Pope: May blood of ‘martyrs’ in DRC church attack become seed of peace

Pope: May blood of  ‘martyrs’  in DRC church attack become seed of peace

Paus Leo XIV menyampaikan duka cita dan kedekatan spiritualnya setelah serangan mematikan di Paroki Beato Anuarite di Komanda, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo.

Oleh Vatican News

“Semoga darah para martir ini menjadi benih perdamaian, rekonsiliasi, persaudaraan, dan kasih bagi rakyat Kongo,” tulis Paus dalam pesannya setelah serangan brutal terhadap sebuah Gereja Katolik di kota Komanda, Republik Demokratik Kongo.

Hampir 40 orang tewas pada hari Minggu di Provinsi Ituri, Kongo timur, ketika pemberontak menyerbu sebuah gereja Katolik saat sedang berjaga dan menembaki para jemaat.

Setidaknya 38 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, dipastikan tewas di gereja tersebut, sementara lima lainnya tewas di desa terdekat.

Dalam telegram yang ditujukan kepada Uskup Agung Mugalu, Presiden Konferensi Waligereja Kongo atas nama Paus, Kardinal Pietro Parolin mengatakan, “Yang Mulia Paus Leo XIV mengetahui dengan cemas dan duka yang mendalam atas serangan yang dilakukan terhadap Paroki Beato Anuarite di Komanda, yang menyebabkan tewasnya beberapa umat beriman yang sedang berkumpul untuk beribadah.”

Tragedi ini, lanjutnya, “memanggil kita untuk semakin mendesak upaya pembangunan manusia seutuhnya bagi para martir di wilayah tersebut.”

Menutup telegram tersebut, Paus Leo XIV menyampaikan Berkat Apostoliknya kepada Paroki Beato Anuarite, keluarga yang berduka, umat beriman Republik Demokratik Kongo, dan seluruh bangsa.

Milisi Ekstremis

Menurut otoritas Kongo, serangan di kota Komanda di wilayah yang dilanda konflik tersebut dilakukan oleh Pasukan Demokratik Sekutu, sebuah kelompok pemberontak yang didukung oleh ISIS yang sebagian besar menargetkan penduduk desa di Kongo timur dan di seberang perbatasan di Uganda.

ADF berakar di Uganda pada tahun 1990-an. Setelah penggulingan diktator Idi Amin yang berkuasa lama, sebuah koalisi yang terdiri dari berbagai kelompok yang tidak puas menganggap pemerintahan baru Presiden Uganda Yoweri Museveni sebagai anti-Muslim. Sejak saat itu, kelompok ini telah berkembang menjadi kekuatan yang kuat, tetapi telah terusir dari wilayah Uganda dan kini beroperasi di wilayah perbatasan antara Uganda dan Kongo, seringkali menyasar warga sipil di desa-desa terpencil.

Bagikan

Post your Comment About This Product

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *