
Dalam pandangan saya, sang kakek pasti memiliki sebuah kekecewaan tersendiri karena pada saat ia sedang berbicara dengan Tuhan, malah pada saat itulah cucunya dipanggil Tuhan dengan cara yang tidak mengenakkan, yakni kesetrum. Peristiwa ini membawa peringatan tersendiri bagi keluarga supaya lebih berhati-hati untuk menjaga anak yang mereka sayangi, lebih dari itu, keluarga diajak juga untuk bersabar dan menerima dengan hati terbuka karena kejadian ini pun juga merupakan kelalaian mereka.
Bila saya dihadapkan dalam kejadian seperti ini, tentunya saya akan kecewa terhadap keluarga yang diberi kepercayaan untuk menjaga sang anak. Sebagai orang tua, tentunya saya akan marah kepada pembantu yang melalaikan tugas dengan meninggalkan anak yang diasuh, bahkan ditinggal ngobrol. Hal ini sangat tidak enak. Akan tetapi lepas dari itu, sang pembantu tentunya memiliki tekanan batin tersendiri karena telah melalaikan tugas, dan mengakibatkan hal yang fatal. Jika saya berbicara mengenai Allah, tentunya perasaan tidak enak pun juga akan menjadi beban dalam diri saya. Anak merupakan titipan Allah kepada manusia, dan juga ana merupakan buah kasih dalam keluarga. Rasa shock tentunya akan membawa manusia pada kekecewaan terhadap sesama dan Tuhan. Keluarga diberi anak yang masih kecil, tidak tahu apa-apa, dan mungkin pada saat itu masih lucu-lucunya, tetapi diambil begitu saja dalam waktu yang singkat. Hal ini pasti membawa tekanan berat bagi keluarga.
Hal lain yang ingin saya soroti adalah dari pihak kakek yang sedang salat. Ia sedang berbicara dengan Tuhan yang ia percayai, tapi setelah salat, ia menemukan cucunya meninggal. Rasa kecewa tentunya tidak hanya terarah pada manusia, tapi juga pada Tuhan. Ia menjalankan perintah agama, akan tetapi ia mendapatkan bencana. Dimanakah Tuhan berbicara melalui perintah yang harus dijalankan oleh manusia?
Penderitaan manusia secara fisik mungkin dapat ditutupi oleh kesabaran karena banyak dihibur oleh sesama, akan tetapi penderitaan batin karena ditinggal oleh anak yang mereka sayangi tentunya bukan hal yang mudah untuk diobati. Belum lagi pada saat menunaikan perintah agama, ia malah kehilangan cucu kesayangannya. Hal ini tentunya akan menjadi suatu pukulan berat bagi manusia, dan mungkin ini adalah penyadaran bagi manusia untuk lebih tanggap terhadap segala sesuatu dan siap menerima apapun yang direncanakan Tuhan.