
Mengenal agama lain merupakan salah satu hal yang baik untuk perkembangan dalam hidup bermasyarakat, terlebih di Indonesia yang masyarakatnya majemuk dan memiliki agama dan kepercayaan yang beragam. Dalam hal ini, penulis sebagai mahasiswa non Muslim mulai belajar mengenal lebih dalam mengenai agama Islam. Belajar agama Islam tidak lepas dari belajar mengenal apa itu Al-Quran. Hal ini sangat menarik bagi penulis karena banyak pengalaman dan banyak cerita mengenai bagaimana membaca Al-Quran itu sendiri.
Sebelum orang mempelajari Al-Quran, tentunya ia belajar membaca Al-Quran itu sendiri. Dalam hal membaca, penulis menemukan beberapa pengalaman menarik dari rekan-rekan penulis (beragama Muslim) yang membagikan pengalaman mereka. Selama mereka membaca, muncul perasaan-perasaan yang menyejukkan bahkan mereka sampai menangis. Bahkan mereka heran kenapa mereka bisa menangis karena membaca Al-Quran. Mereka tidak begitu memahami bahasa Arab yang dipakai dalam Al-Quran, tetapi mereka merasakan ada sesuatu yang menyentuh hati mereka. Oleh karena pengalaman mereka inilah, penulis tertarik untuk mempelajari bagaimana membaca Al-Quran itu sendiri. Di samping itu, penulis menemukan sebuah buku yang menarik bagi penulis untuk dikaji dalam rangka mengenal dan mengetahui proses bagaimana membaca Al-Quran. Buku itu berjudul โNikmatnya Menangis bersama Al-Quranโ karya Muhammad Syauman Ar-Ramli, dkk. secara ringkas, dapat dikatakan bahwa buku ini merupakan buku yang tepat bagi pemula seperti penulis untuk mengenal Al-Quran. Buku ini dibagi menjadi dua bagian utama, yakni: Nikmatnya Membaca Al-Quran dan Air Mata Pembaca Al-Quran.
Dalam penulisan review ini, penulis akan memaparkan permasalahan yang ada dalam diri penulis dalam membaca buku ini dan membahasnya dengan melihat bagaimana buku ini memberikan paparan secara ilmiah. Buku ini merupakan buku yang reflektif, oleh karena itu, penulis juga akan memberikan beberapa refleksi penulis untuk belajar mengenal kekayaan agama lain.
Permasalahan
Dari Pengantar di atas, maka penulis memfokuskan tulisan ini pada:
- Bagaimana cara membaca Al-Quran bagi pemula supaya dapat memahami isi dan maknanya secara mendalam?
- Mengapa Orang bisa menangis pada saat membaca Al-Quran?
Pembahasan
Untuk mengenal Al-Quran, pertama-tama kita perlu mengenal apa itu Al-Quran. Al-Quran adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Rasulullah dan membacanya adalah ibadah.[1] Berdasarkan namanya, Al-Quran adalah Az-Zikir, Al-Furqan, dan Al-Kitab. Berdasarkan sifatnya, Al-Quran memiliki beberapa sifat yakni: Al-Huda (petunjuk), An-Nur (cahaya), Asy-Syiffa (yang menyembuhkan), Ar-Rahman , dan Adh-Dhiya (sinar).[2] Lebih dalam lagi, untuk mengenal Al-Quran, kita perlu melihat keutamaan membaca dan menghafal Al-Quran. Dalam hal ini, Penulis buku memaparkan beberapa ayat dengan tema sesuai dengan ayat tersebut, yakni: Perniagaan yang tidak akan rugi (dalam bagian ini dijelaskan bagaimana orang yang membaca Al-Quran, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki, mereka tidak akan mendapatkan kekurangan karena Allah menyempurnakan kepada mereka pahala dan menambahkan karunia-Nya), menjadi yang terbaik (hal yang terbaik adalah belajar Al-Quran dan mengajarkannya), bersama malaikat pembawa kitab yang mulia dan baik (orang yang membaca Al-Quran dan ia pandai maka ia bersama malaikat pembawa kitab yang mulia dan baik, dan jika orang terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapat dua pahala), seumpama buah utrujah yang wangi dan lezat (orang yang membaca Al-Quran seperti buah utrujah, ia wangi dan lezat), derajat yang tinggi di sisi Allah (Allah mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkannya melalui Al-Quran), mendapat syafaat di hari kiamat, boleh dengki pada orang yang membaca Al-Quran, mendapat kebaikan berlipat ganda (orang yang membaca satu huruf dari Kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya), tidak membaca Al-Quran sama dengan rumah yang runtuh, memperoleh tingkatan surga yang tinggi.[3]
Untuk memahami Al-Quran seorang muslim memulai dengan membaca Al-Quran. Dalam hal ini perlu dibedakan antara anak kecil dan orang dewasa. Anak kecil lebih diutamakan untuk menghafal Al-Quran. Untuk orang dewasa, ia belajar hal-hal yang memperbaiki shalatnya dan itu wajib. Kemudian, dilanjutkan dengan ilmu yang diwajibkan seperti hukum-hukum dalam shalat dan cakupannya, puasa, zakat, dan haji. Batasan minimal yang wajib dipelajari seorang muslim adalah mempelajari Fatihatul kitab (Alatihah) ditambah dua surat Al-Quran. Menghafal Al-Quran juga diutamakan bagi seseorang yang hendak mendalami ilmu ushul dan furu karena ia adalah fondasi ilmu-ilmu Din (Islam). Hal ini berbeda dengan yang dilakukan para pelaku Bidโah. mereka sibuk dengan ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat dan berlarut-larut dalam hadits-hadits asing yang tidak bisa dijadikan sandaran dan tidak banyak bermanfaat. Mereka sibuk dengan kegiatan yang mengabaikannya untuk menghafal Al-Quran. Kewajiban seorang muslim adalah belajar dari ilmu Al-Quran yang mendukung tegaknya shalat, dan belajar ilmu yang diwajibkan baginya. Setelah itu, baru melihat kemampuannya; apakah kemudian ia belajar ilmu bacaan Al-Quran, memperbaiki bacaan, atau bersungguh-sungguh menghafalnya. Kemudian dilanjutkan dengan mempelajari tafsir, hadits, dan fikih. Untuk membedakan antara seorang alim dan seseorang hafiz, bisa dilihat dari pengaruh ilmu dan Al-Quran padanya.[4]
Tadabur adalah memikirkan dan memikirkan ayat-ayat Al-Quran secara mendalam dengan tujuan memahami dan mengerti makna-maknanya, hikmah yang terkandung di dalamnya, serta maksud yang diinginkannya. Di antara tanda-tandanya ialah bersatunya hati dan pikiran ketika membaca Al-Quran, menangis karena takut kepada Allah, semakin bertambah khusyuk, percaya, senang, bahagia, dan gemetar karena takut kepada Allah hingga kemudian rajaโ (pengharapan), ketenangan, dan sujud sebagai bentuk pengagungan kepadaNya mendominasi seorang hamba. Semua itu dijelaskan dalam nash-nash syarโi. Menadaburi Al-Quran tidak boleh ditinggalkan dengan alasan memahami Al-Quran itu sulit.
Mempelajari Al-Quran bisa juga dengan membacanya berulang-ulang. Mempelajari ilmu terus menerus karena ilmu akan terasa hidup dengan dipelajari. Al-Quran sangat mudah lepas dari hati sehingga harus senantiasa dijaga. Ada banyak atsar (perkataan sahabat) yang menunjukkan bahwa para sahabat membuat hizb (bagian-bagian dalam Al-Quran) danmereka komitmen dalam membaca dan menadaburi ayat-ayat yang sudah dikelompokkan. Mereka akan meng-qadhaโnya bila tidak menunaikannya pada waktunya. Ini merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kesuksesan dalam menadaburi Al-Quran, bahkan sudah teruji dan terbukti ampuh dalam berinteraksi dengan urusan-urusan duniawi. Nabi melawang umatnya mengkhatamkan Al-Quran dalam jangka waktu kurang dari tiga hari. Namun, beliau juga tidak suka jika umatnya meninggalkan Al-Quran dan tidak membacanya sama sekali. Menurut Imam Nawawi, sebagian besar kaum salaf mengkhatamkan Al-Quran dalam waktu tujuh hari. Menurut As-Suyuthi, mengkhatamkan Al-Quran dalam tujuh hari merupakan perkara yang baik dan pertengahan. Hal ini dilakukan sebagian besar sahabat dan selain mereka (tabiโin).[5]
Sebuah pergumulan penulis tidak lain adalah mengapa orang Islam harus memahami Al-Quran, di mana Al-Quran itu berbahasa Arab yang bukan merupakan bahasa ibu, dan tentunya akan sulit untuk dilakukan. Dalam buku ini dijelaskan bagaimana memahami Al-Quran adalah bahasan terpenting yang seyogianya ditekuni karena beberapa hal, yakni: Al-Quran adalah inti dari segala kaidah yang ada dan kunci dasar agama, tidak paham Al-Quran berarti kehilangan dan dicabutnya ilmu, mendapatkan balasan dan pahala yang besar ketika memahami dan menadaburi Al-Quran, memahami Al-Quran dengan baik akan membuahkan kelembutan dan kesatuan hati, Allah menimpakan bala kepada orang yang berpaling dari belajar dan memahami Al-Quran.[6]
Bagian kedua dari buku ini adalah air mata pembaca Al-Quran. Dalam bagian ini, faktor tangisan Qurraโ para pembaca dapat diketahui dalam dua penyebab, yakni Pertama, kekhusyukan dan ketundukan yang โdiciptakanโ oleh Al-Quran bagi mereka karena pemahaman mereka terhadap isinya. Jika mereka membaca Al-Quran dengan sebenar-benarnya atau mendengarnya dengan hati yang memandang dan telinga yang terpasang, sungguh semua itu akan membuahkan sensitivitas hati dan tetesan air mata. Kedua, ย perkara yang terpisah dari bacaan. Hal ini disinyalir oleh Nabi dalam sabda beliau. Dalam hal ini, orang yang membaca Al-Quran khawatir jika termasuk dalam golongan orang-orang munafik, dan selalu menjaga diri agar tidak terperosok ke dalam golongan orang-orang yang binasa. Rasa khawatir terhadap kemunafikan benar-benar membuat orang-orang yang memiliki hati bersih menangis. Karena mereka yakin bahwa tempat kembali orang-orang munafik adalah hukuman di akhirat.[7]
Pada bagian berikutnya, penulis memaparkan bagaimana keagungan Al-Quran dan ketinggian sifat-sifatnya. Al-Quran Al-Karim adalah Kallam Allah. Ia datang dari-Nya. Ini adalah akidah orang Islam. Oleh karena itu, Al-Quran adalah kalam yang paling agung dan paling mulia secara mutlak. Di dalam menyifatinya, Allah berfirman setelah bersumpah dengan sumpah yang agung. Al-Quran mengandung ilmu orang-orang terdahulu dan ilmu orang-orang yang akan datang, mengandung kesempurnaan fashahah (fasih), pilihan kata yang paling tepat, dan mengandung makna yang luas dan yang terindah. Ini semua menuntut kesempurnaan dan kesegeraan di dalam mengikuti dan menaatinya, juga di dalam bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya berupa Al-Quran ini. Makna โyang memiliki zikirโ adalah yang memiliki kemuliaan kedudukan, dan posisi yang tak dapat digapai. โyang memiliki zikirโ juga berarti memiliki peringatan bagi semua hamba atas berbagai perkara yang bermanfaat bagi kehidupan dan akhirat mereka. Makna yang lain, Al-Quran memiliki reputasi bagi sekalian hamba. Barang siapa mengikutinya dan menjadikannya sebagai petunjuk, niscaya akan mendapatkan reputasi, kemuliaan, dan nama baik. Allah juga menyifati Al-Quran dengan sifat ihkam (tertib), tasyabuh (mirip antara satu ayat dengan ayat yang lain), berkah, dan hidayah. Selain itu, Allah juga menamai Al-Quran dengan Nur (cahaya) dan Ruh (spirit atau nyawa), di samping nama-nama dan sifat-sifat lainnya.[8]
Pada bagian selanjutnya dalam buku ini ada pembahasan mengenai Mentadaburi Al-Quran kunci segala kebaikan. Allah telah memerintahkan mentadaburi Al-Quran dan memahaminya serta melarang berpaling darinya. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang hamba, Allah menghidupkan sepasang matanya yang ada di hatinya. Sebaliknya jika Allah menghendaki selain itu, Dia membutakan keduanya. Allah juga menegaskan bahwa tujuan diturunkannya Al-Quran adalah untuk ditadaburi dan diambil pelajarannya. Kebaikannya tidak akan lenyap, faedahnya tidak hilang, dan berkahnya tidak ada habis-habisnya. Selama seorang hamba mentadaburi Al-Quran, selama itu pula dia dapat mengambil manfaat, dan ilmunya terus bertambah dan berkembang. Apabila seseorang membaca Al-Quran dengan tafakur, lalu melewati ayat yang dia butuhkan untuk mengobati penyakit hatinya, pasti dia akan mengulang-ulangnya lebih dari seratus kali, meskipun dihabiskannya waktu semalaman. Membaca satu ayat dengan memikirkannya dan memahaminya lebih baik daripada membaca seluruh ayat sampai khatam tanpa mentadabburinya dan memahaminya. Hal ini lebih bermanfaat bagi hati dan lebih bisa diharapkan menambah keimanan dan membuat pembacanya dapat mengecap manisnya Al-Quran. Membaca Al-Quran dengan tafakur adalah pangkal sehatnya hati.[9]
Pada pembahasan mengenai pujian bagi orang-orang yang menangis ketika berinteraksi dengan Al-Quran, bagian ini menjelaskan bagaimana kedalaman sisi keimanan orang yang membaca Al-Quran. Ibnu Saโdi berkata, โMakna โmaka mereka menyungkur sujud dan menangisโ adalah mereka tunduk dan khusyuk kepada ayat-ayat Allah. Ayat-ayat itu mengukirkan iman, pengharapan, dan kekhawatiran di dalam hati mereka; yang membuat mereka menangis, berinabah, dan bersujud kepada Rabb mereka.โ[10]
Pada bagian selanjutnya sampai akhir buku ini, penulis dapat merangkumnya dengan sebuah refleksi dari pandangan penulis, yakni bagaimana orang yang membaca Al-Quran memiliki gerakan rasa dan memiliki ketakutan akan Allah. Hal ini juga ditunjukkan oleh penulis buku melalui pembahasan kekhawatiran para shalaf terhadap kemunafikan, tangis para nabi dan para pengikut mereka, tangis Nabi Muhammad, tangis para sahabat, dan tangis para tabiโin. Pada bagian-bagian ini ditampilkan ayat-ayat yang menunjukkan bagaimana Al-Quran memiliki daya yang sangat menyentuh hati manusia akan kedekatan dengan Allah. Rasa takut akan Allah menjadi satu pegangan atau prinsip tersendiri yang menyentuh hati manusia untuk tidak berbuat hal-hal yang tidak baik dan bagaimana kedekatan hubungan antara Allah dengan manusia itu sangat dekat.
Penutup
Secara umum, penulis bersyukur dapat mengenal dan mulai memahami apa yang menjadi pertanyaan penulis selama ini. Untuk cara membaca Al-Quran bagi pemula supaya dapat memahami isi dan maknanya secara mendalam, orang harus membaca Al-Quran tidak dengan tergesa-gesa melainkan melalui ketenangan dan tidak tergesa-gesa. Hal ini dapat dilihat dalam pembagian bagaimana cara membaca Al-Quran. Untuk anak-anak dimulai dengan membaca dan menghafalnya, dan untuk orang dewasa tidak hanya membaca dan menghafal tapi dengan melakukannya dalam shalat. Hal yang ditangkap oleh penulis dalam pemahaman ini adalah bagaimana seorang pemula (seperti penulis) jika ingin lebih mengenal, tentunya harus bisa membaca dan memahami ayat-ayat dalam Al-Quran. Dengan bisa memahami satu persatu, tentunya hal ini akan membantu orang yang membaca Al-Quran itu untuk lebih mengenal lebih dekat hubungan manusia dengan Sang Khaliq.
Pada saat orang membaca Al-Quran, orang bisa menangis. Hal ini disebabkan oleh percikan rasa yang keluar dari bacaan Al-Quran itu sendiri. Dengan membaca Al-Quran dan dengan mendekatkan diri pada Allah, orang dapat merasakan rasa takut akan Allah. Rasa takut akan Allah inilah yang mengarahkan manusia untuk dapat melakukan hal-hal yang baik dan sesuai dengan apa yang ada di Al-Quran. Al-Quran merupakan petunjuk sekaligus pencerah dan prinsip hidup. Menangis karena membaca Al-Quran itu berarti kedekatan dengan Allah itu sangat dekat dan ada ketakutan untuk jatuh dalam dosa.
Dalam Kajian Antar Iman yang ditempuh oleh penulis, mereview buku ini adalah kesempatan yang berharga untuk mengenal bagaimana manusia mengenal Allah yang merupakan pemberi hidup. Manusia beroleh hidup dan Kitab Suci yang merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada manusia benar-benar membentuk manusia menjadi manusia yang sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini dapat dikatakan sebagai kedekatan manusia dengan Allah. Dalam setiap agama tentunya memiliki Kitab Suci yang dipegang, akan tetapi dalam percikan rasa yang dialami oleh pembaca Kitab Suci, penulis banyak belajar dari saudara-saudara Muslim di mana mereka dapat memahami ayat demi ayat yang membentuk mereka untuk dapat lebih dekat dengan Allah. Ekspresi iman inilah yang mencerminkan kedekatan manusia dengan Allah, dan hal ini dapat menjadi gambaran bagaimana mendekatkan diri dengan Allah dan bagaimana ketakutan akan Allah itu merupakan salah satu hal yang membuat manusia dapat hidup baik dalam kehidupan bernegara yang memiliki kekayaan dan keragaman agama di Indonesia.
Daftar Pustaka
Ar-Ramli, Muhammad Syauman, dkk. 2015. Nikmatnya Menangis Bersama Al-Quran. Istanbul: Jakarta.
[1] Muhammad Syauman Ar-Ramli, dkk. 2015. Nikmatnya Menangis Bersama Al-Quran. Istanbul: Jakarta. Hlm. 17.
[2] Ibid.
[3] Bdk. Ibid. Hlm. 18-21.
[4] Ibid. Hlm. 42-45.
[5] Ibid. Hlm. 62-63.
[6] Ibid. Hlm. 86-87.
[7] Ibid. Hlm. 121-122.
[8] Ibid. Hlm. 131,134-135.
[9] Ibid. Hlm. 141-143.
[10] Ibid. Hlm. 149-150.