Prolog: Panggilan Abadi dari Sejarah
Setiap tahun, pada tanggal 10 September, Gereja Katolik di seluruh dunia merayakan Pesta Santo Theodardus dari Maastricht. Peringatan ini sering kali luput dari perhatian publik, tergeser oleh hiruk-pikuk peristiwa kontemporer. Namun, di balik figur yang terkesan kuno dari abad ke-7, terdapat sebuah kisah yang luar biasaโsebuah teladan hidup, keberanian moral, dan pengorbanan heroik yang bergema kuat dan secara mengejutkan relevan dengan tantangan sosial dan moral yang dihadapi bangsa Indonesia hari ini. Theodardus bukanlah sekadar pahlawan di masa lalu; ia adalah sebuah mercusuar yang menawarkan petunjuk jalan bagi mereka yang berjuang melawan ketidakadilan, korupsi, dan intoleransi di era modern.
Penting untuk memulai dengan sebuah klarifikasi mendasar. Nama โTheodardusโ kadang-kadang tertukar dengan nama โTheodorus.โ Keduanya adalah santo yang dihormati Gereja Katolik, tetapi mereka adalah dua pribadi yang berbeda dengan kisah dan pesta yang terpisah. Santo Theodardus dari Maastricht, yang menjadi fokus tulisan ini, adalah seorang uskup martir yang pestanya dirayakan pada 10 September. Sementara itu, Santo Theodorus dari Tarsus, yang lebih dikenal sebagai Uskup Agung Canterbury, dihormati pada 19 September.1 Membedakan kedua figur ini sejak awal adalah langkah penting untuk memahami secara akurat kekhasan dan signifikansi spiritual dari perjuangan Santo Theodardus dari Maastricht.
Bagian I: Perjalanan dan Kemuliaan Seorang Uskup Martir
1.1. Latar Belakang dan Panggilan Hidup
Kisah Santo Theodardus dimulai di wilayah Aquitania, yang kini menjadi bagian dari Prancis modern. Ia dilahirkan sekitar tahun 620 dan sejak usia muda, ia sudah merasakan panggilan untuk menjalani kehidupan religius yang mendalam.2 Dorongan spiritual ini membawanya untuk bergabung dengan Ordo Benediktin. Di dalam lingkungan biara, ia menjadi murid spiritual dari Santo Remaclus.2 Nama Theodardus sendiri, yang berasal dari bahasa Jermanik โTheudehard,โ memiliki makna yang profetis: โPemberaniโ atau โOrang Kuat.โ Makna ini akan terwujud sepenuhnya dalam perjalanan hidupnya.2
Pada tahun 653, Theodardus ditunjuk untuk menggantikan mentornya, Remaclus, sebagai abbas Biara Benediktin di Malmรฉdy-Stavelot, sebuah biara ganda yang kini berada di wilayah Belgia.3 Dalam perannya sebagai abbas, Theodardus menunjukkan kualitas kepemimpinan yang luar biasa. Biografi dari abad ke-7, yang kemungkinan besar ditulis oleh Heriger dari Lobbes, menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang ceria dan disukai oleh komunitasnya.4 Ia adalah seorang pemimpin yang tegas dalam menegakkan disiplin hidup membiara, tetapi pada saat yang sama, ia juga dikenal sangat lemah lembut dan memiliki sifat kebapaan. Perpaduan antara ketegasan dan kelembutan ini membuatnya sangat dihormati dan dicintai oleh seluruh komunitas biara.3 Pengalamannya sebagai seorang abbas yang efektif dan dicintai inilah yang membentuk landasan bagi peran yang lebih besar yang akan ia emban di masa depan.
1.2. Pertarungan Sang Gembala: Melawan Keserakahan dan Ketidakadilan
Pada tahun 662, Theodardus ditahbiskan menjadi Uskup Maastricht di Belanda. Di posisi ini, ia terkenal karena kesalehan hidup dan kegigihannya dalam mengemban tugas pastoralnya.3 Biografinya mencatat bahwa ia melakukan pekerjaan yang luar biasa dengan membangun dan memulihkan gereja, mendirikan biara, mempromosikan evangelisasi, serta menyalurkan bantuan amal kepada mereka yang membutuhkan.4 Namun, selain tugas-tugas rohani yang ia jalankan, ada satu perjuangan lain yang mendefinisikan pelayanannya: perjuangan melawan ketidakadilan struktural.

Pada masa itu, Keuskupan Maastricht-Liรจge berada di bawah ancaman konstan dari bangsawan-bangsawan Frank yang serakah.5 Para bangsawan ini terus-menerus menjarah wilayah keuskupan, memeras umat, dan mencoba menguasai tanah-tanah milik Gereja. Theodardus, sebagai gembala yang sejati, tidak tinggal diam menyaksikan penindasan ini. Ia dengan gagah berani membela umatnya yang menjadi korban eksploitasi dan berjuang mati-matian untuk mempertahankan hak milik Gereja dari penguasaan para bangsawan yang tamak.3 Perlawanan ini bukanlah sebuah pemberontakan pasif; ia adalah perjuangan seorang pemimpin yang bertekad untuk melindungi kawanan dombanya.
Puncak dari konflik ini terjadi ketika Theodardus memutuskan untuk mengambil langkah berani. Demi membela hak-hak umatnya dan mempertahankan properti Gereja, ia memutuskan untuk mengajukan protes keras dan menuntut keadilan langsung kepada Raja Childeric II.3 Keputusan ini menunjukkan bahwa Theodardus tidak hanya melawan musuh di tingkat lokal, tetapi ia berani menantang kekuasaan tertinggi yang korup. Perjalanan berbahaya untuk mencari keadilan ini menjadi misi terakhirnya. Perjuangan Theodardus menunjukkan bahwa kemartirannya tidak hanya didasari oleh penolakan iman semata, melainkan merupakan konsekuensi langsung dari tindakannya membela keadilan sosial dan melawan ketidakadilan ekonomi. Ia dibunuh bukan karena ia seorang uskup yang melakukan tugas-tugas rohaninya, tetapi karena ia adalah seorang uskup yang berani melawan kekuasaan yang korup.
1.3. Jalan Kemuliaan: Kematian sebagai Kesaksian Tertinggi
Kisah perjuangan Theodardus mencapai puncaknya di hutan Bienwald, dekat kota Speyer, Jerman. Dalam perjalanannya untuk menghadap Raja Childeric II, sekitar tahun 670, uskup yang gigih ini dibunuh secara keji. Secara umum, pembunuhan ini diduga kuat dilakukan oleh para bangsawan serakah yang menyewa pembunuh bayaran untuk menghentikan misi Theodardus.4

Karena Theodardus dibunuh saat sedang dalam misi โmempertahankan hak Gerejaโ dan โmelindungi dombanya,โ ia dihormati sebagai martir.4 Kematiannya dianggap sebagai โkemuliaan dari Tuhanโ karena ia memberikan โkesaksian tertinggi kepada kebenaran iman: itu berarti bersaksi sampai mati,โ sebagaimana yang diajarkan oleh Katekismus Gereja Katolik.8 Kematiannya bukanlah akhir yang tragis, melainkan sebuah puncak pengorbanan yang heroik. Ia menunjukkan kepada dunia kekuatan Roh Kudus yang memungkinkan seseorang untuk mencintai Tuhan dan sesama dengan cara yang paling heroik.9 Kemartiran adalah jalan salib yang meniru pengorbanan Yesus, di mana tubuh yang โterkoyakโ dan darah yang โtercurahโ menjadi tanda cinta kasih yang rela berkorban.9
Kehidupan dan kemartiran Theodardus menggenapi pepatah kuno yang terkenal dari Tertullian, โDarah para martir adalah benih orang Kristenโ.8 Kematiannya yang berani tidak sia-sia, tetapi menjadi benih yang menumbuhkan keteladanan abadi yang terus menginspirasi generasi demi generasi. Ia menunjukkan bahwa iman yang sejati tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk keadilan, dan bahwa kesetiaan kepada Allah juga berarti kesetiaan kepada sesama yang tertindas.
Bagian II: Gema Theodardus dalam Realitas Indonesia Masa Kini
Keteladanan Santo Theodardus bukanlah sebuah artefak sejarah yang terisolasi, melainkan sebuah prinsip hidup yang relevan dan dapat diterapkan dalam menghadapi tantangan modern. Indonesia, sebagai sebuah negara yang sedang berjuang melawan berbagai masalah internal, dapat menemukan cerminan dan bimbingan dalam kisah uskup martir ini.
2.1. Wabah Korupsi: โBangsawanโ Modern dan Eksploitasi Publik
Theodardus berjuang melawan bangsawan Frank yang menjarah keuskupannya, sebuah tindakan yang pada dasarnya merupakan bentuk korupsi dan penindasan ekonomi.3 Di Indonesia, perjuangan serupa terus berlangsung dalam bentuk yang berbeda. Korupsi adalah โpenjarahanโ modern yang dilakukan oleh para โbangsawanโ dan elit kekuasaan kontemporer. Mereka tidak lagi menggunakan pedang, tetapi menggunakan sistem dan jabatan untuk memperkaya diri sendiri dengan merampas hak dan kekayaan publik.
Kasus korupsi yang marak diberitakan menjadi bukti nyata dari fenomena ini. Sebagai contoh, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru-baru ini menahan empat tersangka baru, termasuk Sekretaris Daerah dan Anggota DPRD Kota Bandung, dalam kasus korupsi proyek โSmart Cityโ.10 Para pejabat ini diduga menerima gratifikasi dan mengalihkan anggaran proyek sebesar sekurang-kurangnya Rp1 Miliar untuk kepentingan pribadi, sebuah tindakan yang secara langsung menjarah dana publik yang seharusnya digunakan untuk kemajuan kota. Di tingkat lokal, Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) mencatat bahwa kasus korupsi di Aceh pada tahun 2024 didominasi oleh penyelewengan dana desa.11 Dana yang seharusnya memberdayakan masyarakat di tingkat paling bawah justru dirampok oleh oknum-oknum yang berkuasa.
Pola kausalitas antara penjarahan abad ke-7 oleh bangsawan Frank dengan korupsi kontemporer di Indonesia sangat jelas. Keduanya adalah contoh di mana elit berkuasa menggunakan posisinya untuk memperkaya diri sendiri dengan menjarah hak dan kekayaan publik. Theodardus memilih untuk melawan, sebuah tindakan yang berujung pada kematiannya. Keberaniannya ini menjadi cerminan dan tantangan bagi masyarakat Indonesia untuk tidak berdiam diri menghadapi korupsi, melainkan berani menentang dan membela hak-hak publik.
Tabel berikut menggambarkan paralel antara perjuangan Theodardus dan tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini:
Aspek Perjuangan Santo Theodardus (Abad ke-7) | Isu Terkini di Indonesia (Abad ke-21) | Nilai Keteladanan Theodardus yang Relevan |
Melawan โpenjarahanโ oleh bangsawan Frank. | Kasus korupsi proyek โSmart Cityโ Bandung dan dana desa. | Integritas dan anti-korupsi. |
Membela hak milik Gereja dan umat. | Konflik dan diskriminasi terkait tempat ibadah. | Keberanian membela hak minoritas dan yang tertindas. |
Mencari keadilan dari penguasa yang korup. | Sulitnya akses keadilan hukum bagi warga miskin. | Perjuangan untuk keadilan sosial. |
Menunjukkan โkegigihanโ dan keberanian moral. | Tantangan integritas di lingkungan birokrasi dan politik. | Sikap โPemberaniโ atau โOrang Kuatโ dalam menghadapi tantangan. |
2.2. Perjuangan Keadilan Sosial dan Hukum
Perjalanan Theodardus yang penuh risiko untuk mencari keadilan ke hadapan raja merupakan refleksi tragis dari sebuah sistem hukum yang berpihak pada kekuasaan dan menempatkan nyawa pembela kebenaran dalam bahaya.4 Hal ini memiliki kesamaan yang mencolok dengan situasi di Indonesia. Aktivis HAM terkemuka, Haris Azhar, telah berulang kali menegaskan bahwa warga miskin masih menghadapi kesulitan besar untuk mendapatkan akses terhadap keadilan hukum.12

Haris Azhar menjelaskan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah sering kali dikriminalisasi ketika mereka mencoba mempertahankan hak-haknya dari kebijakan pemerintah, seperti dalam kasus Proyek Strategis Nasional (PSN).12 Protes yang mereka lakukan sering dianggap sebagai sengketa hukum dan dapat berujung pada tindakan kriminalisasi. Situasi ini menciptakan ketakutan dan posisi yang tidak seimbang di mata hukum. Perjuangan Theodardus adalah perjuangan universal melawan ketidakadilan struktural, sebuah tema yang masih sangat relevan hingga hari ini, di mana keadilan tidak dapat diakses secara merata. Kisahnya mengingatkan bahwa membela hak-hak kaum tertindas adalah tugas yang mulia, meskipun jalan yang ditempuh penuh dengan bahaya.
2.3. Toleransi dan Persatuan: Membela Dignitas dan Hak Berkeyakinan
Selain korupsi dan ketidakadilan hukum, Indonesia juga menghadapi tantangan kompleks dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Isu-isu seperti intoleransi, diskriminasi, konflik terkait tempat ibadah, dan penyebaran ujaran kebencian di media sosial masih terus terjadi.13 Di sinilah teladan Theodardus kembali menemukan relevansinya. Pembelaannya terhadap โhak milik Gerejaโ dapat diinterpretasikan dalam konteks modern sebagai pembelaan terhadap hak-hak komunitas agama minoritas dan hak atas keyakinan itu sendiri.3
Keberanian Theodardus untuk tidak membiarkan bangsawan mengambil properti Gereja dapat menjadi inspirasi bagi setiap warga negara untuk tidak membiarkan intoleransi dan diskriminasi merampas hak-hak warga negara untuk beribadah dan hidup damai. Sikap Theodardus yang โgigihโ dalam membela kawanan dombanya adalah model yang harus diikuti oleh setiap individu dalam membela hak asasi manusia dan mempromosikan perdamaian di Indonesia. Perjuangan untuk toleransi dan keadilan berkeyakinan adalah sebuah bentuk โmartyrdomโ modern, di mana seseorang harus rela mengorbankan kenyamanan, popularitas, atau bahkan keamanan demi membela prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan bagi semua.
Bagian III: Teladan Sejati: Menghidupi Semangat Theodardus di Masa Kini
3.1. Pahlawan Integritas Kontemporer
Meskipun kemartiran Theodardus berujung pada kematian fisik, semangatnya dapat dihidupi dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus menghadapi bahaya serupa. Sejarah bangsa Indonesia sendiri kaya akan figur-figur yang menunjukkan integritas luar biasa, yang dapat dianggap sebagai โTheodardusโ modern. Keteladanan mereka menunjukkan bahwa semangat Theodardus yang rela mati demi prinsipnya dapat diwujudkan melalui komitmen moral yang teguh dalam hal-hal kecil.
Salah satunya adalah H. Agus Salim, seorang tokoh bangsa yang jenius dan menguasai sembilan bahasa.15 Ketika ia direkomendasikan untuk menerima beasiswa kedokteran dari Belanda yang semula ditujukan untuk R.A. Kartini, ia menolaknya. Ia menolak beasiswa itu karena merasa tidak berhak, sebab beasiswa itu bukan hasil dari jerih payahnya sendiri. Sikap berintegritasnya juga terlihat dari gaya hidupnya yang sederhana. Meskipun menjabat sebagai menteri, ia sengaja hidup mengontrak di rumah yang bahkan atapnya bocor saat hujan. Sikap ini sulit dibayangkan di masa kini di mana banyak pejabat memanfaatkan jabatannya untuk hidup mewah.15
Figur lain adalah Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso. Integritasnya sangat terkenal, bahkan di tingkat personal. Sehari sebelum dilantik sebagai Kepala Jawatan Imigrasi, ia meminta istrinya untuk menutup toko kembang mereka. Ia beralasan bahwa ia khawatir semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan bunga dari toko istrinya, dan ia menganggap hal itu tidak adil bagi toko-toko kembang lain.15 Kisah lain menceritakan bagaimana ia menolak rumah dinasnya yang dipenuhi barang-barang mewah dari bandar judi, dan memilih untuk mengembalikan semuanya ke tepi jalan.15 Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa teladan Theodardusโyang rela mati untuk mempertahankan prinsipnyaโdapat diwujudkan dalam kehidupan modern dengan menolak godaan kekuasaan dan kekayaan demi kebenaran dan keadilan.
3.2. Martir Sehari-hari: Kesaksian dalam Tindakan
Konsep โmartirโ dapat diperluas dari โsaksi yang matiโ menjadi โsaksi yang hidup.โ Menjadi martir di era modern adalah tentang keberanian moral, keteguhan hati, dan komitmen untuk melawan korupsi dan ketidakadilan setiap hari. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sendiri telah meluncurkan kampanye yang menekankan partisipasi publik dalam pemberantasan korupsi, yang mereka sebut sebagai โTrisula Pemberantasan Korupsiโ yang terdiri dari penindakan, pencegahan, dan pendidikan.16 Dalam kampanye ini, KPK menekankan bahwa peran masyarakat tidak harus berupa tindakan besar seperti menangkap koruptor.17
KPK mendorong masyarakat untuk mengambil bagian dalam perjuangan antikorupsi dengan tindakan sederhana seperti โlike, share, and mentionโ konten anti-korupsi di media sosial.17 Tindakan-tindakan kecil ini, yang terkesan remeh, adalah bentuk โkesaksianโ yang paling demokratis dan terjangkau di era modern. Setiap orang dapat menjadi โsaksi kebenaran,โ sebuah โmartirโ dalam arti kontemporer, dengan mengambil tindakan sekecil apa pun untuk melawan ketidakadilan yang merajalela. Ini menunjukkan bahwa semangat Theodardus, yang rela mati untuk keadilan, dapat dihidupi dalam kehidupan sehari-hari melalui komitmen dan tindakan nyata, baik itu dalam menolak suap, melaporkan kecurangan, atau menyebarkan pesan integritas.
Kesimpulan: Warisan Abadi untuk Indonesia Masa Depan
Santo Theodardus dari Maastricht (Martir) adalah figur yang lebih dari sekadar tokoh sejarah yang dirayakan pada tanggal 10 September. Ia adalah simbol perlawanan yang abadi terhadap penindasan, keserakahan, dan ketidakadilan. Kematiannya yang heroik adalah manifestasi tertinggi dari iman yang harus diekspresikan dalam tindakan nyata, dalam perjuangan untuk membela martabat manusia dan kebenaran. Kisahnya adalah pengingat bahwa jalan menuju kemuliaan tidak selalu mudah, dan terkadang memerlukan pengorbanan yang ekstrem.

Theodardus mengajarkan kita bahwa perjuangan untuk keadilan, integritas, dan toleransi adalah sebuah panggilan suci yang relevan sepanjang zaman. Di tengah tantangan yang dihadapi Indonesiaโwabah korupsi yang masif, ketidakadilan sosial, dan kerapuhan kerukunan antar umat beragamaโteladan Theodardus adalah sebuah kompas moral yang tak ternilai. Ia mengajak setiap individu, khususnya umat Katolik Indonesia, untuk menginternalisasi semangatnya: menjadi โpemberaniโ dan โorang kuat.โ Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, berkomitmen untuk melawan korupsi, memperjuangkan keadilan, serta mempromosikan perdamaian dan toleransi. Dengan menghidupi semangat Theodardus, kita dapat berkontribusi pada pembangunan sebuah Indonesia yang lebih adil, beradab, dan bermartabat.
Works cited
- Santo Theodorus โ Katakombe.Org, accessed September 9, 2025
- Theodardus โ Katakombe.Org, accessed September 9, 2025
- Santo Theodardus : 10 September | Mirifica News, accessed September 9, 2025
- Theodard of Maastricht โ Wikipedia, accessed September 9, 2025
- en.wikipedia.org, accessed September 9, 2025
- St. Theodard of Maastricht โ Saints & Angels โ Catholic Online, accessed September 9, 2025
- Today is the memorial of St. Theodard of Maastricht. A bishop of Liรจge (modern day Netherlands) in the 7th Century he was martyred on his way to seek justice from the King of the Franks, whose nobles had been plundering his diocese and had hired assassins to execute him. : r/Catholicism โ Reddit, accessed September 9, 2025
- What is the Churchโs teaching on martyrdom? โ Catholic Straight Answers, accessed September 9, 2025
- Prayer in Memory of the Martyrs โ The Catholic Diocese of Fort Wayne-South Bend, accessed September 9, 2025
- KPK Tahan 4 Tersangka Pengembangan Perkara Korupsi โฆ, accessed September 9, 2025
- Kasus Korupsi di Aceh pada 2024 Didominasi Dana Desa, accessed September 9, 2025
- Haris Azhar: Warga Miskin Masih Sulit Mendapat Akses Keadilan โฆ, accessed September 9, 2025
- Menjaga Kerukunan Umat Beragama : Tantangan dan Solusi di Era โฆ, accessed September 9, 2025
- Tantangan Kerukunan Umat Beragama Semakin Kompleks โ Waspada Online, accessed September 9, 2025
- Kisah-Kisah Teladan Berintegritas Para Tokoh Bangsa โ ACLC KPK, accessed September 9, 2025
- Trisula Strategi Pemberantasan Korupsi KPK untuk Indonesia Bebas Korupsi, accessed September 9, 2025
- Perkuat Barikade di Segala Lini, KPK Luncurkan Kampanye Antikorupsi 2025, accessed September 9, 2025