permasalahan “mendengar” dan “pembacaan”

Pada saat kita mengikuti Perayaan Ekaristi, terutama dalam Litugi Sabda, Imam atau Pemimpin mengajak kita untuk โ€˜mendengarkan Sabda Tuhanโ€™. Apa arti mendengarkan Sabda Tuhan?

 

Mendengar Sabda Tuhan tidak lain adalah kita mendengarkan Sabda yang dibacakan oleh pembaca bacaan (lektor). Bila kita mendengarkan Sabda Tuhan, itu berarti bahwa kita tidak membaca teks misa lagi. Hal ini diandaikan bahwa umat sudah membaca bacaan hari yang bersangkutan. bacaan sudah tersedia di teks misa, atau bisa melihat penanggalan di kalender liturgi di tahun yang bersangkutan.

Persoalan Kedua ialah perkataan dari sang pembaca bacaan, yakni โ€œpembacaan diambil dari, pembacaan dari,โ€ฆโ€ hal ini yang mungkin masih banyak dilakukan oleh umat, dan mungkin sudah disosialisasikan pada umat, akan tetapi kita akui bahwa mengubah kebiasaan memang susah. Akan tetapi masih belum ada kata terlambat untuk berubah. Mungkin dengan memahami pemaknaannya, kita bisa memahami dan menghayati kata-kata ini.

Pembacaan diambil dariโ€ฆ hal ini berarti bahwa sang pembaca mengatakan bahwa ini adalah suatu โ€œpembacaanโ€ atau kata-kata yang keluar dari orang lain. sedangkan yang dibaca oleh pembaca (lektor) itu adalah sebuah bacaan Kitab Suci.. (apakah ini sesuai?)

Bila pembaca bacaan (lektor) mengatakan โ€œbacaan dariโ€ atau โ€œPembacaan kitab/suratโ€ (tanpa dari) berarti pembaca membacakan sebuah bacaan dari kitab suci. nah.. hal inilah yang benar.

jadi.. bila kita sedang bertugas sebagai pembaca bacaan, mari kita bacakan bacaan kitab suci dengan mengatakan โ€œbacaan dari kitab (surat)โ€ฆโ€ agarkita bisa lebih nyaman dalam berliturgi sabda.

Berkah dalem

Bagikan

Post your Comment About This Product

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *