content="Karakteristik Kunci" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Martir</div></td><td data-mtr-content="Teladan bagi Pemuda Katolik Indonesia" class="mtr-td-tag"><div class="mtr-cell-content">Kesaksian iman yang tidak mengenal kompromi dan keberanian rohani di tengah situasi sulit <sup>1</sup>.<sup>1</sup></div></td></tr></tbody></table></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kesimpulan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah para kudus yang diperingati pada 26 September memberikan gambaran yang kaya dan beragam tentang apa artinya menjadi kudus. Melalui kisah mereka, pemuda Katolik Indonesia dapat melihat bahwa panggilan kekudusan bukanlah sebuah konsep yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan sebuah undangan praktis untuk menghidupi Injil dalam setiap tindakan.Dari Santo Kosmas dan Damianus, kita belajar bahwa profesi adalah ladang misi yang subur, dan pelayanan tanpa pamrih adalah salah satu bentuk pewartaan yang paling otentik dan kuat. Dari Santo Paus Paulus VI dan para uskup lainnya, kita belajar bahwa kekudusan membutuhkan kebijaksanaan, keberanian untuk menavigasi kompleksitas dunia, dan keteguhan hati dalam mempertahankan ajaran iman. Sementara itu, para biarawan dan pertapa mengajarkan pentingnya kehidupan rohani yang mendalam, baik dalam komunitas maupun dalam kesunyian. Pada akhirnya, semua kisah ini, meskipun dari era yang berbeda, menunjukkan bahwa kekudusan dapat diakses oleh semua orang, karena inti dari kekudusan adalah &#8220;melakukan yang baik&#8221;.<sup>1</sup> Dengan semangat pelayanan tanpa pamrih, keberanian yang tidak berkompromi, dan kebijaksanaan yang bijaksana, pemuda Katolik Indonesia diundang untuk menjadi para kudus modern yang dapat mengubah dunia di sekitar mereka, satu per satu, melalui setiap pilihan dan tindakan dalam hidup mereka.</p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/kisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fkisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=Kisah%20Para%20Kudus%2026%20September%20dan%20Relevansinya%20bagi%20Pemuda%20Katolik%20Indonesia&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fkisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Kisah%20Para%20Kudus%2026%20September%20dan%20Relevansinya%20bagi%20Pemuda%20Katolik%20Indonesia https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fkisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fkisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia%2F&t=Kisah%20Para%20Kudus%2026%20September%20dan%20Relevansinya%20bagi%20Pemuda%20Katolik%20Indonesia" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/kisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/kisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia/', 'Kisah%20Para%20Kudus%2026%20September%20dan%20Relevansinya%20bagi%20Pemuda%20Katolik%20Indonesia', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/kisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia/">Kisah Para Kudus 26 September dan Relevansinya bagi Pemuda Katolik Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/kisah-para-kudus-26-september-dan-relevansinya-bagi-pemuda-katolik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DRC: Kelompok bersenjata mematikan, milisi, dan pencuri menyerang institusi Gereja di Ituri</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/drc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/drc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rakam]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2025 17:08:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[dari blog tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[pastor]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/drc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri/</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-g0ZKSp.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="DRC: Deadly armed groups, militias, and thieves target Church institutions in Ituri" decoding="async" loading="lazy" /><!-- wp:html --></p>
<p>In the eastern Democratic Republic of Congo (DRC), the Church is once again reeling from yet another attack. During the night of 15 September and 16 September, assailants armed with hammers, knives, crowbars, and all manner of tools stormed a preparatory training school near the Bishop’s residence in the Mudzipela neighbourhood of the Shari community in Bunia, the Provincial city of Ituri Province.</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/africa/news/2025-09/drc-deadly-armed-groups-militias-and-burglars-target-chuch-in.html">Read all</a></p>
<p> </p>
<p><!-- /wp:html --></p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/drc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri/">DRC: Kelompok bersenjata mematikan, milisi, dan pencuri menyerang institusi Gereja di Ituri</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-g0ZKSp.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="DRC: Deadly armed groups, militias, and thieves target Church institutions in Ituri" decoding="async" loading="lazy" />
<p class="wp-block-paragraph">Di Republik Demokratik Kongo (DRC) bagian timur, Gereja kembali terguncang akibat serangan lainnya. Pada malam 15 dan 16 September, para penyerang bersenjata palu, pisau, linggis, dan berbagai macam peralatan menyerbu sebuah sekolah pelatihan persiapan di dekat kediaman Uskup di lingkungan Mudzipela, komunitas Shari di Bunia, kota di Provinsi Ituri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Paul Samasumo – Kota Vatikan.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Serangan tengah malam itu mengakibatkan seorang pendeta terluka saat para penyerang berupaya mencuri dari pusat pelatihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut <strong>Agenzia Fides</strong> , para penjahat awalnya menyerang dan menyiksa petugas keamanan dalam upaya untuk mendapatkan informasi tentang lokasi dana di tempat tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pastor Jean-Deogratias Budjona, Direktur Spiritual lembaga tersebut, mengatakan kepada kantor berita Gereja bahwa petugas keamanan meminta bantuan. Ketika salah satu pastor, Pastor Justin Logo, merespons, para penyerang memaksa masuk ke kediaman pastor tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Petugas keamanan mulai memanggil kami, dan saat itulah Pastor Justin Logo membuka pintu. Ketika menyadari ada pencuri tepat di depan pintu, ia mencoba menutup pintu, tetapi sudah terlambat—para penjahat itu menerobos masuk. Mereka kemudian menusuk lengan Pastor Logo,&#8221; kenang Pastor Budjona.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untungnya, para pendeta mampu membunyikan alarm, sehingga mendorong patroli militer di daerah tersebut untuk campur tangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini menandai serangan ketiga terhadap sekolah persiapan tersebut sejak Juli tahun ini. Paroki, pastoran, dan biara lain di Provinsi Ituri juga menjadi sasaran, termasuk di Lopa, Komanda, dan Nyakasanza.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kedekatan Paus Leo dengan Ituri</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Paus Leo XIV menyampaikan kesedihan dan kedekatan spiritual menyusul serangan mematikan pada Juli 2025 di Paroki Beato Anuarite di Komanda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misi penjaga perdamaian PBB di Republik Demokratik Kongo, MONUSCO, juga mengecam keras serangan yang dilakukan oleh Pasukan Demokratik Sekutu (ADF) pada malam 26 dan 27 Juli 2025. Lima puluh orang tewas, termasuk sembilan anak-anak. Beberapa lainnya terluka atau diculik oleh milisi. Toko-toko dan rumah-rumah dibakar. Sebagian besar korban adalah umat yang menghadiri acara doa malam di paroki tersebut.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kelompok bersenjata di Provinsi Ituri</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ituri diganggu oleh berbagai kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah tersebut, yang menyebabkan ketakutan, kematian, dan kehancuran yang meluas di kalangan warga sipil. Perampokan dan kekerasan yang terus-menerus telah berkontribusi signifikan terhadap ketidakamanan yang berkelanjutan, meskipun provinsi tersebut berada dalam keadaan terkepung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada bulan Mei 2021, pemerintah Kongo mengumumkan keadaan pengepungan luar biasa di Ituri dalam upaya untuk mengakhiri lebih dari tiga dekade perang, pemberontakan, dan konflik bersenjata.</p>



<h5>Artikel asli:</h5>
<p>In the eastern Democratic Republic of Congo (DRC), the Church is once again reeling from yet another attack. During the night of 15 September and 16 September, assailants armed with hammers, knives, crowbars, and all manner of tools stormed a preparatory training school near the Bishop’s residence in the Mudzipela neighbourhood of the Shari community in Bunia, the Provincial city of Ituri Province.</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/africa/news/2025-09/drc-deadly-armed-groups-militias-and-burglars-target-chuch-in.html">Read all</a></p>
<p> </p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/drc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fdrc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=DRC%3A%20Kelompok%20bersenjata%20mematikan%2C%20milisi%2C%20dan%20pencuri%20menyerang%20institusi%20Gereja%20di%20Ituri&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fdrc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=DRC%3A%20Kelompok%20bersenjata%20mematikan%2C%20milisi%2C%20dan%20pencuri%20menyerang%20institusi%20Gereja%20di%20Ituri https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fdrc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fdrc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri%2F&t=DRC%3A%20Kelompok%20bersenjata%20mematikan%2C%20milisi%2C%20dan%20pencuri%20menyerang%20institusi%20Gereja%20di%20Ituri" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/drc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/drc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri/', 'DRC%3A%20Kelompok%20bersenjata%20mematikan%2C%20milisi%2C%20dan%20pencuri%20menyerang%20institusi%20Gereja%20di%20Ituri', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/drc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri/">DRC: Kelompok bersenjata mematikan, milisi, dan pencuri menyerang institusi Gereja di Ituri</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/drc-deadly-armed-groups-militias-and-thieves-target-church-institutions-in-ituri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kepala Pengungsi PBB: Hak asasi manusia global terancam</title>
		<link>https://mengenalkatolik.my.id/un-refugee-chief-global-human-rights-at-risk/</link>
					<comments>https://mengenalkatolik.my.id/un-refugee-chief-global-human-rights-at-risk/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[rakam]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2025 15:51:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[dari blog tetangga]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[bapa suci]]></category>
		<category><![CDATA[gereja]]></category>
		<category><![CDATA[gereja katolik]]></category>
		<category><![CDATA[katolik]]></category>
		<category><![CDATA[vatikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mengenalkatolik.my.id/un-refugee-chief-global-human-rights-at-risk/</guid>

					<description><![CDATA[<p><img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-eQ9kd8.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="UN Refugee Chief: Global human rights at risk" decoding="async" loading="lazy" /><!-- wp:html --></p>
<p>Speaking to Vatican News following a private audience with Pope Leo XIV, the United Nations High Commissioner for Refugees says he is “tremendously encouraged” by the Holy Father’s support for his mission.</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/world/news/2025-09/interview-filippo-grandi-unhcr-chief-audience-pope-leo-xiv-righ.html">Read all</a></p>
<p> </p>
<p><!-- /wp:html --></p>
<p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/un-refugee-chief-global-human-rights-at-risk/">Kepala Pengungsi PBB: Hak asasi manusia global terancam</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<img width="150" height="150" src="https://mlkrwxyinbro.i.optimole.com/cb:XETF.11a7/w:150/h:150/q:mauto/rt:fill/g:ce/ig:avif/https://mengenalkatolik.my.id/wp-content/uploads/2025/09/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422-eQ9kd8.jpg" class="attachment-thumbnail size-thumbnail wp-post-image" alt="UN Refugee Chief: Global human rights at risk" decoding="async" loading="lazy" />
<p class="wp-block-paragraph">Berbicara kepada Vatican News setelah audiensi pribadi dengan Paus Leo XIV, Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi mengatakan dia &#8220;sangat terdorong&#8221; oleh dukungan Bapa Suci terhadap misinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh Francesca Sabatinelli dan Linda Bordoni</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Paus Leo XIV pada hari Kamis menerima Filippo Grandi, Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi, dalam audiensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbicara setelah audiensi pribadi, Grandi mengatakan kepada Vatican News bahwa ia sangat terdorong – namun tidak terkejut – untuk diyakinkan bahwa “keterlibatan, advokasi, dan karya Gereja Paus dalam mendukung para pengungsi dan migran, akan tetap sangat kuat dan sentral dalam kepausannya.” Dengarkan wawancara dengan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Filippo Grandi</p>



<p class="wp-block-paragraph"><audio src="https://media.vaticannews.va/media2/audio/s1/2025/09/18/15/138803544_F138803544.mp3" preload="metadata"></audio></p>



<p class="wp-block-paragraph">Komisaris Tinggi PBB juga mengungkapkan bahwa selama percakapannya dengan Paus, dibahas &#8220;situasi dunia yang sangat kompleks&#8221; dan berbagai krisis yang terus menyebabkan orang-orang mengungsi, termasuk, katanya, &#8220;pelanggaran hukum humaniter internasional yang memperburuk penderitaan warga sipil dan meningkatkan jumlah orang yang mengungsi.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mencatat bahwa ketika ia memulai masa jabatannya sebagai Komisaris Tinggi untuk Pengungsi, diperkirakan ada sekitar 60 hingga 65 juta pengungsi dan orang terlantar di seluruh dunia, ia berkata, “Saat ini jumlahnya dua kali lipat: lebih dari 120 juta.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini, kata Grandi, “merupakan salah satu gejala dunia yang sangat sulit, dan kami telah membicarakannya.”</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.vaticannews.va/content/dam/vaticannews/agenzie/images/srv/2025/09/18/11/1758188184666.JPG/_jcr_content/renditions/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422.jpeg" alt="Paus Leo XIV menerima Filippo Grandi dalam audiensi" title="Paus Leo XIV menerima Filippo Grandi dalam audiensi"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Paus Leo XIV menerima Filippo Grandi dalam audiensi (@VATICAN MEDIA)</p>



<h2 class="wp-block-heading">Situasi di Gaza</h2>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kami membahas situasi di Gaza, di mana UNHCR tidak memiliki mandat untuk beroperasi, tetapi penderitaan dan kesengsaraan yang ekstrem, serta penderitaan penduduknya, sebagai seorang humanitarian, saya hanya bisa merasa ngeri dan takut,&#8221; ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan ia melanjutkan, bukan hanya karena &#8220;hal ini memberikan kutukan yang mengerikan bagi masa depan rakyat Palestina, bukan hanya di Gaza, tetapi juga di Tepi Barat, tetapi juga karena hal ini akan berdampak buruk bagi keamanan Israel di masa depan.&#8221;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Hak asasi manusia global dalam bahaya</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Merenungkan konsekuensi global dari hal ini, Filippo Grandi berkata, “Saya yakin preseden yang diciptakan oleh negara-negara yang sangat kuat seperti Israel, seperti Rusia di Ukraina, sangat berbahaya bagi masa depan hak asasi manusia di seluruh dunia &#8211; hukum humaniter internasional &#8211; tetapi juga hak asasi manusia lainnya. Saya pikir sangat penting untuk merenungkan hal itu.”</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.vaticannews.va/content/dam/vaticannews/agenzie/images/ansa/2025/09/17/22/1758139920187.jpg/_jcr_content/renditions/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422.jpeg" alt="Seorang wanita Ukraina berusia 90 tahun dievakuasi dari desa asalnya di wilayah Donetsk" title="Seorang wanita Ukraina berusia 90 tahun dievakuasi dari desa asalnya di wilayah Donetsk"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang wanita Ukraina berusia 90 tahun dievakuasi dari desa asalnya di wilayah Donetsk (ANSA)</p>



<h2 class="wp-block-heading">Krisis yang terlupakan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Filippo Grandi menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas perhatian Paus dan Takhta Suci terhadap berbagai &#8220;krisis yang terlupakan&#8221; yang melanda dunia. Ia mengatakan bahwa setiap kali ia berkesempatan diterima di Vatikan, itu adalah kesempatan untuk membahas penderitaan banyak orang di seluruh dunia, jauh dari sorotan dan perhatian media arus utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Ini adalah salah satu dari sedikit tempat di mana terdapat kesadaran penuh, informasi dan keterlibatan yang sangat baik, bahkan dalam krisis yang tidak dibicarakan oleh siapa pun, seperti Sudan, Kongo, atau Myanmar,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua tempat, lanjutnya, di mana UNHCR sangat terlibat, dan ia menyampaikan terima kasih atas dukungan Takhta Suci dan Gereja Katolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya merasa, ujarnya, &#8220;sangat terdorong oleh dukungan, kemitraan, yang kita miliki sebagai sebuah organisasi, dengan Takhta Suci dan dengan Gereja Katolik, baik di tingkat akar rumput maupun di tingkat kelembagaan, dan oleh penegasan bahwa kesamaan pandangan dan kemitraan yang erat ini akan terus berlanjut di masa mendatang.&#8221;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.vaticannews.va/content/dam/vaticannews/agenzie/images/reuters/2025/07/18/13/1752836462931.JPG/_jcr_content/renditions/cq5dam.thumbnail.cropped.750.422.jpeg" alt="Warga Sudan yang melarikan diri mencari perlindungan di Chad" title="Warga Sudan yang melarikan diri mencari perlindungan di Chad"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Warga Sudan yang melarikan diri mencari perlindungan di Chad (ZOHRA BENSEMRA)</p>



<h5>Artikel asli:</h5>
<p>Speaking to Vatican News following a private audience with Pope Leo XIV, the United Nations High Commissioner for Refugees says he is “tremendously encouraged” by the Holy Father’s support for his mission.</p>
<p><a href="https://www.vaticannews.va/en/world/news/2025-09/interview-filippo-grandi-unhcr-chief-audience-pope-leo-xiv-righ.html">Read all</a></p>
<p> </p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<div style='clear:both'></div><div  class='the_champ_sharing_container the_champ_horizontal_sharing' data-super-socializer-href="https://mengenalkatolik.my.id/un-refugee-chief-global-human-rights-at-risk/"><div class='the_champ_sharing_title' style="font-weight:bold" >Bagikan</div><div class="the_champ_sharing_ul"><a aria-label="Facebook" class="the_champ_facebook" href="https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fun-refugee-chief-global-human-rights-at-risk%2F" title="Facebook" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#0765FE;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M28 16c0-6.627-5.373-12-12-12S4 9.373 4 16c0 5.628 3.875 10.35 9.101 11.647v-7.98h-2.474V16H13.1v-1.58c0-4.085 1.849-5.978 5.859-5.978.76 0 2.072.15 2.608.298v3.325c-.283-.03-.775-.045-1.386-.045-1.967 0-2.728.745-2.728 2.683V16h3.92l-.673 3.667h-3.247v8.245C23.395 27.195 28 22.135 28 16Z"></path></svg></span></a><a aria-label="X" class="the_champ_button_x" href="https://twitter.com/intent/tweet?via=ymakarius&text=Kepala%20Pengungsi%20PBB%3A%20Hak%20asasi%20manusia%20global%20terancam&url=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fun-refugee-chief-global-human-rights-at-risk%2F" title="X" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_x" style="background-color:#2a2a2a;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg width="100%" height="100%" style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="0 0 32 32"><path fill="#fff" d="M21.751 7h3.067l-6.7 7.658L26 25.078h-6.172l-4.833-6.32-5.531 6.32h-3.07l7.167-8.19L6 7h6.328l4.37 5.777L21.75 7Zm-1.076 16.242h1.7L11.404 8.74H9.58l11.094 14.503Z"></path></svg></span></a><a aria-label="Whatsapp" class="the_champ_whatsapp" href="https://api.whatsapp.com/send?text=Kepala%20Pengungsi%20PBB%3A%20Hak%20asasi%20manusia%20global%20terancam https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fun-refugee-chief-global-human-rights-at-risk%2F" title="Whatsapp" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#55eb4c;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="-6 -5 40 40"><path class="the_champ_svg_stroke the_champ_no_fill" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none" d="M 11.579798566743314 24.396926207859085 A 10 10 0 1 0 6.808479557110079 20.73576436351046"></path><path d="M 7 19 l -1 6 l 6 -1" class="the_champ_no_fill the_champ_svg_stroke" stroke="#fff" stroke-width="2" fill="none"></path><path d="M 10 10 q -1 8 8 11 c 5 -1 0 -6 -1 -3 q -4 -3 -5 -5 c 4 -2 -1 -5 -1 -4" fill="#fff"></path></svg></span></a><a aria-label="Instagram" class="the_champ_button_instagram" href="https://www.instagram.com/yuswanto_felisitas" title="Instagram" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#53beee;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" version="1.1" viewBox="-10 -10 148 148" width="100%" height="100%" xml:space="preserve" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink"><g><g><path d="M86,112H42c-14.336,0-26-11.663-26-26V42c0-14.337,11.664-26,26-26h44c14.337,0,26,11.663,26,26v44 C112,100.337,100.337,112,86,112z M42,24c-9.925,0-18,8.074-18,18v44c0,9.925,8.075,18,18,18h44c9.926,0,18-8.075,18-18V42 c0-9.926-8.074-18-18-18H42z" fill="#fff"></path></g><g><path d="M64,88c-13.234,0-24-10.767-24-24c0-13.234,10.766-24,24-24s24,10.766,24,24C88,77.233,77.234,88,64,88z M64,48c-8.822,0-16,7.178-16,16s7.178,16,16,16c8.822,0,16-7.178,16-16S72.822,48,64,48z" fill="#fff"></path></g><g><circle cx="89.5" cy="38.5" fill="#fff" r="5.5"></circle></g></g></svg></span></a><a aria-label="RSS Feed" class="the_champ_button_rss" href="https://mengenalkatolik.my.id/feed" title="RSS Feed" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_rss" style="background-color:#e3702d;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" viewBox="-4 -4 40 40" width="100%" height="100%"><g fill="#fff"><ellipse cx="7.952" cy="24.056" rx="2.952" ry="2.944"></ellipse><path d="M5.153 16.625c2.73 0 5.295 1.064 7.22 2.996a10.2 10.2 0 0 1 2.996 7.255h4.2c0-7.962-6.47-14.44-14.42-14.44v4.193zm.007-7.432c9.724 0 17.636 7.932 17.636 17.682H27C27 14.812 17.203 5 5.16 5v4.193z"></path></g></svg></span></a><a aria-label="WordPress" class="the_champ_button_wordpress" href="https://mengenalkatolik.my.id/wp-admin/press-this.php?u=https%3A%2F%2Fmengenalkatolik.my.id%2Fun-refugee-chief-global-human-rights-at-risk%2F&t=Kepala%20Pengungsi%20PBB%3A%20Hak%20asasi%20manusia%20global%20terancam" title="WordPress" rel="nofollow noopener" target="_blank" style="font-size:24px!important;box-shadow:none;display:inline-block;vertical-align:middle"><span class="the_champ_svg the_champ_s__default the_champ_s_wordpress" style="background-color:#464646;width:35px;height:35px;display:inline-block;opacity:1;float:left;font-size:24px;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box"><svg style="display:block;" focusable="false" aria-hidden="true" xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="100%" height="100%" viewBox="0 0 32 32"><circle fill="#fff" cx="16" cy="16" r="14.75"/><path class="the_champ_no_fill" fill="#464646" d="M3.176 16c0 5.076 2.95 9.462 7.226 11.54L4.287 10.78c-.712 1.595-1.11 3.36-1.11 5.22zm21.48-.646c0-1.586-.57-2.684-1.06-3.537-.647-1.058-1.26-1.95-1.26-3.008 0-1.18.897-2.278 2.156-2.278.057 0 .11.008.166.01-2.28-2.09-5.32-3.367-8.658-3.367-4.48 0-8.422 2.3-10.715 5.78.302.01.585.017.826.017 1.343 0 3.418-.164 3.418-.164.69-.042.774.974.084 1.056 0 0-.694.08-1.466.12l4.668 13.892 2.808-8.417-1.998-5.476c-.69-.04-1.345-.12-1.345-.12-.69-.04-.61-1.1.08-1.058 0 0 2.116.164 3.38.164 1.34 0 3.416-.163 3.416-.163.69-.04.77.976.08 1.058 0 0-.694.08-1.467.12l4.634 13.785 1.28-4.272c.552-1.773.975-3.048.975-4.144zm-8.43 1.766l-3.85 11.18c1.15.34 2.365.523 3.624.523 1.492 0 2.925-.26 4.26-.728-.035-.056-.066-.113-.093-.177L16.225 17.12zM27.25 9.848c.055.408.086.848.086 1.318 0 1.3-.242 2.764-.975 4.594l-3.916 11.324C26.26 24.86 28.822 20.73 28.822 16c0-2.23-.568-4.326-1.57-6.152z"/><path d="M16 1.052C7.757 1.052 1.052 7.757 1.052 16c0 8.242 6.705 14.948 14.948 14.948 8.242 0 14.948-6.706 14.948-14.95 0-8.24-6.706-14.946-14.948-14.946zm0 29.212c-7.865 0-14.264-6.4-14.264-14.265S8.136 1.734 16 1.734c7.863 0 14.264 6.398 14.264 14.263 0 7.863-6.4 14.264-14.264 14.264z"/></svg></span></a><a class="the_champ_more" title="More" rel="nofollow noopener" style="font-size:24px!important;border:0;box-shadow:none;display:inline-block!important;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align: middle;display:inline;" href="https://mengenalkatolik.my.id/un-refugee-chief-global-human-rights-at-risk/" onclick="event.preventDefault()"><span class="the_champ_svg" style="background-color:#ee8e2d;width:35px;height:35px;display:inline-block!important;opacity:1;float:left;font-size:32px!important;box-shadow:none;display:inline-block;font-size:16px;padding:0 4px;vertical-align:middle;display:inline;background-repeat:repeat;overflow:hidden;padding:0;cursor:pointer;box-sizing:content-box;" onclick="theChampMoreSharingPopup(this, 'https://mengenalkatolik.my.id/un-refugee-chief-global-human-rights-at-risk/', 'Kepala%20Pengungsi%20PBB%3A%20Hak%20asasi%20manusia%20global%20terancam', '' )"><svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" viewBox="-.3 0 32 32" version="1.1" width="100%" height="100%" style="display:block;" xml:space="preserve"><g><path fill="#fff" d="M18 14V8h-4v6H8v4h6v6h4v-6h6v-4h-6z" fill-rule="evenodd"></path></g></svg></span></a></div></div><div style='clear:both'></div><p>The post <a href="https://mengenalkatolik.my.id/un-refugee-chief-global-human-rights-at-risk/">Kepala Pengungsi PBB: Hak asasi manusia global terancam</a> appeared first on <a href="https://mengenalkatolik.my.id">Mengenal Katolik</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mengenalkatolik.my.id/un-refugee-chief-global-human-rights-at-risk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
