Dalam Perayaan Ekaristi tidak jarang kita melakukan gerakan, seperti bersujud, menunduk, tiarap, atau beberapa gerak lain yang kita lakukan. Tidak jarang pula kita melakukan gerakan tersebut karena terbiasa atau hanya mengikuti gerakan umat yang ada di samping kita. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah gerakan ini hanya sekedar gerakan saja? atau ada makna dalam tiap gerakan?
Dalam artikel ini, akan dibahas beberapa pemaknaan gerak dan sikap dalam Liturgi. Beberapa pemaknaan ini diambil oleh penulis berdasarkan beberapa pertanyaan umat dalam Pendalaman Iman atau pergumulan umat pada umumnya.
1. Membuat Tanda Salib
Membuat tanda salib baik pada saat kita mulai masuk ke dalam Gereja atau pada saat kita memulai doa kita memiliki makna:
- Tanda Keselamatan kita, yakni Salib Kristus, Kekuatan dan kemegahan orang Kristen terletak pada โsalib Tuhan kita Yesus Kristusโ (Gal 6:14);
- Mengenang pembaptisan kita, dengan menyebut Allah Tritunggal. Oleh karena itu setiap kita membuat tanda salib sebenarnya menghubungkan kita dengan Sakramen Baptis.
2. Berlutut (Bersujud)
Pada saat kita masuk ke Gereja, sebelum kita mulai duduk, tentunya kita menghadap Tabernakel, kemudian kita berlutut dan membuat tanda salib. Jika tidak ada tabernakel (tempat Sakramen Mahakudus yang menjadi simbol kehadiran Kristus yang abadi), dapat diartikan kita menghormati gereja sebagai tempat yang kudus. Sikap ini memang belum termasuk tata gerak dalam Perayaan Ekaristi. Namun, pada prinsipnya setiap kita mendekati atau melewati Sakramen Mahakudus, kita diharapkan memberi penghormatan dengan cara berlutut; kecuali pada saat dalam perarakan.
Pada dasarnya, cara wajar untuk berlutut adalah dilakukan dengan menekuk lutut kanan sampai menyentuh lantai. Ini adalah tanda sembah sujud (PUMR 274), untuk menghormati. Tentu saja hal itu bukan sekedar tindakan ritual. Ada makna yang mendalam.
Berlutut mengungkapkan pengakuan iman kita akan Misteri Paskah, sekaligus menandakan kerinduan kita untuk hadir dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus, Tuhan kita. Gerak berlutut merupakan bentuk perendahan diri karena hadir di hadapan Tuhan. Seperti kata Paulus:ย โsupaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: `Yesus Kristus adalah Tuhan,โ bagi kemuliaan Allah Bapa!โ (Fil 2:10-11).ย Kita pun melakukannya untuk meniru kesengsaraan Kristus ketika disalib, supaya boleh mengalami anugerah kebangkitan-Nya. Sikap ini mengajar kita untuk hidup sehari-hari seperti yang dilakukan Kristus. Kita diantar untuk bersatu dalam persembahan diri dan korban-Nya yang suci.
3. Berlutut dalam waktu yang lama
Pada saat kita berdoa sebelum misa dimulai dan pada saat-saat tertentu dalam perayaan Ekaristi, kita berlutut dalam waktu yang lama. Apakah makna dari doa sambil berlutut ini?
Berlutut bisa menandakan kegagalan, kekalahan. Kita pasrah dan mengakui kelemahan kita di hadapan Allah. Sikap tubuh ini menunjukkan semangat kerendahan diri yang menguasai hati dan jiwa kita. Di hadapan Allah, Sang Sumber Hidup, kita tidak ada apa-apanya. Saat itu pula, dengan sikap tubuh berlutut kita mengungkapkan isi batin kita dan menyembah Allah. Kita juga ingin menyelaraskan diri dengan Kristus, PutraNya. Berlutut semacam ini juga mengungkapkan keyakinan kita bahwa Allah yang telah memulai itu akan juga menggenapi semua karya-Nya di dalam diri kita. Secara lebih dramatis lagi, bentuk kepasrahan diri ini diungkapkan dalam tata gerak โtiarapโ atau โmerebahkan diriโ untuk mereka yang akan ditahbiskan.
4. Menunduk
Untuk kesempatan tertentu, berlutut (juga membungkuk) bisa diganti dengan menundukkan kepala. Misalnya, ketika para pelayan misa (putera altar, lektor, diakon) sedang membawa salib, lilin, dupa, atau Kitab Injil harus menghormati Sakramen Mahakudus atau altar. Menurut PUMR 275a โmenundukkan kepalaโ dilakukan juga ketika mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama para orang kudus yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan. Mengapa perlu diganti? Alasannya praktis saja dan mungkin juga estetis serta teologis. Pembawa benda-benda itu biasanya akan kerepotan jika harus berlutut sementara masih membawa sesuatu. Lagi pula, bisa tampak tidak indah dan kurang menarik jika salib yang mestinya tetap tegak ternyata jadi miring lantaran pemegangnya sedang berlutut atau membungkuk. Atau, lelehan lilinnya jatuh ke lantai atau ke tangan putera altar yang memegangnya karena dia harus berlutut. Khusus untuk benda-benda simbolis yang berkaitan dengan diri Kristus seperti Kitab Injil dan Salib, kita diminta tetap menunjukkan nilai kehormatannya. Maka, benda-benda simbol Kristus itu harus tetap tampak anggun, tidak tampil naik-turun, miring ke kiri-ke kanan, karena si pemegang harus berlutut dan berdiri segala.
5. Membungkuk
Masih ada satu lagi sikap tubuh lambang penghormatan kita. PUMR 275b menjelaskan: โMembungkukkan badan atau membungkuk khidmad dilakukan waktu [1] menghormati altar; [2] sebelum memaklumkan Injil, waktu mengucapkan doaSucikanlah hati dan budiku, ya Allah yang mahakuasaโฆ.;ย [3] dalam syahadat, waktu mengucapkan kata-kataย .. .ย Ia dikandung dari Roh Kudusโฆ dan Ia menjadi manusia;[4] dalam persiapan persembahan, waktu mengucapkan doaย Dengan rendah hati dan tulus;[5] dalam Kanon Romawi (DSA I) pada kata-kataย Allah yang Mahakuasa, utuslah malaikat-Muโฆ.ย Membungkuk juga dilakukan oleh diakon waktu minta berkat kepada imam sebelum mewartakan Injil. Kecuali itu, imam juga membungkuk sedikit waktu mengucapkan kata-kata Tuhan pada saat konsekrasi:ย Terimalahโฆ.โย Begitulah tata caranya.
6. Berdiri
Sikap tubuh ini mengungkapkan kegembiraan jemaat. Gembira atas kebersamaan dan persaudaraan di dalam Kristus. Berdiri menyatakan keyakinan dan perasaan yang utuh, jiwa yang siaga di hadapan Allah, siap bertemu dan berdialog dengan yang Ilahi. Kita berdiri karena kita berada di hadapan yang menentukan dan menguasai hidup kita, yang memberi kekuatan dan menjaga kita. Berdiri untuk menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya Allah Tuhan kita. Kita berdiri untuk menghorrnati Allah Yang Mahatinggi (bdk. Kej 18:8). Jemaat yang berdiri menunjukkan rasa syukurnya dan keakrabannya dengan Allah. Jemaat yang berdiri juga mengungkapkan persaudaraan yang hidup, yang dipersatukan bagi dan oleh Allah. Maka, sangatlah tepat bila kita berdiri khususnya pada saat menyatakan iman (Syahadat) dan Doa Syukur Agung. Kita mengakui secara terbuka bahwa wafat dan kebangkitan Kristus (Misteri Paskah) adalah dasar kehidupan kita. Inilah dasar kegembiraan kita. Kegembiraan Paskah mengantar perjalanan kita menuju Allah. Kita seolah berdiri bersama Yesus Kristus berada di Yerusalem surgawi. Kita berpartisipasi, terlibat penuh dalam kemenangan Paskah yang dibawakan oleh Kristus. Maka dari itu, di beberapa gereja ada juga yang memberlakukan โberdiriโ selama Masa Paskah, tidak ada berlutut, bahkan juga duduk.
Kapan kita berdiri? PUMR 43 menunjukkan saat-saat jemaat berdiri, yakni:
[a] dari awal nyanyian pembuka, atau selama perarakan masuk menuju altar sampai dengan Doa Pembuka selesai;
[b] pada waktu melagukan Bait Pengantar Injil (dengan atau tanpa โalleluyaโ);
[c] pada waktu Injil dimaklumkan;
[d] selama Syahadatย (Credo);
[e] selama Doa Umat;
[f] dari ajakanย โBerdoalah, Saudaraโฆโย sebelum Doa Persiapan Persembahan hingga akhir Perayaan Ekaristi, kecuali pada saat-saat tertentu yang ditentukan tersendiri.
Untuk Imam Selebran saat-saat berdirinya hampir sama dengan jemaat. Ada beberapa perbedaan, misalnya, pada saat menyampaikan Homili, ia dapat berdiri atau duduk di kursi imam; pada saat Doa Syukur Agung ia harus tetap berdiri memimpin, sementara jemaat dapat berdiri atau berlutut.
7. Duduk
Masih kita kutip dari PUMR 43. Jemaat hendaknya duduk:
[a] selama bacaan-bacaan sebelum Injil dan selama Mazmur Tanggapan;
[b] selama Homili;
[c] selama persiapan persembahan;
[d] selama saat hening sesudah komuni.
Khusus untuk yang berkaitan dengan Liturgi Sabda, sikap ini ada dasar biblisnya. Misalnya, saat Yesus mengajar, orang-orang mendengarkan Dia dengan duduk memperhatikan (Mat 5:1). Atau, saat Maria yang sedang duduk mendengarkan Yesus, sementara Marta sibuk melayani para tamunya. Yesus berkata,ย โMaria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanyaโ (Lk 10:39).
Maknanya sesungguhnya luas. Sikap duduk bisa menggambarkan saat orang mengharapkan sesuatu; ia sedang mendengarkan atau mencerna suatu pesan. Keadaan batin tertentu juga bisa digambarkan dengan duduk. Orang seolah mendambakan untuk menemukan makna hidupnya yang sejati. Pada saat kita duduk kita pun berharap agar Allah berbicara atau menyatakan Diri-Nya kepada kita. Ini adalah saat epiklesis juga. Dengan duduk pun kita menyambut Sabda Allah dengan hati terbuka. Kita berharap agar Sabda Allah sungguh menyirami dan menyegarkan hati kita. Allah sendiri ingin agar kita dapat menjadi subur dan berbuah berkat sabda-Nya. Maka, duduk juga berarti kesediaan untuk saling mendengarkan, saling berbagi pengalaman, saling mempersatukan diri. Duduk menerbitkan rasa damai, aman, percaya, karena kita memang sedang bersatu dengan Allah. Ini menggambarkan dimensi eskatologis, saat istirahat nanti, setelah perjalanan panjang dan perjuangan hidup di dunia:โBarangsiapa menang, ia akan Ku-dudukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nyaโ (Why 3:21).ย Setiap kali duduk, jiwa kita memasuki kedamaian yang membantu kita untuk menerima sabda ilahi dan mencicipi komunikasi dengan Allah nanti.
Duduk di Mana? Pengertian โdudukโ pada umumnya mengandaikan adanya kursi, bangku, atau tempat duduk apa pun. Maka kondisi tempat duduk sebaiknya juga mendukung maksud sikap duduk kita. Bisa duduk dengan enak, tidak gerah, tidak terusik apa pun, memang ideal, sehingga umat dapat mengikuti dan mengambil bagian dalam perayaan dengan baik.
(Disarikan dari beberapa sumber)