Sejarah Tersusunnya Kitab Suci dalam Gereja Katolik

Sejarah Tersusunnya Kitab Suci dalam Gereja Katolik1

(Sebuah Narasi Teologis Populer Berdasarkan Magisterium dan Dokumen Gereja Terkini)

Bagi umat Katolik, Kitab Suci bukanlah sekadar buku kuno yang menceritakan sejarah bangsa Israel atau ajaran Yesus Kristus. Kitab Suci adalah Sabda Allah yang hidup, ditulis dalam bahasa manusia, tetapi diinspirasikan oleh Roh Kudus. Karena itu, Gereja Katolik tidak hanya menghargai Kitab Suci sebagai warisan iman, tetapi juga menegaskannya sebagai fondasi iman bersama Tradisi dan Magisterium Gereja.

Namun, banyak orang bertanya: โ€œBagaimana sebenarnya Kitab Suci Katolik tersusun? Siapa yang memutuskan kitab mana yang masuk, dan kitab mana yang tidak? Mengapa ada perbedaan dengan Kitab Suci Kristen lain?โ€

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting. Untuk menjawabnya, kita harus menelusuri sejarah panjangโ€”dari zaman para nabi, karya para rasul, hingga keputusan konsili Gereja. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana Kitab Suci Katolik terbentuk, berdasarkan ajaran resmi Gereja Katolik dan dokumen-dokumen magisterial terkini, khususnya Konsili Vatikan II (Dei Verbum), serta Katekismus Gereja Katolik.


1. Kitab Suci sebagai Sabda Allah

Gereja Katolik menegaskan bahwa Kitab Suci adalah Sabda Allah yang ditulis dengan inspirasi Roh Kudus. Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 105 menulis:

โ€œAllah adalah pengarang Kitab Suci. Kebenaran yang diwahyukan oleh Allah, yang terkandung dan dituliskan di dalam Kitab Suci, disampaikan atas ilham Roh Kudus.โ€

Dengan kata lain, Kitab Suci memang ditulis oleh manusia, tetapi bukan manusia yang menjadi pusatnya. Allah adalah pengarang utama, sedangkan para penulis manusia adalah pengarang sejati yang dipimpin oleh Roh Kudus. Maka, Kitab Suci adalah pertemuan misteri antara yang ilahi dan yang manusiawi.


2. Dari Tradisi Lisan ke Tulisan

Pada awalnya, iman umat Allah tidak langsung dituangkan dalam bentuk tulisan. Dalam Perjanjian Lama, pengalaman iman bangsa Israel diwariskan secara lisan: kisah penciptaan, panggilan Abraham, keluaran dari Mesir, dan nubuat para nabi. Baru kemudian, pengalaman iman ini dituliskan dalam bentuk kitab-kitab.

Proses yang sama terjadi pada Perjanjian Baru. Yesus sendiri tidak pernah menulis satu kitab pun. Ia mengajar, menyembuhkan, dan mewartakan Kerajaan Allah. Setelah wafat dan kebangkitan-Nya, para rasul mewartakan Injil secara lisan kepada berbagai komunitas. Hanya setelah beberapa puluh tahun, barulah kisah Yesus ditulis dalam bentuk Injil dan surat-surat.

Dengan demikian, Tradisi Lisan mendahului Kitab Suci tertulis. Hal ini penting, sebab Gereja Katolik selalu menegaskan bahwa Kitab Suci tidak bisa dipisahkan dari Tradisi. Keduanya lahir dari wahyu yang sama dan dijaga oleh Magisterium (lihat Dei Verbum 9-10).


3. Perjanjian Lama: Warisan Iman Israel

Kitab-kitab Perjanjian Lama adalah warisan iman bangsa Israel. Kitab-kitab ini disusun dalam jangka waktu berabad-abad, dari abad ke-10 SM sampai abad ke-2 SM. Isinya mencakup:

  1. Kitab Taurat (Pentateukh): Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan.
  2. Kitab Sejarah: Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja, dsb.
  3. Kitab Kebijaksanaan: Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kebijaksanaan, Sirakh.
  4. Kitab Nabi-nabi: Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Daniel, serta nabi-nabi kecil.

Di sinilah muncul perbedaan: umat Yahudi di Palestina menggunakan versi Kitab Suci dalam bahasa Ibrani, sementara komunitas Yahudi di luar Palestina (Diaspora) menggunakan Septuaginta (terjemahan Yunani dari Kitab Suci). Septuaginta mencakup kitab-kitab tambahan yang tidak ada dalam versi Ibrani.

Gereja Katolik menerima kanon Septuaginta, sehingga Perjanjian Lama Katolik memiliki 46 kitab, termasuk kitab-kitab deuterokanonika (Tobit, Yudit, Kebijaksanaan, Sirakh, Barukh, 1-2 Makabe, serta tambahan pada Ester dan Daniel).


4. Perjanjian Baru: Dari Kesaksian ke Kitab

Perjanjian Baru lahir dari pengalaman iman Gereja Perdana setelah peristiwa Paskah. Prosesnya bisa dilihat dalam tiga tahap:

  1. Yesus Berkarya dan Mengajar (30โ€“33 Masehi)
    Para murid menyaksikan hidup, wafat, dan kebangkitan-Nya.
  2. Pewartaan Lisan oleh Para Rasul (33โ€“65 Masehi)
    Para rasul mewartakan Injil dengan penuh semangat, tetapi belum menulis secara sistematis.
  3. Tulisan Perjanjian Baru (50โ€“100 Masehi)
    • Surat-surat Paulus (50โ€“65 M).
    • Injil Markus (ยฑ70 M).
    • Injil Matius & Lukas (80โ€“90 M).
    • Injil Yohanes (90โ€“100 M).
    • Kisah Para Rasul, Wahyu, dan surat-surat lain.

Akhirnya terkumpullah 27 kitab Perjanjian Baru, yang diakui sebagai kanon oleh Gereja.


5. Kanon Kitab Suci: Siapa yang Menentukan?

Kata kanon berarti โ€œdaftar resmiโ€ kitab-kitab yang diakui sebagai Kitab Suci.

Pada abad-abad awal, banyak tulisan rohani beredar di kalangan umat Kristen: Injil Thomas, Injil Petrus, Surat Barnabas, dan sebagainya. Namun, tidak semua kitab itu diilhami Roh Kudus. Karena itu, Gereja harus menentukan mana kitab yang benar-benar berasal dari Tradisi Rasul.

Kriteria kanonisasi adalah:

  1. Apostolisitas โ€“ Apakah kitab itu berasal dari atau terkait dengan para rasul?
  2. Keselarasan Ajaran โ€“ Apakah sesuai dengan iman Gereja?
  3. Liturgis โ€“ Apakah kitab itu dipakai dalam liturgi umat perdana?
  4. Penerimaan Universal โ€“ Apakah diterima luas oleh Gereja-gereja lokal?

Melalui proses panjang, Konsili Hippo (393) dan Konsili Kartago (397 & 419) menetapkan daftar kanon Kitab Suci: 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Daftar ini diteguhkan oleh Paus Damasus I dan menjadi pedoman resmi Gereja.


6. Perbedaan dengan Kitab Suci Protestan

Pada abad ke-16, reformasi Protestan (khususnya Martin Luther) menolak kitab-kitab deuterokanonika. Karena itu, Kitab Suci Protestan hanya memuat 39 kitab Perjanjian Lama + 27 kitab Perjanjian Baru = 66 kitab.

Gereja Katolik menegaskan kembali daftar kanon resmi dalam Konsili Trente (1546) sebagai respons terhadap Reformasi: total 73 kitab (46 PL + 27 PB). Keputusan ini bersifat definitif dan tidak bisa diubah.


7. Magisterium Gereja dan Kitab Suci

Gereja Katolik percaya bahwa Kitab Suci tidak bisa diinterpretasikan secara pribadi tanpa bimbingan. Sebab, Kitab Suci lahir dalam Gereja, dijaga oleh Gereja, dan harus ditafsirkan dalam terang Tradisi serta Magisterium.

Konsili Vatikan II dalam Dei Verbum menegaskan:

โ€œTugas menafsirkan Sabda Allah secara otentik, baik tertulis maupun diwariskan, dipercayakan hanya kepada Magisterium Gereja yang hidup, yang kewibawaannya dijalankan dalam nama Yesus Kristus.โ€ (DV 10).

Artinya, Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium adalah tiga pilar iman yang saling terkait. Tidak ada yang berdiri sendiri.


8. Kitab Suci dalam Dokumen Gereja Terkini

Selain Dei Verbum, beberapa dokumen penting Gereja Katolik mengenai Kitab Suci adalah:

  • Katekismus Gereja Katolik (1992) โ€“ Bab pertama menekankan inspirasi Kitab Suci dan kesatuannya.
  • Verbum Domini (2010) โ€“ Seruan Apostolik Paus Benediktus XVI yang menekankan pentingnya Sabda Allah dalam hidup Gereja.
  • Aperuit Illis (2019) โ€“ Surat Apostolik Paus Fransiskus yang menetapkan Minggu Sabda Allah setiap tahun untuk menekankan pentingnya Kitab Suci bagi umat.

Dokumen-dokumen ini memperlihatkan bahwa Kitab Suci bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan pedoman hidup umat beriman di zaman sekarang.


9. Kitab Suci dalam Kehidupan Umat Katolik

Bagi Gereja Katolik, Kitab Suci bukan hanya untuk dipelajari, tetapi untuk dihidupi. Karena itu, Kitab Suci memiliki tempat khusus dalam:

  1. Liturgi โ€“ Bacaan Kitab Suci adalah bagian integral dari Misa.
  2. Doa Pribadi โ€“ Tradisi Lectio Divina mengajarkan cara membaca Kitab Suci dalam doa.
  3. Katekesasi dan Pendidikan Iman โ€“ Kitab Suci menjadi dasar pengajaran iman.
  4. Dialog Antaragama โ€“ Kitab Suci Katolik, khususnya Perjanjian Lama, menjadi jembatan dialog dengan agama Yahudi, dan Perjanjian Baru menjadi titik temu dengan berbagai denominasi Kristen.

10. Relevansi Sejarah Kitab Suci bagi Kita

Mengapa umat Katolik perlu memahami sejarah Kitab Suci?

  1. Untuk menghargai iman โ€“ Kitab Suci adalah buah perjalanan iman umat Allah selama berabad-abad.
  2. Untuk menghindari salah tafsir โ€“ Mengetahui sejarahnya membuat kita sadar bahwa Kitab Suci tidak bisa dibaca secara lepas dari konteks.
  3. Untuk membangun persatuan โ€“ Pemahaman ini menolong kita berdialog dengan saudara Kristen lain dan umat beragama lain.
  4. Untuk menghidupi Sabda โ€“ Pada akhirnya, Kitab Suci bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Sejarah Kitab Suci Katolik adalah kisah indah bagaimana Allah menyertai umat-Nya sepanjang zaman. Dari tradisi lisan bangsa Israel, karya Yesus Kristus, kesaksian para rasul, hingga penegasan kanon oleh Gereja, semuanya menunjukkan bahwa Kitab Suci adalah anugerah Roh Kudus untuk umat Allah.

Gereja Katolik, melalui Magisterium dan dokumen-dokumen resmi, menjaga agar Kitab Suci tetap dimengerti secara benar, dibaca dalam terang Tradisi, dan dihidupi oleh umat.

Karena itu, sebagai orang Katolik, kita dipanggil bukan hanya untuk mengetahui sejarah Kitab Suci, tetapi untuk menjadikannya pelita bagi langkah kita (bdk. Mzm 119:105).

Kitab Suci adalah jantung iman Katolikโ€”Sabda Allah yang hidup dan menyelamatkan.

Bagikan

Post your Comment About This Product

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *