Katekese
Katekese memiliki arti yang luas. Dalam mata kuliah ini, mahasiswa diandaikan sudah memahami pengertian katekese yang sudah diterima dalam mata kuliah katekese dasar. Oleh karena itu beberapa hal di bawah ini merupakan ulasan singkat untuk memperdalam pemahaman mengenai katekese.
Pola Pemikiran Katekese
Katekese mengalami perkembangan dan kekhususan dari zaman dan tempat tertentu. Pada zaman dan tempat tertentu katekese diterjemahkan dalam suatu pola atau rumusan yang merupakan pemikiran dasar dan inti daya gerakan untuk segala kegiatan katekese.[1] Perkembangan katekese ini membentuk semacam pola pikiran dan rumusan tersendiri, yakni:
- Pola pemikiran katekese dalam Gereja purba: katekese ialah penyampaian ajaran Yesus oleh umat bagi calon-calon permandian. Keseluruhan kegiatan katekese terlibat dalam usaha permandian ini.
- Pola pemikiran katekese dalam Konsili Trente : katekese ialah penyampaian segala macam pengetahuan tentang ajaran Gereja yang sifatnya ilmiah dan moralistis, penuh semangat kebaktian dan bersifat tertutup. Keseluruhan warna kegiatan katekese dipengaruhi oleh pola pemikiran ini.
- Pola pemikiran katekese dalam KV II: katekese ialah usaha pewartaan Sabda Allah untuk membina penghayatan iman perorangan dan iman jemaat dalam kenyataan hidup sehari-hari.
Pola katekese KV II ini menjadi jiwa dari karya karya katekese zaman ini. Terdapat enam unsur pokok yang harus diperhatikan dalam setiap kegiatan katekese.
- Katekese adalah tugas kenabian Gereja yang harus menyampaikan warta keselamatan kepada semua manusia.
- Katekese mengusahakan agar iman dan sakramen dihayati oleh umat setiap hari.
- Katekese mengajak orang agar mereka mengenal Sabda dan Wahyu Ilahi dalam, hidupnya setiap hari.
- Katekese menyampaikan Kitab Suci dan Syahadat iman dengan mengindahkan situasi konkret penerimanya.
- Katekese bagi muda-mudi harus diperhatikan.
- Tugas katekese adalah tugas seluruh Gereja.
Jadi katekese harus mewartakan Yesus Kristus dalam situasi konkret hidup orang/umat setiap hari, agar mereka menghayati imannya.
Katekese merupakan bagian dari tugas pokok dan sentral dari Gereja. Perlu diingat bahwa Pendekatan Katekese tidak sama dengan Pendekatan Teologis. Penemuan Teologis, Ajaran-ajaran resmi Gerejani, dan Kitab Suci memiliki kedudukan penting dalam Katekese. Katekese juga membutuhkan sumber-sumber lainnya, misalnya: Psikologi Perkembangan, Pendidikan, ilmu sosial dan sebagainya. Setelah KONSILI VATIKAN II, kaum awam diperkenankan ikut ambil bagian dalam tugas luhur Gereja ini.
Katekis akan melakukan tugas dengan baik dan bertanggung jawab, kalau ia juga memanfaatkan pendekatan, strategi, metode, teknik, dan langkah-2 yang terdapat dalam ilmu pendidikan.
Pemahaman Katekese
Secara garis besar, Katekese[2] adalah Pengajaran Iman Katolik[3]. Dua unsur pokok yang ada dalam pemahaman katekese ialah Pengajaran dan Agama. Pengajaran adalah Kegiatan terencana dan diarahkan kepada mempermudah pertumbuhan dan perkembangan hidup beragama. Pengajaran Agama adalah pengajaran untuk mempermudah subyek membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan pribadi dengan Tuhan tampak dalam ungkapan dan pernyataan iman subyek dengan Tuhan. Agama merupakan penghayatan hubungan pribadi subyek dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari dan mengantar subyek masuk ke dalam persekutuan Gerejani. Menghayati mengandaikan bahwa seluruh pribadi seseorang terlibat dan mengalami. Jadi yang ditekankan di sini adalah pengalaman dan hidup. Agama terutama adalah pengalaman, penghayatan iman dan suatu cara hidup tertentu bersama dengan Tuhan. Mengajar agama memungkinkan perubahan tingkah laku subyek dalam bidang agama. Tingkah laku adalah kegiatan individu baik yang tampak maupun tidak tampak, entah itu dalam batin atau diungkapkan keluar dalam bentuk perbuatan
UNSUR-UNSUR KONSTITUTIF DARI PRAKTIK KATEKESE
Proses kematangan iman
Unsur-unsur konstitutif dari proses ini adalah pertobatan โ sikap dan pengetahuan โ bentuk-bentuk kehidupan dan perbuatan. Pemusatan kepada konsep sikap. Aspek-aspek kognitif dan afektif serta kekuatan pengaruh dari tujuan katekese. Dalam hal ini, hakikat dari tugas katekese sebagai pendidik-pembinaan; pengajaran-pengetahuan; inisiasi; komunikasi; promosi-pembebasan.
Pelaku dan Tempat Katekese
Tempat-tempat tradisional: paroki, keluarga, sekolah, perkumpulan. Tempat-tempat baru untuk katekese: bentuk-bentuk baru komunitas, mass-media, katekese okasional, tempat-tempat lain untuk katekese.
Pertanggungjawaban Gerejawi dari tugas katekese:
Memperlakukan peserta katekese sebagai subjek katekese yang ambil bagian secara aktif di dalam kegiatan katekese.
Komunitas kristiani sebagai subjek dan objek katekese:
Orang-orang dewasa kristen merupakan subjek yang berpartisipasi dalam kegiatan katekese:
- Pentingnya promosi katekese dari orang beriman.
- Pentingnya wanita dalam tanggung jawab dari kegiatan katekese.
- Penting pula mengakui peranan wanita di dalam kegiatan Gerejawi.
Jabatan pelayanan dan kharisma dalam hubungan dengan katekese:
Persoalan pastoral dari jabatan pelayanan dan kharisma dalam Gereja. Jabatan Gerejawi untuk katekese: kekuasaan mengajar dari para imam; tugas/jabatan imam dan diakon-para katekis; para religius; kaum awam (suami-isteri, orang tua) keluarga; bentuk-bentuk lain dari tanggung jawab katekese: teologi, para nabi, guru, penulis, dan sebagainya.
Isi dan Bahasa Katekese
Persoalan aktual dan tradisional mengenai isi dan bahasa katekese:
- Isi dari katekese dewasa ini:
- Sumber isi katekese
- Pesan kristen dalam prospek katekese
- Iman dan budaya: inkulturasi dari isi katekese
- Iman dan sekularisasi: mengatasi dualisme religius dan interpretasi baru tentang pesan kristen.
- Iman dan pengetahuan: konsekuensi untuk isi katekese-katekese antropologis.
- Persoalan integritas isi katekese:
- Integritas ekstensif dan intensif
- Prinsip konsentrasi: rumusan sintetik, lambang iman
- Hierarki kebenaran dalam isi katekese
- Kriteria katekese dari integritas isi
- Bahasa katekese dewasa ini:
- Pesan kristen dan bahasa
- Tiga bahasa dari transisi katekese
- Bahasa Kitab Suci
- Bahasa Gereja
- Bahasa antropologis
- Komunikasi non verbal dan katekese
- Mass media dan katekese
Kriteria untuk menentukan isi katekese, integritas iman dan kehidupan. Teologi sistematik dan katekese katekismus dan katekese.
[1] Bdk., Drs. Jakob Papo, memahami Katekese,Ende:Nusa indah, 1987. Halaman 12-13
[2] Kata katekese berasal dari kata catechein (kt. Kerja) dan catechesis (kt. Benda). Akar katanya adalah kat dan echo. Kat artinya keluar, ke arah luas dan echo artinya gema/gaung. Berarti makna profan dari katekese adalah suatu gema yang diperdengarkan/disampaikan ke arah luas/keluar. Gema dapat terjadi jika ada suara yang penuh dengan keyakinan dan gema tidak pernah berhenti pada satu arah, maka katekese juga harus dilakukan dengan penuh keyakinan dan tidak pernah berhenti pada satu arah. Katekese ialah โpembinaan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, yang pada khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, dan yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis dengan maksud mengantar para. pendengar memasuki kepenuhan kehidupan Kristenโ (KGK art 5; CT 18)
[3] Dalam hal ini pengajaran agama diartikan sebagai pengajaran iman Katolik.