Mengapa Saat Bacaan Injil, Misdinar Membawa Lilin di Samping Pastor?

Misdinar Membawa Lilin di Samping Pastor-2

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa ketika bacaan Injil dimulai dalam Misa, dua misdinar berjalan ke depan membawa lilin dan berdiri di samping pastor atau diakon yang membacakan Injil?
Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat seperti hiasan atau sekadar kebiasaan. Namun sebenarnya, ada makna yang sangat dalam di balik tradisi ini, yang bersumber dari Kitab Suci dan ajaran resmi Gereja.


1. Lilin: Simbol Terang Kristus

Sejak awal, Gereja Katolik menggunakan lilin bukan hanya untuk penerangan fisik, tetapi terutama sebagai simbol rohani. Lilin melambangkan Kristus sebagai Terang Dunia. Dalam Injil Yohanes, Yesus berkata:

โ€œAkulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.โ€ (Yoh 8:12)

Ketika lilin ditempatkan di samping pembacaan Injil, Gereja ingin menegaskan bahwa yang dibacakan bukan sekadar cerita sejarah atau kata-kata manusia, tetapi Sabda Allah sendiri yang membawa terang bagi kehidupan kita.


2. Dasar dari Kitab Suci

Simbol cahaya dan firman Tuhan sudah dikenal sejak zaman Perjanjian Lama. Pemazmur berkata:

โ€œFirman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.โ€ (Mazmur 119:105)

Ayat ini mengajarkan bahwa Firman Allah menuntun kita agar tidak tersesat dalam kegelapan hidup. Maka, lilin di saat bacaan Injil menjadi tanda bahwa Sabda Tuhan itu bagaikan cahaya yang menuntun langkah kita.


3. Penghormatan Khusus untuk Injil

Dalam Perayaan Ekaristi, ada tiga bacaan Kitab Suci: bacaan pertama, bacaan kedua, dan Injil. Dari ketiganya, bacaan Injil mendapat penghormatan paling tinggi, karena Injil adalah kisah langsung tentang Yesus: perkataan, perbuatan, dan karya keselamatan-Nya.

Dokumen resmi Gereja menegaskan hal ini. Tata Perayaan Ekaristi (Institutio Generalis Missalis Romani) menyebut:

โ€œBacaan Injil merupakan puncak dari liturgi sabda. Lilin dan pedupaan dapat digunakan untuk menghormatinya.โ€ (IGMR no. 60, 133)

Artinya, membawa lilin saat Injil dibacakan adalah bentuk penghormatan kepada Yesus yang hadir melalui sabda-Nya.


4. Simbol Kehadiran Kristus

Konsili Vatikan II, dalam dokumen Sacrosanctum Concilium, mengajarkan:

โ€œKristus hadir dalam sabda-Nya, sebab Dialah yang berbicara ketika Kitab Suci dibacakan di Gereja.โ€ (SC no. 7)

Jadi, lilin yang menyala di sisi pembaca Injil adalah tanda bahwa Kristus sungguh hadir di tengah umat melalui sabda yang kita dengarkan.


5. Akar Tradisi dari Gereja Perdana

Tradisi ini bukanlah hal baru. Sejak abad-abad awal, lilin sudah digunakan saat pembacaan Injil. Pada masa itu, kadang lilin memang dipakai untuk penerangan, tetapi para Bapa Gereja menegaskan bahwa lilin dinyalakan bukan karena kurang cahaya, melainkan untuk menandai sukacita dan penghormatan.

St. Hieronimus (abad ke-4) pernah menulis bahwa cahaya lilin adalah tanda kegembiraan umat saat Injil dibacakan, karena mereka mendengar suara Sang Guru sendiri.


6. Makna Pastoral Bagi Umat

Bagi kita yang hadir dalam Misa, lilin di sisi pembacaan Injil menjadi:

  • Pengingat visual: sekarang kita mendengar kata-kata Yesus sendiri.
  • Ajakan rohani: membuka hati agar diterangi oleh Kristus.
  • Tanda hormat: berdiri, membuat tanda salib kecil di dahi, mulut, dan dada, lalu mendengarkan dengan penuh perhatian.

7. Kesimpulan

Tradisi misdinar membawa lilin saat bacaan Injil bukan sekadar hiasan atau kebiasaan turun-temurun. Ini adalah:

  • Pengakuan iman bahwa Kristus hadir dalam sabda-Nya.
  • Simbol terang Injil yang menuntun hidup kita.
  • Bentuk penghormatan liturgis kepada puncak pewartaan sabda dalam Misa.

Jadi, lain kali saat Anda melihat lilin di samping pembacaan Injil, ingatlah: itu bukan hanya lilin, tapi tanda kehadiran Sang Terang Dunia yang berbicara langsung kepada kita.

Bagikan

Post your Comment About This Product

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *