Dalam surat dari Gaza ini, seorang perempuan muda yang mengungsi akibat pengeboman Israel dan kini berlindung di kompleks Gereja Keluarga Kudus di Kota Gaza, merenungkan bagaimana, terlepas dari rasa sakit dan ketakutan yang dialami komunitasnya setiap hari, iman mereka kepada Tuhan tetap menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi jalan gelap kami.
Oleh Helda Joseph Ayyad โ Mengungsi selama dua tahun di dalam kompleks Gereja Keluarga Kudus, Gaza
Setiap pagi di Gaza, matahari terbit bukan untuk menerangi rumah-rumah kami, melainkan untuk menyingkapkan lebih banyak jejak kehancuran dan keruntuhan setiap harinya, menjadi saksi bisu akan pahitnya kenyataan hidup kami.
Saya, Helda Joseph Ayyad, seorang perempuan muda berusia dua puluhan yang telah mengungsi selama dua tahun di dalam Gereja Keluarga Kudus, tak terbangun oleh kicauan burung atau hangatnya sinar matahari. Sebaliknya, saya terbangun oleh gemuruh tembakan yang mengguncang fondasi tempat berlindung kami, dan pecahan peluru yang memecah kesunyian fajar, menanamkan teror di hati kami. Di malam hari, saya tidak tertidur dalam mimpi yang damai, melainkan oleh bau mesiu yang menyesakkan, sebuah pengingat mematikan bahwa maut mengintai di setiap sudut dan bahwa hidup telah menjadi pertempuran sehari-hari untuk bertahan hidup secara spiritual.
Di sini, di surga spiritual yang telah menjadi rumah sementara kami, makna hidup yang normal memudar. Saya teringat adik laki-laki saya, yang kepolosannya belum ternoda oleh perang, menghitung makanan kaleng yang telah menjadi satu-satunya teman makan kami, bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian kami. Kami bersyukur kepada Tuhan atas makanan kaleng ini, atas berapa kali kami telah dikepung, dan lima orang (keluarga saya) berbagi sekaleng kacang, yang bagi kami terasa seperti berkah dari surga. Seringkali, satu-satunya makanan kita dalam sehari, jika ada, hanya cukup untuk mencegah kelaparan, hampir tidak cukup untuk memberi makan tubuh kita yang lemah, tetapi tetap membuat kita tetap hidup dengan susah payah.
Ketika suara tembakan dan pecahan peluru bergema, napas kita tercekat di tenggorokan, dan kita mendapati diri kita terbaring di tanah, berpegang teguh pada harapan palsu bahwa situasi akan tenang sejenak. Kita menunggu, mengulang-ulang ayat-ayat Tuhan dalam hati, berharap ada saat-saat hening di mana kita dapat mencari sepotong makanan untuk berbuka puasa, sepotong roti untuk meredakan rasa lapar yang menggerogoti perut kita. Setelah udara tenang, kita mulai membersihkan ruangan, yang dibagi untuk beberapa keluarga dan awalnya merupakan ruang kelas di sekolah yang terhubung dengan gereja. Ruangan ini, yang dulu menjadi saksi mimpi anak-anak, kini menjadi saksi ketangguhan rohani kita, air mata kita yang tertahan, dan dongeng pengantar tidur yang disela-sela suara bom.
Kemudian, kita turun ke kegiatan anak-anak dan berdoa, yang menjadi satu-satunya penghiburan kita. Di sini, Anda melihat hati yang menangis di depan mata. Anda melihat bagaimana wajah polos seorang anak berubah; begitu mendengar suara tembakan, mereka ketakutan, menutup telinga kecil mereka dengan tangan, atau bergegas bersembunyi dalam pelukan hangat orang tua mereka, seolah-olah itu adalah perisai melawan kejahatan dunia ini. Anda melihat ketakutan dan keheranan di mata mereka, pertanyaan-pertanyaan tak terucap yang berseru dalam keheningan yang menyakitkan: โMengapa, Tuhan? Mengapa kami?โ
Dan para lansiaโฆ Oh, para lansia!
Betapa pemandangan mereka telah membuat saya menangis, saat mereka meneteskan air mata kepedihan atas rumah mereka yang hilang dan kenangan seumur hidup yang lenyap dalam sekejap. Setiap sudut rumah itu menyimpan cerita, setiap perabot menjadi saksi suka maupun duka, dan kini tak tersisa selain debu dan abu. Banyak dari mereka telah mengalami penurunan kesehatan yang signifikan, dan kita telah kehilangan banyak dari merekaโsemoga Tuhan mengasihani merekaโbukan hanya karena tembakan, tetapi juga karena kekurangan pangan yang parah, menurunnya layanan kesehatan, dan tidak tersedianya obat-obatan. Mereka meninggalkan kami dalam diam, kelelahan dan kelaparan, meninggalkan kepedihan di hati kami yang tak kunjung pudar, dan jeritan bisu terhadap dunia yang menyaksikan kematian mereka yang perlahan.
Soal makanan kami, syukur kepada Tuhan dan uluran tangan kebaikan, gereja terkadang menyediakan makanan bagi kami. Di lain waktu, ibu saya memasak makanan apa pun yang tersedia, yang hampir tidak cukup untuk menopang hidup kami. Namun, makanan yang tersedia ini pun menjadi kemewahan mengingat kelangkaan sumber daya. Tidak ada cukup makanan; bahkan tepungโbahan pokok di setiap rumahโsering kali tidak bersih, dan jika tersedia, harganya selangit, seolah-olah kami membeli emas, bukan tepung. Setiap gigitan yang kami makan telah menjadi keajaiban tersendiri.
Terlepas dari semua rasa sakit yang mengoyak jiwa kami, dan semua keputusasaan yang menyelimuti kami, iman kami kepada Tuhan tetap menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi jalan gelap kami, memberi kami kekuatan untuk menjalani hari berikutnya. Kami berpegang teguh pada doa, mengangkat tangan memohon ke surga, percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kami dan bahwa setelah kesulitan datanglah kemudahan. โJika aku melupakanmu, Yerusalem, biarlah tangan kananku layuโโฆ sebuah ayat yang tak pernah lepas dari doa-doa kita, karena cinta kepada tanah air terukir di hati kita, kendati segala kehancuran.
Berita itu kita terima melalui beberapa perangkat kecil yang kita miliki atau melalui ponsel ketika jaringan tersedia. Kita mengikutinya dengan hati yang berdebar; setiap notifikasi membawa kemungkinan tragedi, dan setiap berita mungkin memberi tahu kita tentang kehilangan kerabat atau kehancuran jalan tempat kita dulu bermain. Kita tetap terhubung dengan dunia ini melalui sisa-sisa harapan kitaโฆ dan mata yang tak pernah tidur.
Di Gereja Keluarga Kudusโฆ kita hidup, kita bertahan melalui Tuhan, kita berdoa, dan kita menantikan pembebasan yang dekat dari Tuhan. Pembebasan yang akan mengakhiri mimpi buruk ini dan mengembalikan kepada kita kehidupan yang telah dicuri dari kita.
Meskipun listrik padam dan sumber daya terbatas, kami berusaha mengikuti berita dengan beberapa perangkat kecil yang kami miliki atau melalui ponsel ketika jaringan tersedia. Kami mengikuti dengan hati yang berdebar; setiap notifikasi membawa kemungkinan tragedi, dan setiap berita mungkin memberi tahu kami tentang kehilangan kerabat atau kehancuran jalan tempat kami dulu bermain. Kami tetap terhubung dengan dunia ini melalui sisa harapan kamiโฆ dan mata yang tak pernah tidur.
Di Gereja Keluarga Kudusโฆ kami hidup, kami bertahan melalui Tuhan, kami berdoa, dan kami menantikan pembebasan yang dekat dari Tuhan. Pembebasan yang akan mengakhiri mimpi buruk ini dan mengembalikan kepada kami kehidupan yang telah dicuri dari kami.
Artikel asli:
In this letter from Gaza, a young woman, displaced by Israeli bombings, who has found shelter in the compound of the Holy Family Church in Gaza City, reflects on how, despite the pain and fear her community is subjected to every day, their faith in God remains the only light that illuminates our dark paths.
ย