Menjadi Pewarta: Saksi Kehadiran Yesus yang Bangkit

Saksi Kehadiran Yesus yang Bangkit

Setiap tahun, saat merayakan Paskah, Gereja Katolik mengingatkan kita semua akan satu hal penting: kita dipanggil menjadi saksi kebangkitan Yesus Kristus. Seperti para perempuan dan murid-murid Yesus yang segera pergi untuk mengabarkan bahwa Tuhan telah bangkit (lih. Mat 28:8-10; Luk 24:9-12), kita pun diutus untuk menyampaikan kabar sukacita ini. Kita diminta untuk tidak hanya mengingat peristiwa itu, tetapi menghidupinya dan membagikannya kepada orang lain.

Kabar kebangkitan Yesus bukan hanya cerita masa lalu. Kebangkitan-Nya adalah peristiwa yang terus hidup dan menyertai hidup kita saat ini. Maka, menjadi pewarta berarti menjadi orang yang memberi kesaksian bahwa Yesus yang bangkit itu hadir, menyertai, dan berkarya dalam hidup manusia hingga kini.


Pewartaan Adalah Tugas Setiap Orang Beriman

Setiap orang yang telah dibaptis dalam nama Allah Tritunggal dipanggil untuk menjadi pewarta. Sakramen Baptis bukan hanya simbol keanggotaan Gereja, tetapi adalah tanda bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah (lih. Gal 3:26-27) dan murid-murid Kristus. Kita telah menerima tugas dari Kristus sendiri: โ€œPergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Kuโ€ฆ dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamuโ€ (Mat 28:19-20).

Dokumen Konsili Vatikan II, Lumen Gentium (no. 31), menegaskan bahwa kaum awam, melalui pembaptisan dan penguatan, diutus untuk menjadi saksi Kristus โ€œdi tengah duniaโ€. Artinya, bukan hanya para imam atau biarawan/biarawati yang berkewajiban mewartakan Injil, tetapi semua umat Katolik. Pewartaan bisa dilakukan dalam keluarga, lingkungan kerja, komunitas sosialโ€”di mana pun kita berada.


Apa yang Harus Diwartakan?

Hal utama yang perlu kita wartakan adalah bahwa Yesus telah bangkit dan hidup. Namun pewartaan ini tidak berhenti pada kata-kata saja. Kita diundang untuk menyampaikan bahwa kebangkitan Yesus sungguh nyata dalam hidup kita: melalui kasih, pengampunan, damai, harapan, dan perubahan hidup yang telah kita alami karena kasih Allah.

Pewartaan iman bukan tentang menceritakan diri sendiri, tetapi tentang bagaimana Allah berkarya dalam hidup kita. Seperti Santo Paulus berkata: โ€œHidupku bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam akuโ€ (Gal 2:20). Pengalaman pribadi bersama Yesus yang bangkit adalah kesaksian paling kuat yang dapat kita bagikan kepada orang lain.


Dasar Pewartaan: Kitab Suci, Doa, dan Pengalaman Hidup

Agar kita bisa mewartakan Yesus dengan baik, kita harus terlebih dahulu mengenal dan mengalami Dia secara pribadi. Tiga hal penting menjadi dasar pewartaan:

1. Kitab Suci

Kitab Suci adalah firman Allah yang hidup. Melalui Kitab Suci, kita mengenal siapa Yesus dan apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita. Gereja mendorong umat Katolik untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci secara teratur. Seperti dikatakan dalam Dei Verbum (no. 25), โ€œakses kepada Kitab Suci harus terbuka lebar bagi umat berimanโ€.

Tidak mungkin kita bisa mewartakan Kristus dengan benar kalau kita sendiri tidak mengenal-Nya melalui sabda-Nya.

2. Doa

Doa adalah nafas hidup orang beriman. Melalui doa, kita tidak hanya berbicara tentang Allah, tetapi berbicara dengan Allah. Doa menjadi kekuatan batin dalam menghadapi tantangan hidup dan tantangan dalam pewartaan. Bahkan Yesus sendiri selalu berdoa kepada Bapa sebelum melakukan pelayanan-Nya (lih. Mrk 1:35).

Dalam Evangelii Gaudium (2013), Paus Fransiskus menekankan bahwa pewartaan Injil tanpa hidup doa akan menjadi sia-sia. Kita harus menjadi murid yang berdoa, bukan hanya aktivis.

3. Pengalaman Iman Pribadi

Pengalaman akan kasih Allah yang mengubah hidup adalah inti dari pewartaan yang menyentuh hati. Ketika kita mengalami pengampunan, penghiburan, kekuatan, dan harapan dari Allah, itulah yang menjadi dasar kesaksian kita. Orang lain akan lebih tergerak oleh kesaksian nyata daripada ajaran teoritis.


Pewartaan dengan Semangat dan Keberanian

Menjadi pewarta kadang tidak mudah. Kita bisa merasa takut, ragu, atau tidak tahu harus berkata apa. Namun kita tidak sendiri. Seperti para rasul yang awalnya juga takut setelah Yesus wafat, mereka dipenuhi dengan keberanian setelah menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta (lih. Kis 2:1-13). Petrus yang dulunya menyangkal Yesus, kemudian tampil berani di depan orang banyak dan berkata: โ€œYesus inilah yang telah kamu salibkan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia!โ€ (Kis 2:36).

Itulah kuasa Roh Kudus. Kita pun diberi Roh Kudus dalam Sakramen Krisma untuk memberi kekuatan dalam bersaksi dan mewartakan iman kita. Dalam Christifideles Laici (1988), Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa setiap umat beriman awam memiliki tanggung jawab untuk โ€œmenjadi terang dunia dan garam duniaโ€ (Mat 5:13-16) di tempat hidupnya masing-masing.


Pewartaan Melalui Hidup Sehari-hari

Pewartaan tidak harus selalu dalam bentuk kotbah atau ceramah. Seringkali pewartaan yang paling kuat justru dilakukan lewat tindakan kecil: kejujuran dalam bekerja, kesetiaan dalam keluarga, membantu orang yang kesulitan, mengampuni yang menyakiti. Seperti dikatakan oleh Santo Fransiskus dari Assisi, โ€œBerwartalah setiap saat; jika perlu, gunakan kata-kata.โ€

Gereja Katolik mengajarkan bahwa kehidupan sehari-hari umat beriman adalah tempat di mana Kristus hadir dan bisa dikenal. Melalui kesaksian hidup, orang lain bisa melihat terang Kristus.


Kesimpulan: Kita Semua Diutus Menjadi Pewarta

Setiap orang Katolik dipanggil untuk menjadi pewarta kebangkitan Kristus. Kita tidak harus menjadi pengkhotbah hebat atau ahli teologi. Cukuplah kita menjadi pribadi yang hidup dalam iman, mengenal Sabda Allah, setia dalam doa, dan berani membagikan pengalaman kasih Allah dalam hidup kita.

Yesus mengutus kita semua: โ€œKamu akan menjadi saksi-Kuโ€ฆ sampai ke ujung bumiโ€ (Kis 1:8). Dan Ia pun berjanji, โ€œAku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zamanโ€ (Mat 28:20). Maka, mari kita jalani tugas perutusan ini dengan penuh sukacita dan keberanian.


Referensi Dokumen Gereja Katolik:

  • Kitab Suci (Alkitab Katolik, LAI, 2008)
  • Konsili Vatikan II: Lumen Gentium, Dei Verbum
  • Paus Yohanes Paulus II, Christifideles Laici (1988)
  • Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium (2013)
Bagikan

5 Replies to “Menjadi Pewarta: Saksi Kehadiran Yesus yang Bangkit

  1. Setelah membaca ini hati saya semakin tergerak akan menjadi pewarta, mulai memperbaiki hidup dalam Tuhan dengan tindakan kecil seperti kesetiaan, kejujuran, dan pengampunan karena tindakan kecil ini lah merupakan tindakan awal dari pewartaan. Saya ingin menjadi pembawa kabar gembira tentang Kristus itu sendiri.

  2. Setelah saya membaca artikel ini yang membahas tentang menjadi pewarta saksi Yesus yang bangkit. Saya tersentuh untuk menjadi pewarta yang setia kepada Yesus Kristus, karena sebagai seorang calon katekis pewarta memanglah tugas dan kewajiban saya nantinya. Namun jika saya juga bukan calon katekis saya tetap harus menjadi seorang pewarta bagi Yesus Kristus. Karena menjadi seorang pewarta bukan sekedar berkotbah atau ceramah. Tetapi menjadi seorang yang setia kepada Kristus tentang apa yang kita telah rasakan kehadiran Yesus Kristus dalam diri kita.
    Saya sebagai calon katekis telah sadar setelah membaca isi artikel ini ternyata menjadi seorang pewarta bukan lah mudah akan banyak rintangan, tantangan yang akan saya hadapi, rintangan dan tantangan yang saya akan hadapi. Apakah orang yang mendengar kan pewartaan saya bisa mendengar kan dan bisa menerapkan tentang pewartaan yang telah saya sampaikan atau tidak. Mereka ingin mendengar kan dan menerapkan pewartaan saya ketika saya bisa menjadi teladan yang baik bagi mereka. Jika saya hanya mewartakan dengan kata kata atau bicara saja tanpa melalui tindakan itu sama saja berarti saya bukan orang yang bisa menjadi pewarta bagi Yesus Kristus dan bukan menjadi teladan bagi umat. Ada istilah mengatakan Ora Et Labora yang artinya bekerja dan berdoa. Dalam artian kata kata ini menjadi contoh bagi saya bahwa menjadi pewarta harus berdoa dan melayani atau bekerja untuk umat. Sehingga saya dapat menjadi teladan bagi umat yang saya wartakan tentang Yesus Kristus yang menjadi keselamatan bagi umat manusia.

  3. Bagian ini menjadi pewarta berarti bersaksi tentang Yesus yang bangkit melalui perkataan dan perbuatan. Sebagai saksi, kita dipanggil untuk membawa sukacita, harapan, dan kasih Kristus kepada orang lain dalam kehidupan kita. Kehadiran Yesus yang bangkit harus nyata dalam sikap, pelayanan dan cara kita memperlakukan sesama.

  4. setelah membaca artikel ini hati saya semakin tergerak untuk menjadi pewarta Kristus, yang dimana bukan hanya sekedar kata-kata melainkan juga bukti nyata dari tindakan saya dalam kehidupan sehari-hari. apalagi saya sebagai calon katekis atau guru PAK yang harus menghidupi Iman saya melalui Doa yang termasuk berkomunikasi dengan Tuhan. kemudian saya juga sebelum mewartakan Injil kepada umat, saya terlebih dahulu introspeksi diri apakah saya sudah memahami tentang kebenaran sabda Allah. semoga melalui artikel ini kita semakin sadar akan tugas kita untuk menjadi seorang pewarta sabda Allah ditengah dunia yang semakin berkembang ini. karena bukan hanya seorang imam yang dapat mewartakan Injil tetapi Kita kaum awam juga bisa. walaupun kita menghadapi berbagai tantangan dalam Mewartakan Injil, jangan takut percayalah Tuhan selalu menyertai niat baik kita.
    Terimakasih ๐Ÿ™

  5. setelah saya membaca artikel ini hidup Saya semakin tergerak untuk menjadi pewarta. saya akan mencoba menjadi pribadi yang baik, Jujur, rendah hati,dan taat kepada perintah Allah, apalagi saya sebagai calon guru agama katolik yang nantinya akan mengajar sekali gus menjadi pewarta / saksi Kristus saya harus siap menghidupi iman melalui doa yang termasuk komunikasi saya dengan tuhan .
    menjadi pewarta bukan hanya menceritakan diri sendiri tetapi mewartakan Injil dan karya Allah kepada sesama .

Post your Comment About This Product

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *