Setelah kerusuhan baru-baru ini, ketenangan telah kembali ke Nepal seiring dibukanya kembali sekolah-sekolah dan tumbuhnya kepercayaan terhadap pemerintahan transisi, menurut Romo Silas Bogati, Administrator Apostolik Vikariat Nepal.
Oleh Sr. Christine Masivo, CPS
Di Nepal, setelah berhari-hari dilanda protes dan kerusuhan, suasana relatif tenang telah kembali. Sekolah Katolik dan sekolah negeri telah dibuka kembali, dan kehidupan sehari-hari berangsur-angsur pulih.
Kepercayaan diberikan kepada kepemimpinan Perdana Menteri Sushila Karki, yang dipercaya untuk membimbing negara melalui masa transisi enam bulan sebelum pemilihan umum baru tahun depan, menurut Romo Silas Bogati.
Berbicara kepada kantor berita Fides milik Vatikan, Administrator Apostolik Vikariat Nepal menggambarkan situasi saat ini sebagai situasi ketidakpastian dan ketegangan laten, tetapi juga ditandai oleh harapan.
“Sebagai komunitas Katolik, kami memiliki kepercayaan pada Perdana Menteri Karki,” ujarnya. “Sebelumnya, sebagai pengacara, beliau membela salah satu pastor dan beberapa suster kami yang telah dituduh secara keliru. Kami percaya bahwa dalam beberapa bulan mendatang beliau akan menegakkan supremasi hukum dan prinsip-prinsip keadilan.”
Romo Bogati mencatat kemungkinan demonstrasi lanjutan yang diselenggarakan oleh partai-partai politik. “Kami berharap ini tidak berujung pada kekerasan,” tegasnya.
Pada saat yang sama, ia menyoroti perkembangan baru dalam masyarakat Nepal, yakni meningkatnya suara kaum muda, “Generasi Z”, yang muncul karena didorong oleh rasa tanggung jawab kewarganegaraan dan diperkuat oleh media sosial.
“Anak-anak muda ini mengirimkan pesan yang kuat, ‘Kami peduli,’ menunjukkan kesadaran yang mendalam akan tugas mereka terhadap kemajuan dan pembangunan bangsa,” kata Romo Bogati. “Ini merupakan tanda positif, asalkan tetap berakar pada perdamaian dan keadilan.”
Administrator Apostolik mengatakan posisi Gereja jelas. “Kami menolak segala bentuk kekerasan, dan mengupayakan pembangunan masyarakat yang damai, dengan menaruh harapan pada pemerintahan yang mampu memberantas korupsi, salah satu luka terdalam negara ini,” ujarnya.
Romo Bogati menambahkan bahwa Gereja Katolik di Nepal terdiri dari sekitar 8.000 umat beriman di negara berpenduduk 33 juta jiwa.
Sementara itu, Nepal memperingati hari berkabung nasional pada tanggal 17 September untuk mengenang mereka yang kehilangan nyawa selama protes.
Pemerintah sementara telah menyatakan mereka sebagai “martir” dan berjanji memberikan dukungan kepada keluarga mereka.
Tujuh puluh dua orang muda tewas dalam kerusuhan baru-baru ini, dan ratusan lainnya masih dirawat di rumah sakit.
Perdana Menteri Karki telah secara pribadi mengunjungi beberapa yang terluka, memberikan isyarat kedekatan dan mengisyaratkan komitmennya untuk menyembuhkan perpecahan di negara tersebut.
Artikel Asli:
Following recent unrest, calm has returned to Nepal as schools reopen and confidence grows in the transitional government, according to Fr. Silas Bogati, Apostolic Administrator of the Vicariate of Nepal.