Twin brothers launch online platform to “give a voice” to Eastern Christians

Twin brothers launch online platform to “give a voice” to Eastern Christians

Misionaris digital Charbel dan Giovanni menggunakan media sosial untuk berbagi budaya dan tradisi umat Kristen di Timur Tengah di tengah penganiayaan.
Oleh Kielce Gussie

Di antara ribuan anak muda yang telah memulai perjalanan dari seluruh penjuru dunia untuk berpartisipasi dalam Yubileum Misionaris Digital dan Influencer Katolik serta Yubileum Pemuda minggu ini, terdapat saudara kembar dari Lebanon: Charbel dan Giovanni Lteif.

Dengan lebih dari 600.000 pengikut di akun Instagram mereka โ€œeastern_christiansโ€, kedua bersaudara ini mendedikasikan halaman mereka untuk berbagi informasi tentang umat Kristen yang tinggal di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Alih-alih memandang diri mereka sebagai influencer, mereka menggambarkan pekerjaan mereka sebagai kelanjutan dari misi yang telah berusia berabad-abad.

Melanjutkan misi yang telah berusia 2.000 tahun

Berbicara kepada Joseph Tulloch dari Vatican News, Giovanni menjelaskan bahwa misi mereka dimulai dua milenium lalu bersama Yesus. โ€œKami telah melanjutkannya karena merupakan tanggung jawab setiap generasi untuk meneruskannya, memperkuatnya, dan mewariskannya.โ€ Ia menekankan bahwa โ€œinilah saatnya generasi kita untuk berkontribusi bagi iman dan komunitas kita.โ€

โ€œKetika Anda lahir sebagai seorang Kristen di Timur Tengah,โ€ lanjut Charbel, โ€œAnda lahir dengan sebuah misi.โ€ Ia berbagi bahwa budaya, identitas, dan tradisi mereka telah diwariskan turun-temurun sejak masa Kristen awal, dan kedua bersaudara ini merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga โ€œkarunia indah iniโ€ tetap berlanjut.

Dan keduanya menyadari tugas ini jauh melampaui Timur Tengah tetapi hingga ke ujung bumiโ€”dan media sosial telah memungkinkan hal itu.

Kita lebih

Di era TikTok, reels, dan like, Charbel dan Giovanni menekankan bahwa akun โ€œeastern_christiansโ€ mereka bukan sekadar halaman media sosial. โ€œIni adalah cara terbaik untuk menyebarkan berita, menjangkau orang-orang, dan meningkatkan kesadaran,โ€ Giovanni menjelaskan.

Motivasi di balik akun mereka bukan hanya untuk menambah informasi ke dunia yang penuh dengan berita dan data. Sebagaimana dijelaskan Charbel, ini adalah kesempatan untuk mengubah narasi dan beralih dari pasif menjadi aktif, dari hanya membicarakan apa yang sedang dilakukan terhadap umat Kristen Timur menjadi menceritakan kembali siapa mereka.

โ€œKami lebih dari sekadar apa yang sedang dilakukan terhadap kami. Kami adalah seni. Kami adalah musik. Kami adalah iman. Kami adalah ketahanan,โ€ tegasnya. Melalui unggahan mereka, para bruder ini mampu โ€œmenciptakan suara bagi umat kamiโ€ di tengah penganiayaan dan tantangan modern.

Tidak seperti sebelumnya

Selama beberapa dekade, kehidupan umat Kristen di Timur Tengah telah dipenuhi kesulitan. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa pada abad terakhir persentase umat Kristen di wilayah tersebut turun dari 13,6% menjadi 4,2%. โ€œIni pertama kalinya dalam sejarah kami dan ini terjadi saat kami masih hidup saat ini,โ€ tegas Charbel, seraya mengatakan bahwa memang ada periode penganiayaan lain tetapi tidak seperti saat ini.

Solusinya, lanjutnya, adalah tidak meninggalkan tanah air mereka. โ€œKami tidak ingin melarikan diri dari sesuatu yang telah kami perjuangkan selama dua ribu tahun. Itu identitas kami; itu rumah kamiโ€ฆ Ini bukan solusi bagi kami.โ€ Charbel menjelaskan bahwa solusi yang mereka inginkan adalah hidup bahagia di Timur Tengah dengan bermartabat.

Menjangkau dunia melalui media sosial

Menjangkau 800.000 pengikut di seluruh platform media sosial merupakan sesuatu yang oleh para bruder dikaitkan dengan doa dan Roh Kudus. Namun, hal itu juga memampukan mereka untuk berbuat sesuatu bagi komunitas mereka, dunia, dan bagi umat Kristiani di mana pun.

Maka, berada di Roma untuk Yubileum Misionaris Digital dan Influencer Katolik terasa sangat istimewa bagi para pengguna Instagram ini. โ€œSaya rasa Vatikan sedang mencoba menyampaikan pesan kepada dunia betapa pentingnya bagi kita sebagai umat Katolik dan umat Kristiani untuk aktif di media sosial,โ€ ujar Charbel.

โ€œMedia sosial adalah alat yang sangat ampuh,โ€ Giovanni menegaskan, seraya menegaskan kembali bahwa para bruder memikul tanggung jawab besar dalam karya misi digital mereka. โ€œYang membuat kami terus maju dan teguh dalam apa yang kami lakukan hanyalah nilai-nilai Kristiani kami. Setelah Anda berpegang teguh pada nilai-nilai Kristiani Anda, tidak ada yang perlu ditakutkan.โ€

Artikel asli: vaticannews.va

Bagikan

Post your Comment About This Product

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *