Dalam rangka memperingati Hari Nyerere—hari peringatan bagi warga Tanzania untuk menghormati Bapak Pendiri negara, Mwalimu Julius Kambarage Nyerere—pada 14 Oktober 2025, Uskup Agung Keuskupan Agung Dar es Salaam dan Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian untuk Konferensi Episkopal Tanzania (TEC) menyampaikan imbauan yang penuh semangat terkait meningkatnya kasus penghilangan paksa dan penculikan yang tidak dapat dijelaskan di seluruh negeri. Penculikan ini telah berlangsung di Tanzania selama dua tahun terakhir.
Angella Rwezaula – Kota Vatikan
Dalam Misa Kudus pada Hari Nyerere, Uskup Agung Jude Thaddaeus Ruwa’ichi mendesak Pemerintah Tanzania untuk menemukan solusi jangka panjang atas penculikan dan penghilangan paksa yang terus terjadi. Beliau menekankan bahwa setiap kehidupan adalah suci.
Mempromosikan kesejahteraan warga negara
Pada tanggal 13 Mei 2005, Paus Benediktus XVI menyatakan Julius Kambarage Nyerere sebagai Hamba Tuhan—menandai langkah pertama dalam proses menuju beatifikasi dan akhirnya kanonisasi menjadi orang suci.
Sebagian homili Uskup Agung Ruwa’ichi membahas pemilihan umum mendatang. Pemilihan umum akan diselenggarakan di Tanzania pada 29 Oktober 2025 untuk memilih presiden dan anggota Majelis Nasional.
“Pada Hari Mwalimu Nyerere, sembari kita mengenang Bapak Bangsa, kita juga merenungkan negara kita dan kesejahteraan seluruh rakyat Tanzania. Kita merenungkan sejarah negara kita dan isu-isu seputar pemilu mendatang. Wewenang pemerintah berasal dari rakyat, dan bertanggung jawab kepada mereka. Pemerintah memiliki kewajiban untuk memelihara dan memajukan kesejahteraan seluruh warga negara, tanpa diskriminasi apa pun,” ujar Uskup Agung Ruwa’ichi.

Atasi penghilangan paksa yang tak berkesudahan
Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Episkopal Tanzania, yang akan saya pimpin dalam memantau Pemilihan Umum 2025, sangat prihatin dengan penghilangan dan penculikan individu yang terus-menerus dan tak henti-hentinya. Penculikan ini tampaknya didalangi oleh kelompok-kelompok tertentu yang melakukan tindakan jahat di berbagai wilayah negara kita. Hal ini mengakibatkan hilangnya hak asasi manusia yang fundamental—terutama hak untuk hidup. Namun, kita tidak mendengar kecaman atau tindakan dari mereka yang bertanggung jawab melindungi nyawa rakyat Tanzania. Sudah lebih dari dua tahun sejak insiden-insiden ini meningkat, mendorong banyak rakyat Tanzania untuk bertanya: Mengapa para penculik ini tampak lebih berkuasa daripada badan dan otoritas keamanan yang bertugas menjaga keselamatan dan kesejahteraan kita?” keluh Uskup Agung.
Ia mendesak pemerintah untuk menjamin keselamatan hak hidup semua warga negara, menekankan bahwa pemilu mendatang hanya masuk akal jika pemimpin yang dipilih berkomitmen untuk melindungi dan membela kehidupan.
Jangan terpengaruh oleh ancaman atau suap
“Sehubungan dengan Pemilihan Umum yang akan datang, saya menghimbau seluruh warga negara untuk dibimbing oleh hati nurani yang tulus—hati nurani yang hidup, dipimpin oleh kebenaran, dan berlandaskan rasa takut akan Tuhan, martabat manusia, dan sejarah luhur bangsa kita. Buatlah keputusan yang menjunjung tinggi nilai-nilai ini—dengan mempertimbangkan rasa takut akan Tuhan dan martabat manusia sebagaimana tercermin dalam hati nurani Anda. Jangan terpengaruh oleh ancaman, suap, atau bentuk intimidasi apa pun. Saya mengimbau pemerintah dan mereka yang memiliki pendapat berbeda tentang isu-isu pemilu untuk berdialog, dengan menghormati hak-hak politik fundamental yang tercantum dalam Pasal 21, yang menjamin hak-hak ini bagi setiap warga negara,” tegas Prelatus Tanzania tersebut
Artikel Asli: