“Mengenal Kitab Deuterokanonika: Harta Tersembunyi dalam Kitab Suci Katolik”

Gemini_Generated_Image_na7iqena7iqena7i

Banyak umat Katolik mungkin pernah mendengar istilah Deuterokanonika, tetapi tidak semua tahu apa maksudnya. Ketika membuka Alkitab Katolik, mereka mendapati ada kitab-kitab tertentu yang tidak ada dalam Alkitab saudara-saudara Protestan. Kitab-kitab ini adalah Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh (Ecclesiasticus), Barukh, 1 Makabe, 2 Makabe, serta tambahan dalam Kitab Daniel dan Ester.

Pertanyaan yang muncul sering kali begini:

  • Mengapa kitab-kitab ini ada dalam Alkitab Katolik, tetapi tidak ada dalam Alkitab Protestan?
  • Mengapa Gereja Katolik menganggap kitab ini sebagai firman Allah, padahal ada yang menyebutnya “Apokrifa”?
  • Bagaimana pandangan resmi Gereja Katolik tentang Deuterokanonika?

Tulisan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara mendalam, tetapi dengan bahasa sederhana. Kita akan menelusuri sejarah, isi, peran, dan dasar ajaran Gereja tentang Kitab Deuterokanonika.


Bagian 1: Apa Itu Kitab Deuterokanonika?

Istilah Deuterokanonika berasal dari bahasa Yunani: deuteros (kedua) dan kanon (daftar atau norma). Artinya, kitab-kitab ini termasuk dalam “kanon kedua” atau daftar kedua Kitab Suci.

Mengapa disebut demikian? Karena pada awalnya, kitab-kitab ini tidak langsung diterima secara universal oleh semua orang Kristen, tetapi kemudian diteguhkan kembali oleh Gereja sebagai bagian resmi Kitab Suci.

Daftar kitab Deuterokanonika adalah:

  1. Tobit
  2. Yudit
  3. Kebijaksanaan Salomo
  4. Sirakh (Ecclesiasticus)
  5. Barukh
  6. 1 Makabe
  7. 2 Makabe
  • tambahan dalam Ester dan Daniel (Doa Azarya, Nyanyian Tiga Pemuda, Kisah Susana, dan Bel serta Naga).

Menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK 120), kitab-kitab ini termasuk dalam daftar resmi Kitab Suci Katolik.


Bagian 2: Sejarah Singkat Kitab Deuterokanonika

1. Septuaginta

Pada abad ke-3 sebelum Masehi, Kitab Suci orang Yahudi diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani di Aleksandria. Terjemahan ini disebut Septuaginta (LXX). Kitab-kitab Deuterokanonika terdapat dalam Septuaginta, tetapi tidak dalam versi Ibrani yang dipakai di Palestina.

2. Gereja Perdana

Yesus dan para rasul sering mengutip Kitab Suci dalam versi Yunani. Karena itu, Gereja perdana terbiasa memakai Septuaginta, termasuk kitab-kitab Deuterokanonika.

3. Perdebatan Kanon

Pada abad pertama, orang Yahudi di Palestina hanya mengakui kitab-kitab dalam bahasa Ibrani (39 kitab PL). Sementara Gereja Katolik mengikuti tradisi Septuaginta.

4. Konsili Gereja

  • Konsili Hippo (393) dan Konsili Kartago (397) menegaskan daftar Kitab Suci yang mencakup Deuterokanonika.
  • Konsili Trente (1546) meneguhkan kembali keputusan itu secara dogmatis, menegaskan bahwa kitab-kitab ini adalah firman Allah yang diilhami.

5. Dokumen Gereja

  • Dei Verbum (DV 8–10) menekankan bahwa wahyu Allah diteruskan melalui Kitab Suci dan Tradisi.
  • DV 11 menegaskan bahwa semua kitab yang diakui Gereja, termasuk Deuterokanonika, ditulis di bawah ilham Roh Kudus.

Bagian 3: Isi dan Tema Kitab Deuterokanonika

Mari kita lihat secara singkat isi setiap kitab:

  1. Tobit – Kisah keluarga yang setia kepada Allah, menekankan doa, amal, dan pernikahan kudus.
  2. Yudit – Cerita tentang seorang perempuan saleh yang menyelamatkan bangsanya dari musuh dengan keberanian dan iman.
  3. Kebijaksanaan Salomo – Refleksi mendalam tentang kebijaksanaan ilahi, keabadian jiwa, dan keadilan Allah.
  4. Sirakh (Ecclesiasticus) – Ajaran moral dan kebijaksanaan praktis untuk hidup sehari-hari.
  5. Barukh – Doa tobat bangsa Israel dan pengharapan akan pemulihan.
  6. 1 Makabe – Sejarah perjuangan bangsa Yahudi melawan penjajah Yunani demi mempertahankan iman.
  7. 2 Makabe – Kisah martir iman Yahudi, dasar ajaran doa bagi arwah, dan kebangkitan orang mati.
  • Tambahan Daniel dan Ester – Doa-doa dan kisah yang menekankan kesetiaan kepada Allah.

Bagian 4: Mengapa Penting bagi Iman Katolik?

1. Dasar Ajaran Gereja

Kitab Deuterokanonika sering dijadikan dasar bagi ajaran iman Katolik, misalnya:

  • Doa untuk orang mati → 2 Makabe 12:45.
  • Malaikat pelindung → Tobit 12:15.
  • Nilai doa dan amal → Tobit 12:8–9.
  • Kebangkitan orang mati → 2 Makabe 7.

2. Bacaan Liturgi

Kitab-kitab ini dibacakan dalam Misa Katolik. Misalnya:

  • Kebijaksanaan 3:1–9 → Bacaan Misa Arwah.
  • Sirakh 3:3–7 → Bacaan Hari Keluarga.

3. Kekayaan Spiritualitas

Kitab-kitab ini memberikan doa, teladan iman, dan refleksi moral yang memperkaya hidup rohani umat.


Bagian 5: Perbedaan dengan Tradisi Lain

1. Protestan

Reformasi Protestan menolak Deuterokanonika. Martin Luther menyebutnya “apokrif” (tidak setara dengan Kitab Suci). Sejak itu, Alkitab Protestan hanya 66 kitab.

2. Ortodoks

Gereja Ortodoks menerima Deuterokanonika, bahkan menambahkan beberapa kitab lain seperti 3 Makabe.

3. Katolik

Gereja Katolik menegaskan Deuterokanonika sebagai bagian sah dari Kitab Suci, sesuai Konsili Trente dan ajaran resmi.


Bagian 6: Pandangan Resmi Gereja Katolik

1. Konsili Trente (1546)

Menegaskan daftar Kitab Suci yang mencakup Deuterokanonika. Pernyataan ini bersifat dogmatis dan mengikat.

2. Katekismus Gereja Katolik

KGK 120 menyebutkan daftar kitab PL dan PB, termasuk Deuterokanonika.
KGK 107 menegaskan: Kitab Suci “mengajarkan kebenaran tanpa salah” karena ditulis di bawah bimbingan Roh Kudus.

3. Dei Verbum (1965)

  • DV 8–10 → Kitab Suci harus dibaca dalam terang Tradisi.
  • DV 11 → Semua kitab, termasuk Deuterokanonika, sungguh diilhami Allah.
  • DV 21 → Kitab Suci adalah jiwa teologi.

Bagian 7: Mengapa Disebut “Harta Tersembunyi”?

Banyak umat Katolik tidak akrab dengan Deuterokanonika karena jarang dibaca secara pribadi. Padahal, isinya penuh dengan doa, kebijaksanaan, dan kisah iman yang relevan dengan hidup sekarang.

Contohnya:

  • Kisah Yudit yang berani melawan penindasan bisa menginspirasi kaum perempuan.
  • Doa dalam Barukh mengajarkan pertobatan sejati.
  • Sirakh memberi nasihat tentang persahabatan, keluarga, dan etika kerja.

Dengan mengenal Deuterokanonika, iman Katolik semakin kaya dan utuh.


Bagian 8: Relevansi untuk Zaman Sekarang

Kitab Deuterokanonika tetap relevan, misalnya:

  • Tobit → tentang keluarga yang setia, cocok untuk pastoral keluarga.
  • Makabe → tentang iman yang teguh dalam penderitaan, relevan bagi umat yang menghadapi diskriminasi.
  • Kebijaksanaan → mengajarkan nilai hidup abadi, penting di tengah krisis moral modern.

Bagian 9: Tantangan dan Tugas Kita

Sebagai umat Katolik, kita perlu:

  1. Membaca kitab Deuterokanonika dengan tekun.
  2. Menggunakannya dalam doa dan refleksi.
  3. Memahami ajaran Gereja yang bersumber dari kitab-kitab ini.
  4. Menerapkannya dalam kehidupan nyata: keluarga, masyarakat, dan pelayanan.

Bagian 10: Kesimpulan

Kitab Deuterokanonika adalah bagian penting dari Kitab Suci Katolik.

  • Ditegaskan dalam Konsili Gereja sejak abad ke-4.
  • Dikonfirmasi kembali dalam Konsili Trente.
  • Dijelaskan dalam Katekismus dan Dei Verbum.

Meskipun tidak diakui oleh semua tradisi Kristen, bagi Gereja Katolik kitab-kitab ini adalah firman Allah yang diilhami, yang memperkaya iman, doa, dan ajaran.

Dengan membaca Deuterokanonika, kita menemukan harta tersembunyi dalam Kitab Suci: doa yang indah, teladan iman, kebijaksanaan hidup, dan dasar ajaran Gereja.

Bagikan

Post your Comment About This Product

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *