Dalam rangka memperingati Minggu Biasa ke-20, Jenny Kraska merenungkan tema, “Iman di dunia yang seperti api sampah”.
Oleh Jenny Kraska
Saat pertama kali mendengar bacaan Injil, perkataan Yesus mungkin terasa meresahkan: “Apakah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, melainkan pertentangan.” Kita mengenal Yesus sebagai Raja Damai, Dia yang datang untuk mendamaikan segala sesuatu dengan Bapa. Namun dalam bacaan Injil ini, Ia berbicara tentang api, perpecahan, dan pertikaian.
Kontradiksi yang tampak ini dapat membingungkan kita. Namun Kristus sendiri adalah tanda pertentangan, seperti yang dinubuatkan Simeon ketika bayi Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Kehidupan dan misi-Nya mengungkapkan kasih dan belas kasihan Allah, namun kebenaran dan kasih yang sama itu juga menghadapi dosa, kemunafikan, dan ketidakadilan. Injil menghibur mereka yang menderita tetapi juga menyengsarakan mereka yang merasa nyaman.
Mengikuti Kristus berarti ikut ambil bagian dalam misi-Nya, dan itu berarti kita juga terkadang akan menjadi tanda pertentangan. Panggilan kita untuk menjadi orang kudus dan menjadi saksi Injil tidak akan selalu disambut dengan tepuk tangan atau persetujuan. Kebenaran, bahkan ketika disampaikan dengan kasih, dapat memicu perlawanan. Ingatlah Santo Thomas More, yang teguh membela otoritas Gereja, meskipun tahu itu akan mengorbankan nyawanya. Atau Santo Oscar Romero, yang membela kaum miskin dan menyerukan keadilan justru memicu ancaman, perpecahan, dan akhirnya kemartiran. Kekudusan seringkali harus dibayar dengan harga yang mahal.
Perpecahan dalam konteks ini bukanlah tentang menumbuhkan permusuhan demi kepentingan diri sendiri. Sebaliknya, perpecahan adalah akibat yang tak terelakkan ketika terang Kristus bersinar ke dalam dunia yang masih diwarnai kegelapan. Sebagian orang akan menerima terang itu dengan sukacita; yang lain akan berpaling. Injil menantang kita untuk memilih antara penghiburan dan pertobatan, kepentingan pribadi dan kasih yang rela berkorban, kedamaian duniawi, atau kedamaian yang hanya dapat diberikan oleh Tuhan.
Bulan ini, dunia memperingati 80 tahun pengeboman Hiroshima dan Nagasaki – dua peristiwa yang mengakhiri kengerian Perang Dunia II namun meninggalkan luka yang mendalam bagi umat manusia. Peringatan-peringatan ini mengingatkan kita akan ketegangan yang digambarkan Yesus. Kerinduan manusia akan perdamaian bersifat universal, tetapi sejarah menunjukkan betapa seringnya kita berada jauh dari kedamaian yang ditawarkan Kristus. Senjata nuklir mengakhiri pertempuran, tetapi dengan pengorbanan yang mengerikan bagi kehidupan dan martabat manusia. Perpecahan antara visi Tuhan bagi umat manusia dan pilihan yang kita buat dalam ketakutan, kesombongan, atau balas dendam tetap terasa nyata dan menyakitkan.
Dalam mengenang Hiroshima dan Nagasaki, kita dipanggil bukan hanya untuk meratapi masa lalu, tetapi juga untuk kembali berkomitmen pada jalan damai Injil – kedamaian yang berakar pada kebenaran, keadilan, dan pertobatan hati. Kedamaian ini tidak naif atau rapuh; melainkan ditempa dalam api Roh Kudus; api yang sama yang dibicarakan Yesus dalam Injil ini. Kedamaian inilah yang menolak untuk berkompromi dengan kejahatan, bahkan ketika penolakan tersebut mendatangkan konflik atau penderitaan.
Semoga kita menerima panggilan kita sebagai murid untuk menjadi, seperti Kristus, tanda-tanda pertentangan – saksi kasih yang lebih kuat dari maut dan kedamaian yang tak dapat diberikan dunia.
Artikel asli:
As the Church marks the Twentieth Sunday in Ordinary Time, Jenny Kraska reflects on the theme, “Faith in a dumpster fire world”.